Anak merupakan tunas bangsa yang akan melanjutkan tongkat estapet dari orang tua, adat istiadat dan bahkan meneruskan perjuangan bangsa. bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki generasi yang banyak dan baik. Anak harus dijaga dan dididik menjadi insan yang mengerti akan kebenaran.

Anak bertumbuh melanjutkan peradaban bangsa, sehingga tercapai pengembangan dan pembangunan yang bangsa stabil, bangsa yang menghargai anak adalah bangsa yang memelihara generasi bangsa.

Di zaman modern ini kekerasan terhadap anak semakin meningkat, kekerasan dilakukan dengan berbagai motif. Memang miris melihat kekerasan terhadap anak yang terus-menerus melanda negeri, kekerasan seperti kecanduan yang susah untuk dihentikan. Kekerasan seolah-olah menjadi hal yang biasa dan menjadi hal wajar.

Dalam analisis yang saya perhatikan banyaknya kekerasan terhadap anak saat ini karena manusia yang semakin cuek terhadap budaya dan hakikatnya sebagai manusia sudah mulai pudar. Dalam artikel ini saya mengulas bagaimana kekerasan itu terjadi karena beberapa faktor.

Kemajuan Teknologi

Teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia dalam mengerjakan pekerjaannya. Teknologi pada hakikatnya baik dan menjadi bahan canggih dan modern yang kita miliki, namun tidak semua teknologi baik untuk kehidupan manusia  khususnya kepada anak.

Anak saat ini menjadi korban dengan berkembangnya teknologi, karena semua sudah serba instan. Cara anak dalam memaknai teknolgi akan mempengaruhi tingkah lakunya.

Dalam perkembangan Internet dan game yang menghantui anak-anak membawa mereka kepada alam kesadaran yang aneh-aneh. Anak banyak menhabiskan waktu untuk main game dan pengaruh lainnya. Anak menjadi manusia yang serba tahu dan ingi mempraktekkan apa yang dilihat, sehingga kekerasan terjadi di antara anak-anak itu sendiri.

Manusia digerogoti dengan sistem aplikasi yang ingin melampiaskan hasrat, sehingga melakukan hal-hal yang luar kesadaran. Manusia tergerus dengan apa yang ada dalam kemajuan teknologi, tanpa memperhatikan efek buruk dari teknologi itu sendiri.

Gaya Asuh Orang Tua

Keluarga adalah tempat yang nyaman untuk anak dalam keberlangsugnan hidupnya. orang tua adalah pelopor untuk mewujudkan itu kenyamanan itu, orang tua harus bisa menjadi pengasuh kepada ana-anaknya, namun saat ini orang tua banyak yang mencari pengasuh untuk mengasuh anaknya. Sehingga tidak sedikit kekerasan terjadi dilakukan oleh pengasuh anak itu sendiri.

Gaya orang tua zaman sekarang adalah memakai jasa orang untuk memberi makan, antar kesekolah yang bisanya numpang melahirkan, kalau mungkin akan dipakai jasa itu.

Pergaulan Anak

Lingkungan memengaruhi perilaku manusia 50 %. Dalam hal ini saya mau mengatakan bahwa pergaulan anak juga sangat berpengaruh pada kekerasan anak. Banyak anak yang dipengaruhi oleh lingkungan dalam tingkah lakunya melakukan kekerasan. Kekerasan terhadap anak tidak datang begitu saja tetapi ada niatan yang dilakukan dari pergaulannya untuk melakukan kekerasan terhadap anak.

Lingkungan Sekolah

Maraknya kekerasan di sekolah merupakan salah satu bentuk kegagalan komponen sekolah membentuk karakter siswa yang mendasar dari hati nurani. Komponen sekolah yang saya maksud adalah kepala sekolah, guru, komite sekolah dan orang tua serta siswa. Sebab, komponen ini menjadi lingkungan kehidupan di sekolah untuk siswa dan interaksi siswa sehari-hari bersama komponen.

Pembentukan karakter anak adalah dilakukan oleh komponen sekolah, tidak ada alasan komponen untuk tidak bertanggung jawab dalam pembentukan karakter siswa itu sendiri. Kelemahan selama ini adalah kurangnya sinergis di antara komponen sekolah untuk membentuk karakter anak.

Kita harus sadari bahwa komponen sekolah tidak bekerja dengan maksimal dalam pembentukan karakter siswa di mana orang tua sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak ada lagi waktu untuk menasihati dan mengajari anaknya, sehingga bisnis pendidikan semakin subur yaitu bimbingan dan les privat.

Guru yang hanya mengejar target mengajari tanpa menanamkan ajaran budi pekerti kepada siswa, apalagi dengan adanya sertifikasi guru, membuat guru hanya mengejar sertifikasi sehingga meninggalkan siswanya saat ujian sertifikasi dilaksanakan.

Kalau mau jujur masih banyak juga guru yang meninggalkan siswanya saat proses belajar, tetapi saya tidak menyalahkan semua pada gurunya tapi menurut saya masih ada guru yang seperti itu, ada juga guru yang melaksanakan tugasnya dengan baik.

Komite sekolah yang tidak berjalan efektif untuk memberi masukan dan bimbingan kepada sekolah untuk perbaikan di sekolah, terkadang komite sekolah hanya menumpang nama saja di sekolah tanpa ada gerakan yang membangun untuk perbaikan sekolah. Siswa yang semakin nakal melawan guru tidak mau diajari.

Dengan perkembangan teknologi, siswa semakin digurita oleh pesona teknologi yang penggunaan salah sehingga membentuk kepribadian yang instan tanpa didasari dedikasi yang kuat akan dirinya, mudah terpengaruh membuat siswa semakin cuek, mementingkan diri sendiri, tidak mau tahu kondisi sosial, mudah marah sehingga mengakibatkan kekerasan.

Menurut data saat ini, kekerasan terhadap anak terjadi secara luas di Indonesia: sebanyak 40 persen anak berusia 13-15 tahun melaporkan pernah diserang secara fisik sedikitnya satu kali dalam setahun, 26 persen melaporkan pernah mendapat hukuman fisik dari orang tua atau pengasuh di rumah.

Sebanyak 50 persen anak melaporkan di-bully di sekolah, 45 persen perempuan dan anak perempuan di Indonesia percaya bahwa suami/pasangan boleh memukul istri/pasangannya dalam situasi-situasi tertentu.

“Konsekuensi dari tidak mengatasi kekerasan terhadap anak di Indonesia sangat buruk. Anak yang menjadi korban kekerasan fisik, seksual dan emosional kerap menderita konsekuensi jangka panjang, termasuk kondisi fisik dan psikologis. Bahkan kita tahu bahwa banyak pelaku juga merupakan korban kekerasan saat mereka kanak-kanak."

Solusi

Dengan melihat semua kekerasan yang terjadi terhadap anak solusi untuk langkah stategis menurut saya adalah membentuk sistem pendidikan Kkeluarga terpadu yang dilakukan oleh Komite Perlindungan Anak Indonesia untuk seluruh keluarga Indonesia.

Langkah taktis yang digunakan menurut adalah mengadakan dialog yang melibatkan komponen pemerintah, masyarakat, guru, dan orang tua untuk membicarakan masalah dan membuat kesepakatan bersama untuk bisa menjaga dan mengawasi anak-anaknya.