Thinker
1 minggu lalu · 259 view · 4 min baca · Pendidikan 13857_34921.jpg
Unsplash/neonbrand

Sistem Pendidikan Kita Gagal, Kok Masih Dipertahankan?

Kualitas pendidikan selalu saja menjadi topik hangat untuk dibicarakan. Masalah ini selalu saja muncul dari tahun ke tahun tanpa adanya temuan solusi. 

Di Indonesia sendiri, kualitas pendidikan acap kali terdengar buruk ketika diperbincangkan. Memang, banyak topik kompleks yang mewarnai peliknya kualitas pendidikan di Indonesia.

Menurut data UNESCO (2000) tentang peringkat Index Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun.

Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999). Survei lainnya yang dilakukan oleh Political and Economic Risk Consultant mengatakan, kualitas pendidikan Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia.

Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah juga ditunjukan oleh Balitbang (2003) yang menunjukkan bahwa dari 146.052 Sekolah Dasar di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat kategori Primary Years Program

Dari 20.918 SMP di Indonesia, ternyata hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dala kategori The Middle Years Program (MYP). Dan dari 8.036 SMA, ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). 


Data ini sungguh dapat menjadi refleksi ulang terhadap apa yang sebenarnya terjadi dalam pendidikan kita. Ada banyak sekolah didirikan di penjuru negeri, namun mengapa hanya sedikit yang mempunyai kualitas mumpuni?

Nyatanya, masalah ini menjadi keprihatinan bagi kita semua. Tidak serta-merta pemerintah dapat disalahkan untuk menanggung masalah kualitas pendidikan. Mulai dari tenaga pendidik sampai siswanya sekalipun harus bisa menjadi agent of change dalam mengatasi topik kompleks ini.

Secara umum, pendidikan yang sukses adalah yang mampu membuat siswanya paling tidak menyentuh tiga aspek, yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Kognitif merupakan kemampuan yang menyangkut aktivitas otak dalam rangka mengembangkan kemampuan berpikir (rasio).

Sedangkan afektif merupakan aspek yang berkaitan dengan emosi dan nilai dan psikomotor adalah sesuatu yang berkaitan dengan ketrampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pembelajaran tertentu.

Ketiga aspek ini saling berkaitan satu sama lain. Dalam teorinya, baik kemampuan kognitif, afektif, maupun psikomotor harus mampu berjalan seiring dengan porsi yang sama, demi menciptakan siswa yang tidak hanya cerdas secara rasio, namun dalam emosi maupun tindakannya.

Nyatanya, dalam praktiknya, pendidikan Indonesia masih belum bisa menyentuh ketiga aspek tersebut secara keseluruhan. Ia masih banyak berkutat pada aspek pertama, yaitu kognitif. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana para pendidik kita menjejalkan siswanya beragam informasi yang harus mereka “hafal” bukan “pahami”.

Contohnya, dalam mata pembelajaran matematika dan ilmu alam lainnya, para siswa disuruh untuk mengetahui berbagai macam rumus dan doktrin matematis tanpa memahami untuk apa ia harus mempelajarinya dan kapan itu bisa diaplikasikan di dunia nyata.

Banyak yang mereka tahu, mulai dari pytaghoras sampai Natrium Clorida, namun tak paham untuk apa semua itu harus dipelajari. Sering kali hal ini terus diulang-ulang dari mulai lembaga pendidikan tingkat dasar sampai tingkat atas. Pembelajaran dengan metode ini amat wajar dapat ditemukan di sekolah-sekolah di penjuru negeri. 

Sering kali aspek afektif maupun psikomotor diabaikan dalam kurikulum pembelaran kita. Banyak mata pelajaran yang berisi ajaran moral, seperti agama dan pendidikan kewarganegaraaan, sering kali kalah saing dalam hal durasi dibandingkan mata pelajaran praktis, seperti matematika dan ilmu pengetahuan alam.

Di sini penulis tidak bermaksud untuk mengesampingkan mata pembelajaran yang lebih mempentingkan rasio dibanding rasa. Namun, setidaknya ada suatu keseimbangan yang harus disampaikan pendidik antara rasio dan emosi. Hal itu dapat terwujud dengan menambahkan pelajaran agama dan kewarganegaraan dalam instansi pendidikan.


Namun, meskipun pelajaran macam agama dan pendidikan kewarganegaraan sering kali belum mencapai hasil yang maksimal, setidaknya ada secercah harapan akan perkembangan moral siswa ke depannya. Meskipun pembelajaran agama yang dimaksud tidak hanya keluar dari mulut, namun ia harus menunjukkan substansinya dalam pengamalan moral sehari-hari.

Jika kita mau berkaca pada Jepang, para siswa kelas satu sampai tiga sekolah dasar, mereka tidak menerapkan kurikulum pembelajaran sebagaimana mestinya. Namun, pada jenjang tersebut, mereka diajarkan untuk membangun perilaku yang baik dan untuk mengembangkan karakter mereka.

Siswa kelas satu sampai tiga sekolah dasar diajarkan untuk dapat menghormati orang lain dan belajar menjadi jujur dan mempunyai empati yang tinggi. Selain itu, mereka juga diajarkan untk mengembangkan rasa ingin tahu, dengan jalan peka terhadap lingkungan dan memiliki minat yang tinggi pada sekitarnya.

Harus Ada Perubahan

Agaknya Indonesia harus segera mencontoh pendidikan ala negeri matahari terbit itu. Dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas dan berbudi pekerti, kualitas pendidikan kita sudah lama gagal perihal menciptakan produk tersebut. Hal ini dapat dibuktikan dengan maraknya politisi kita yang kepinteren dalam memanfaatkan akalnya.

Mereka sebenarnya mempunyai potensi yang tinggi, namun tentu saja itu terkadang tertutup oleh rasa malas dan pundi-pundi fulus yang menggunung. Menurut data Indonesian Corruption Watch (ICW) pada semester 1 tahun 2018, terdapat 139 kasus korupsi dengan 351 orang ditetapkan sebagai tersangka.

Data yang diungkapkan oleh ICW di atas dapat menjadi refleksi kita bahwa sistem pembelajaran yang menekankan pada aspek kognitif saja tidak menghasilkan generasi penerus yang baik ke depannya, atau lebih jelasnya:

“Otak saja tidak cukup untuk menghasilkan siswa yang cerdas juga baik, ia harus diselingi rasa dan tindakan yang benar pula.”

Artikel Terkait