Jika kita mendapatkan suatu tugas, memang rasanya terkadang menyenangkan. Akan tetapi, kembali lagi ke mood kita pada saat itu. 

Tugas itu memang suatu kewajiban bagi kita. Tidak hanya anak sekolah atau kuliah, setiap orang pasti pernah mendapatkan tugas dalam hidupnya. Guru, dosen, buruh, pegawai, karyawan, manajer, kuli bangunan sampai pejabat dan wakil rakyat pun pasti pernah diberikan suatu tugas. 

Jika kita melihat konteks setiap tugas yang diberikan, ya memang beda. Namun, ada satu hal yang sama jika kita bandingkan setiap tugas yang dimiliki oleh setiap profesi.

Benar sekali, cara pengerjaannya.

Sebelum membahas itu, saya pernah mengalami hal mengesankan dalam pengerjaan tugas. Pada saat saya masih duduk di bangku SMA tepatnya jurusan ilmu pengetahuan alam. 

Pastinya bukan saya saja, kita semua sering kali diberikan tugas pada masa itu, saya pernah diberikan tugas yang menurut saya lumayan berat dan menantang, yaitu membuat teropong monocular. Tugas tersebut diberikan oleh guru fisika saya dengan tenggat waktu yang dimusyawarahkan. Kami sekelas sepakat dengan tenggat waktu selama satu bulan dalam mengerjakan teropong tersebut.

Deadline yang cukup lama sangat menggiurkan saya untuk bermalas-malasan dan menunda saya untuk mengerjakan tugas tersebut. Hari demi hari saya lewati, dua puluh hari lagi tugas tersebut dikumpulkan, tidak satu pun bagian teropong saya mulai rancang. 

Beberapa teman saya sudah mulai merancang jarak antarlensa yang harus dipasang supaya lensa tersebut terlihat jernih dan fokus. Ada juga beberapa teman saya yang sama seperti saya, belum mulai merancang apapun. Inilah salah satu faktor penggoda dan “bisikan setan” bagi saya untuk tidak memulai pengerjaan tugas tersebut.

Dua minggu lagi tugas tersebut harus dikumpulkan. Niat saya untuk mengerjakan tugas itu baru muncul, tetapi belum maksimal. Jika dibandingkan dengan angka, ya masih sekitar 25 persen. Sebagian teman saya sudah selesai membuat rancangan teropong dan tinggal menyelesaikan tahapan finishing

Hal itu terkadang membuat saya merasa khawatir atau bahasa yang lagi ngetren insecure. Namun, teman-teman yang saya juluki dengan “bisikan setan” membuat rasa khawatir saya mereda.

Pada saat itu, rasanya waktu berjalan seperti balapan MotoGP. Benar, cepat sekali. Tiba-tiba saja sudah tinggal tiga hari lagi untuk dikumpulkan. Ada salah satu istilah yang terkenal di kalangan pelajar, yaitu Sistem Kebut Semalam. Tidak berpikir lama, metode ini langsung saya gunakan dan terapkan dalam mengerjakan tugas yang menantang ini. 

Saya relakan jam tidur saya untuk mengerjakan tugas tersebut. Alhasil, tugas tersebut selesai. Setelah dikumpulkan dan dinilai, ternyata saya mendapatkan nilai yang sama dengan teman saya yang mengerjakan lebih dahulu dan tidak menggunakan metode Sistem Kebut Semalam.

Hal ini tentu saja meresahkan, tetapi kalau dapat nilai yang sama untuk apa kita kerjakan tugas secara bertahap dan mengerjakan lebih awal. Jujur saja, saya masih menggunakan metode ini hingga saya kuliah. Akan tetapi, tindakan ini tidak patut ditiru ya, don’t try this at home

Sebenarnya, Sistem Kebut Semalam memang sangat tidak patut untuk dilakukan apalagi dilestarikan. Pada saat menghadapi ujian, sistem ini juga dapat diterapkan. Coba lihat saja di sekitar kita, bandingkan dengan anak yang belajar sudah dari bulan-bulan lalu dengan anak yang baru mulai belajar semalam. Bisa jadi nilai anak yang baru belajar lebih tinggi.

Sistem ini juga dapat memberikan pengaruh terhadap anak yang sudah belajar selama berbulan-bulan. Anak tersebut pasti berpikir “kalau begitu mending aku belajar semalam aja ya.” Pemikiran ini memberikan dampak negatif bagi anak tersebut. 

Tentu saja, sifat rajin dari anak tersebut akan memudar dan mulai meniru anak yang suka menerapkan Sistem Kebut Semalam. Hal ini memang sangat biasa terjadi di kalangan Warga Negara Indonesia. Ambil contoh guru kita saja. Setelah ulangan, pastinya hal yang kita tunggu adalah nilainya. Biasanya nilai tersebut akan keluar seminggu setelahnya.

Akan tetapi, ada sebagian guru yang beralasan hasil ulangan tersebut tertinggal di rumahnya. Jika kita melihat kejadian tersebut ada dua kemungkinan yang dapat kita simpulkan, antara guru tersebut memang belum menilai atau kembali lagi ke Sistem Kebut Semalam. Mengapa bisa disimpulkan seperti itu? Memang seperti itu, namanya juga budaya Indonesia. 

Saya dapat memberikan kesimpulan bahwa guru tersebut menggunakan Sistem Kebut Semalam karena pastinya guru tersebut bisa jadi begadang semalaman untuk menyelesaikan penilaian tersebut sehingga terburu-buru pada pagi harinya dan lupa membawa hasil ujian tersebut. Namun. hal ini memang tidak bisa disimpulkan untuk seluruh guru, bisa saja memang guru tersebut sudah benar-benar lupa dengan nilai ujian kita pada saat itu.

Budaya Sistem Kebut Semalam ini sesungguhnya tidak baik jika terus dilakukan dan dilestarikan. Tentu saja dengan hasil-hasil yang menggiurkan memang tidak meluputkan orang tersebut untuk terus melakukan kegiatan ini. Jika kita melirik pada aspek pejabat, seperti wakil rakyat, Apakah segelintir orang-orang terhormat ini juga menerapkan sistem ini? 

Sebenarnya tidak bisa disimpulkan sih karena kita tidak tahu watak-watak asli dari orang-orang terhormat ini. Namun, jika kita kembali melihat Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja yang sedang hangat. Apakah mungkin sebenarnya wakil rakyat mengerjakan itu dengan Sistem Kebut Semalam? Jawabannya hanya ada dua, iya atau tidak.