Gairah membuncah. Ia terus menggodaku sambil mencopotkan kancing baju satu-satu. Keadaan kamar yang gelap dan udara dibuat pengap karena kami berpelukan sangat rapat. Membuat peluh dua orang yang akan bercinta saling beradu.

Kunyalakan lampu remang-remang. Cahaya berkelip menyapu cantik wajahnya. “Persetan dengan bibirmu yang manis, dan buah dadamu yang ranum,” batinku. Aku menetek dan memelukmu erat-erat seperti bayi yang tak ingin ditinggal dari buaian ibunya.

Sekonyong-konyong tangannya menyusupi celanaku, melata seperti ular yang mengelus bawah pusarku, kemudian ke paha, dan bertengger pada batang yang diinginkan. Sangat lembut ia mengelus batang itu. Inilah hal yang paling ditakutkan. Kutarik tangganya keluar dan terus ku genggam.

“Kenapa?” Katanya, protes.

“Tidak, sebaiknya jangan dilanjutkan.” Tandasku.

“Apa kau masih perjaka saya?”

Aku terdiam, kemudian celingukan karena tak tahu harus menjawab apa.

“Ayolah, Fana, sayangku, kau akan merasakan kenikmatan duniawi yang tiada tara,”

Matanya jalang, aku curiga dengan gelagatnya. Benar saja, saat perhatianku lengah, tangan sebelahnya melepas sabuk dan mengikatkan kedua tanganku di hulu ranjang. Aku meronta saat celanaku dilepas dengan paksa.

“Nira Nirwana, jangan!” Teriakku.

Hal itu malah membuatnya semakin tak terkendali. Aku hanya takut membuatnya kecewa, tetapi sepertinya marah pun tak akan menjinakkannya. “Birahi kuda liar,” batinku. Kupasang wajah cemberut, siapa sangka dapat membuatnya luluh. Namun, sia-sia.

Nira semakin menjadi ketika melihat kemaluanku yang terkulai lemas bak pisang busuk. Sekali santap ia lumat semuanya, berikut dengan telurnya. Tak ku sangka dengan bibir yang manis lucu itu tersimpan keganasan dibaliknya.

“Fana Sastra Atmaja, kenapa adik kecilmu tak mau berdiri?” Raut wajahnya terpasang kekecewaan. “Apa ini alasanmu menolak bercinta denganku?” Ia memburuku dengan dua peluru mematikan yang dilepaskan sekaligus, tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab.

Kuringkukkan kedua kaki, mencoba menyembunyikan sebuah aib. Sejak awal, memang aku tak ingin larut dalam keintiman. Namun, semua sudah terlanjur.  “Sebentar lagi ia akan pergi meninggalkanku,” gumamku, putus asa.

Pikiran melayang ke waktu yang kelam. Keadaannya percis sama. Umurku saat itu tujuh belas. Suatu kebanggaan jika bisa melepas perjaka dan merebut keperawanan pada umur remaja. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Sinta, mantanku, yang saat itu kuajak tidur malah berlari. Mungkin tak sudi bercinta dengan batang yang tak bisa berdiri.

Jujur saja, hatiku sangat hancur. Kepribadianku pun menjadi rusak. Terlebih, saat Sinta menyebarkan berita itu pada semua. Ingin rasanya bunuh diri. Namun, mengakhiri hidup bukanlah jawaban dari penderitaanku.

Aku kaya dan wajahku tampan. “Bercintalah dengan pelacur, mereka tak akan protes apakah kau memuaskan atau tidak,” suatu bisikan setan yang entah dari siapa, mungkin benar-benar setan yang membisikannya. Namun, karena itu aku masih bisa hidup sampai sekarang.

Ternyata kenyataan berlainan dengan yang kupikirkan. Ia melumat bibirku, sampai aku tak bisa menghirup udara. Gairah yang padam kembali membara. Kemudian, membelai lembut wajahku.

“Ternyata inilah penyebab kekosongan di hatimu selama ini, sayang.”

Kulihat ketulusan di wajahnya yang lembut.

“Sejak kapan kau, mengalami hal seberat ini?”

“Setelah merebut keperawanan yang ketujuh. Kau tahu, kata orang ini adalah ritual untuk awet muda. Salahnya, aku malah menusuk duburnya. Mungkin, ini adalah kutukan dari Sang Dewa.”

Ia hanya tertawa kecil. Ya, tak mungkin ia percaya hal yang berbau mistik.

“Ada-ada saja.” Ia mencubit gemas perutku. Geli. “Bukankah kutukan pangeran kodok pun dapat dipatahkan oleh ciuman yang tulus dari seorang putri?” sambungnya, sambil mengecup bibirku.

Aku hanya termangu-mangu. Kemudian semringah. Disusul desir darah menahan gelitik jarinya yang bermain di dadaku. Dalam belenggu, dapat kurasakan bahagia. Entah, mungkin mendapat Jack Pot di Time Zone tak ada bandingannya. Namun, sesaat kemudian aku ragu, dan mulai kuceritakan yang sesungguhnya. Ia khusuk mendengarkan.

Sisifus Erostus Not Ereksi,” kataku getir untuk memungkas cerita tadi.

“Apa itu? Terdengar seperti manusia purba”

“Bukan, kau tadi membicarakan kutukan,  inilah kutukanku. Aku beri nama sendiri. Kau tahu legenda Sisifus yang diberikan hukuman oleh dewa? Sepanjang hidupnya, ia harus menggelindingkan batu ke atas bukit. Namun, saat hampir mencapai puncak, batu itu jatuh lagi. Ada yang menceritakan batu itu menggelinding menimpa tubuhnya, dan ia hidup lagi. Sebuah kutukan abadi!”

“Benarkah, sungguh kasihan si Sisifus. Lalu, bagaimana dengan Erostus?” Air mukanya berubah, tampaknya ia serius. Atau, lebih terkesan kasihan kepadaku dan Sisifus.

“Hanya pelesetan dari kata Eros. Plato mengonsep cinta menjadi tiga tingkatan, dan Eros adalah yang terendah, karena hanya sebuah desakan rasa yang berdasar kepada nafsu.” Kulihat pupil matanya membesar. “Seperti yang kita lakukan saat ini.”

“Aku sudah bisa menebak kata yang terakhir. Sungguh malang nasibmu sayang, kau harus menjalani hukuman abadi: ditinggal kekasih karena tak bisa ereksi. Namun, aku tak akan meninggalkanmu. Akan kupatahkan kutukan itu, seperti tuan putri, dewi kasih, atau hanya sekedar aku yang tulus mencintaimu tanpa perlu perandaian.” Katanya tegas. Air mataku menderai menuju lembah bahagia.

“Tapi, kita tak bisa menikah.” Kataku. Sebenarnya berat untuk mengatakannya. “Akan sia-sia cintamu jika tak berujung kepada pernikahan, dan pernikahanmu tidak akan bahagia tanpa seorang momongan.” Aku mencoba menahan pedih sekaligus berharap kau tak akan goyah dengan perkataanku.

“Fana, kekasihku. Bukankah Basu Karna pernah menanyakan kepada Bunda Kunti? ‘Apakah hakikat seorang ibu?’ Bagi Karna, ibu bukanlah seseorang yang mengandung, tetapi merawat dan membesarkannya. Kita bisa mengadopsi seorang anak!”

Akankah ini sebuah pertanda bahwa Sisifus telah mencapai puncak bukit? Aku merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Puncak dari segala puncak. Apakah ini rasanya bila menjadi ayam yang tiba-tiba bisa terbang tinggi? Kutukan itu akhirnya sirna. Benar, tak jika cinta sudah berkata kita tak bisa mengubahnya, walau dengan uang dan ketampanan.

Kami melanjutkan hal yang tertunda. Ia memintaku bermain dengan lidah. Semakin binal. Malam yang lingsir berganti fajar. Sepertinya ia belum juga mencapai puncak kenikmatan. Mulutku basah oleh liur dan air birahi. Lidahku telah lelah sampai-sampai menjulur seperti anjing dibuatnya. Tak lama aku terlelap dengan tangan masih terikat. Aku tak ingat betul apa yang Nira lakukan setelahnya.

*

Entah berapa lama aku tertidur. Tak ada jam di kamar ini, seperti bukan pagi. Matahari sudah sampai di puncak. Hal itu dapat ditebak dari pancaran sinarnya yang terik menembus gorden. Nira tak ada di sebelahku. Aku kesulitan untuk berdiri. Tak sadar tangan masih terikat. Kupanggil ia. Namun, tak ada jawaban.

Sedikit paksaan, sabuk itu dapat terlepas juga. Tampak tanganku merah dan biru. Mungkin karena aliran darah tak berjalan dengan lancar. Aku menuju meja untuk mematikan lampu remang-remang. Di sana terdapat selembar tisu. Langsung saja ku ambil. Ternyata ada tulisan, dan sebuah tanda kecupan. Beginilah tulisannya:

“Fana si bodoh. Mana ada wanita yang hamil hanya dengan lidah dan jari. Salam sayang, Nira Nirwana.”

“Anjing! Lonte! Perek!”

Aku marah sejadi-jadinya. Tulisan itu kubanting. Apa saja kubanting. Mengumpat tak ada henti. Kini aku benar-benar terpuruk. Nira, ucapan manismu tak semanis namamu. Tetap saja, kau wanita jalang yang mencari sensasi lain.

Kutukan itu belum sirna. Sisifus kembali tergiling batu.