Indonesia kembali berduka. Aksi terorisme kembali melanda negeri tercinta kita. Gereja Oukumene di Samarinda dilempari bom molotov oleh pihak yang tidak bertanggung jawab pada tanggal, 13 November 2016 (Tempo 14/11/2016). Aksi tidak bertanggung jawab itu menyebabkan kerusakan di Gereja Oukiname. Selain rusaknya infrastruktur, aksi tersebut juga menelan korban.

Semakin miris, karena hampir semua korban tersebut adalah anak di bawah umur. Intan Olivia Banjarnahor menjadi korban yang meninggal keesokan harinya. Bocah perempuan berusia 2,5 tahun itu meninggal akibat luka bakar yang dideritanya.

Beberapa aksi digalang sebagai bentuk rasa simpati. Di Jakarta, berbagai elemen masyarakat berkumpul dan menyalakan seribu lilin sebagai tanda berkabung untuk keluarga yang menjadi korban peristiwa tersebut.

Fenomena terorisme ibarat jamur di musim hujan. Satu dibarantas tumbuh lainya. Menjadi bahan refleksi bersama ketika timbul pertanyaan dalam benak kita melihat berbagai aksi terorisme yang melanda, “Apa yang salah dengan negara kita?” Pertanyaan inilah yang harus kita cari jawabanya.

Fenomena terorisme merupakan fenomena yang kompleks, karena selalu ada kepentingan yang tumpang-tindih di dalamnya. Dalam setiap aksi terorisme selalu ada benang merah: politik dan ideologi.

Namun, terlepas dari beragam dimensi itu, patutlah kita jangan “menunggangi” isu teror untuk menyudutkan salah satu golongan. Betapa (maaf) brengseknya orang yang menggunakan isu-isu teror untuk menghakimi kelompok lain. Stop menyebarkan berita-berita Hoax, baik itu melalui akun media sosial atau melalui congor kita.

Selain bisa menimbulkan chaos atau kegaduhan dalam masyarakat, membagikan berita-berita seperti itu, secara tidak langsung bisa menyakiti hati teman-teman di akun media sosial kita. Misalnya, kita membagikan berita berjudul “Menolak Pemimpin Kafir”. Secara sadar atau tidak, kita sudah menyakiti hati orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita.

Beberapa hari lalu saya sempat membaca salah satu artikel yang di-share  oleh teman saya di akun medsosnya. Dengan judul yang menggoda untuk dibaca (maaf saya tidak bisa mencantumkan judulnya). Secara garis besar, artikel itu berisi tentang keterkaitan antara aksi terorisme dengan agama. Jijik, mual dan muak itulah yang saya rasakan, ketika membacanya. Saya tekankan, tidak ada ajaran agama yang menganjurkan tindakan kekerasan.

“Bagaimana dengan kekerasan yang dilakukan oleh Israel pada Palestina? Bukankah itu merupakan tindakan kekerasan atas dorongan agama?” Mungkin pertanyaan itu akan dilontarkan untuk menyanggah argumen saya. Pertanyaan basi! 

Dalam bukunya yang berjudul Demokrasi, William Blum menyatakan bahwa Israel dengan gerakan zionismenya melakukan tindakan kekerasan dengan motif politik dan ekonomi, bukan karena agama. Untuk mencapai tujuan itu gerakan zionisme “mencaplok” lahan –tanah harapan-  yang secara sepihak dianggap haknya (untuk lebih jelas silakan baca karya-karya Noam Chomsky dan Hannah Arendt).

Ada istilah yang mengatakan bahwa kita harus mampu mengambil pelajaran dari setiap kejadian. Dengan berbagai aksi terjadinya terorisme yang sudah melanda Indonesia, saya mendapatkan pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian teror yang melanda Negara kita.

Tumbuhnya Rasa Solidaritas

Pasca aksi terorisme selalu dibarengi dengan aksi belasungkawa yang ditujukan dengan berbagai cara di antaranya: menyalakan lilin, berdoa bersama, mengadakan drama teatrikal, dan lainya. Beragam tanggapan ini patut kita apresiasi sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap korban.

Para pelaku teroris merupakan musuh bersama yang harus diperangi dan pada saat yang sama timbulah rasa solidaritas. Meminjam ungkapan Ralf Dahrendorf, seorang sosiolog, dia menyatakan rasa solidaritas bisa timbul ketika ada musuh bersama.

Ungkapan Dahrendorf tersebut sesuai dengan kondisi masyarakat kita saat ini. Tanpa memandang agama, suku, dan ras, masyarakat Indonesia membangun solidaritas dan mengutuk keras para pelaku teror tersebut.

Pembenahan Sistem Hukum di Indonesia

Untuk menanggulangi maraknya aksi terorisme, Pemerintah melalui Peraturan Presiden (PERPRES) tahun 2010 no. 46, telah membentuk lembaga Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT). Salah satu taggung jawab BNPT yang tercantum dalam PERPRES Tahun 2010 no. 46 pasal 2 yaitu merumuskan  program de-radikalisasi. Program ini bertujuan agar selepas para pelaku aksi teror menjalani hukuman tahananya, para pelaku tidak kembali melakukan aksi teror.

Selama menjalani masa tahananya, terpidana aksi teror mendapatkan bekal berbagai ketrampilan yang nantinya bisa dipergunakan selepas menjalani hukuman. Pertanyaanya sekarang, “berfungsikah program tersebut?”

Pertanyaan itu terbesit ketika saya membaca berita bahwa pelaku pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene merupakan mantan terpidana teroris. Berkaca dari pelaku ini, patutlah perumus kebijakan di negara ini berbenah, khususnya tentang program de-radikalisasi.

Saya setuju dengan pendapat salah satu pakar terorisme (saya lupa namanya) di acara salah satu stasiun televisi swasta. Pakar tersebut menyatakan perlunya pemantauan lebih lanjut terhadap mantan pelaku aksi terorisme setelah menjalani masa tahananya.  

Pemantauan ini perlu menurut saya, karena pelaku kejahatan teroris yang menjalankan aksinya atas landasan ideologi, ada potensi pelaku tersebut akan melakukan aksinya lagi.

Merujuk kepada Karl Marx, ideologi bisa menjadi perusak, ketika ideologi membuat seseorang menutup dirinya terhadap realitas sekitar. Ideologi yang merusak semacam ini diistilahkan Marx sebagai “Kaca Mata Kuda” Ideologi yang sudah menjadi “Kaca Mata Kuda” inilah yang terjadi pada pelaku teror. 

Selain soal program deradikalisasi, ada hal lain yang perlu diperbaiki dalam sistem hukum di Indonesia,  yaitu soal remisi. Remisi adalah pemotongan masa hukuman penjara.

Remisi biasanya diberikan di hari-hari besar pada narapidana yang berperilaku baik. Saya kira pemerintah perlu memperketat sistem remisi ini. Pengetatan yang penulis maksudkan adalah pemerintah jangan mudah mengobral remisi kepada pelaku kejahatan (termasuk koruptor).

Kami Tidak Takut

Saya sungguh salut kepada masyarakat kita. Bagaimana tidak, setiap ada aksi terorisme yang terjadi, warga di sektiar kejadian tidak menunjukan rasa takut, tapi justru ramai-ramai menontonya. Ibarat layar tancap yang sedang diputar, para penduduk seolah tidak ingin melewati setiap momennya. Lihat saja kasus pengeboman Pos Polisi di Banten dan Jakarta.

Semangat juga ditunjukkan oleh para pedagang. Dengan memanfaatkan antusiasme warga, para pedagang dengan semangat menggebu, menerobos kerumunan warga yang menyaksikan tempat kejadian perkara (TKP) teror untuk menajajakan daganganya. Aksi mencekam terorisme seolah menjadi kesempatan bagus bagi para pedagang untuk mendulang rezeki, itu salah satu dampak positifnya.

Terakhir, saya sebagai penulis turut berduka cita. Semoga keluarga korban diberikan ketabahan. Beribu-ribu maaf saya sampaikan sebelumnya, karena hanya dengan tulisan, penulis menyampaikan rasa turut berdukanya.