Pada saat bulan Ramadhan tiba, maka beberapa fenomena khas nusantara bermunculan, seperti membangunkan orang sahur, sahur on the road, serta buka bersama yang kali ini kita bahas. Buka bersama atau yang seringkali disingkat dengan sebutan bukber, seringkali menghiasi suasana yang hanya terjadi saat bulan Ramadhan.

Entah kapan dan siapa yang menginisiasi bukber pertama kali, namun yang pasti, bukber merupakan momentual yang cukup dinantikan oleh banyak masyarakat. Ya kemungkinan karena bukber bisa dilaksanakan ketika bulan Ramadhan, meski belum tentu yang mengikuti bukber tersebut menjalani ibadah puasa, bisa jadi.

Bukber menjadi sarana untuk bertemu kawan lama yang berasal dari berbagai elemen, baik dari sekolah, pekerjaan, dan lain-lainnya yang penting kawan lama yang jarang berjumpa. Bukber biasanya dilakukan oleh kawula muda yang masih memiliki waktu luang, namun seringkali juga para golongan muda mengadakan bukber juga, yang masih berjiwa muda maksud saya.

Ya namanya saja buka bersama, tentunya dilakukan saat waktunya berbuka puasa, yakni saat adzan maghrib tiba, dan mustahil dilakukan saat siang hari, benar-benar mustahil.

Bukber bisa dilakukan dimana saja, sangat kondisional. Bisa diadakan di rumah seseorang, restoran, bahkan di lapangan jika bukbernya mengundang orang banyak yang tentunya membutuhkan ruang yang luas untuk menampung orang-orang yang turut ikut serta.

Tentang menu makanan saat bukber, masyarakat Indonesia pun memutuskannya dengan niali-nilai bangsa, yakni musyawarah serta gotong royong dalam pendanaan dan segala keperluan penunjangnya.

Bukber yang sedari awal merupakan ajang silaturahmi dengan kawan lama yang telah lama tidak berjumpa, kini mulai menunjukkan sisi melankolis dengan sendirinya. Bahkan tak jarang seseorang yang diundang mengikuti bukber, tidak jadi datang karena merasa tiada esensi dari bukber itu sendiri, perkumpulan toxic maksud saya.

Kini bukber menjadi ajang pamer keberhasilan dan pencapaian yang secara tidak langsung menjadi ajang kesombongan orang-orang yang merasa lebih sukses daripada kawan lamanya, bahkan seseorang akan merasa menjadi ksatria ketika bukber ternyata ia jauh sukses dari kawan lamanya yang popular namun kini hanya seseorang yang biasa saja.

Kenangan-kenangan lama yang indah untuk dikenang kini jarang dibahas saat bukber karena tergeser oleh arus keduniawian dengan pencapaian semu, padahal semua orang memiliki fase naik-turun dalam hidupnya. Hal yang perlu disadari bagi saya.

Maka dari itu, nilai-nilai positif awal dari bukber seharusnya dipertahankan dengan kesadaran bahwa menjalin hubungan antar sesama tidak perlu melihat pencapaian yang semua orang tentu memiliki tolak ukur pencapaiannya sendiri.

Dengan demikian akan terjalin hubungan yang langgeng meski sebatas kawan lama yang jarang berjumpa, toh memiliki kenangan yang sama. Bahkan adanya bukber malahan membuat seseorang tidak melakukan sholat maghrib karena asyiknya pertemuan.

Bagi saya ibadah merupakan hal yang penting disamping adanya interaksi antar sesama. Dan tidak jarang pula waktu bukber yang terbatas mengharuskan mengorbankan ibadah sholat sunnah tarawih padahal sholat sunnah tarawih sendiri hanya ada di bulan Ramadhan.

Jika adanya bukber namun tetap menajalankan kewajiban perintah agama sebagai muslim yang taat, termasuk salah satu suksesnya acara bukber tersebut, dan jika bisa dikembangkan dengan menjalin silaturahmi tanpa adanya percakapan yang menyinggung satu sama lain.

Memang pembahasan dengan kawan lama yang jarang berjumpa tentu akan merasakan rasa sungkan yang mendalam, karena seseorang yang senantiasa bertumbuh dengan perubahan-perubahan, apalagi jarang berjumpa, tentu hal tersebut dibutuhkan sikap saling menerima perbedaan.

Hal tersebut memang lumrah terjadi saat seseorang jarang berjumpa dengan yang lainnya, dan untuk mencairkan suasana agar tidak toxic, dibutuhkan pembahasan yang lebih aman, seperti pembahasan yang mengarah dengan keadaan kawan lama, serta keinginan untuk berjumpa secepatnya maksud saya.

Dengan sentuhan emosional tentang kenangan lama yang terbengkalai dalam museum memori dibicarakan lagi dengan konteks yang menyenangkan, apalagi jika seseorang yang malah menyendiri dan tidak dianggap saat bukber, sungguh miris.

Kadangkala satu dua orang akan menyendiri ketika bukber, entah apa alasannya, yang pasti yang lainnya wajib untuk mencoba memerdulikannya dengan perhatian, bukannya malah berlomba dalam pencapaian yang sementara.

Apalagi diadakannya bukber hanya sebatas eksistensi via media sosial, menjijikkan bagi saya. Memang peristiwa momentual seperti itu biasanya di dokumentasikan sebagai kenangan selanjutnya, namun dalam realitasnya, beberapa oknum mengadakan bukber hanya untuk sebatas mengenalkan kepada dunia bahwa ia memiliki kawan lama.

Tentu saya risih akan hal itu karena jauh dari tujuan awal diadakannya bukber yaitu mempererat tali silaturahmi yang sempat longgar karena waktu dan kesibukkan hidup masing-masing orang, bahwa bukber hanya terjadi di Indonesia dan telah saya katakana diawal bahwa bukber terbentuk karena nilai-nilai luhur nusantara yakni kebersamaan.

Sebenarnya boleh saja membahas tentang pencapaian-pencapaian namun sekedarnya saja, dengan maksud agar tidak menumbuhkan sifat dengki iri hati, bahkan jika terlalu berlebihan ujungnya termasuk pamer dan tentu bukber bukanlah untuk pamer.

Apalagi sebelumnya telah menjalani proses ibadah puasa dengan cara menahan makan dan minum serta lainnya, namun secara esensi ibadah puasa ialah agar manusia menahan untuk bersikap berlebihan, jadi singkat saja jika ada seseorang menunjukkan pencapaian personal tanpa ditanya seorang pun patut di curigai ia tadi telah berpuasa atau tidak.