Pernah dengar atau membaca tentang rumus tekanan dalam fisika yang dianalogikan dalam pola atau gaya hidup? Yang berbunyi: “F (gaya) = P (tekanan), jika hidupmu banyak tekanan, berarti hidupmu kebanyakan gaya”. Lengkap dengan gambar dan ilustrasi unik dalam kemasan meme yang sempat viral pada zaman keemasan BBM, aplikasi layanan pesan instan yang tutup akhir Mei lalu akibat ditinggalkan para penggunanya.

Meme dari rumus tekanan ini memberi pesan moral bahwa dalam menjalani kehidupan, tidak perlu banyak bertingkah atau banyak bergaya di luar kemampuan. Perilaku tersebut hanya akan membuat pelakunya mengalami banyak tekanan, semisal terlilit utang karena harus bersusah payah memenuhi gaya hidupnya yang jauh di luar kemampuan.

Tentu berkaitan dengan prestise dan gengsi dalam pandangan masyarakat. Sang pelaku berusaha melakukan mobilisasi sosial dengan memperbaiki citra melalui perubahan penampilan dan kepemilikan pribadi. Semisal dalam gaya berpakaian, penggunaan perhiasan, kepemilikan kendaraan pribadi hingga berbagai perabot rumah yang menunjukkan tingkat sosial yang lebih tinggi.

Di samping pesan moral di atas, senyatanya ada sisi lain dari rumus tekanan tersebut yang dapat dianalogikan. Ada sudut pandang lain yang jarang orang pakai dalam menginterpretasi fenomena sosial yang terjadi di sekitar mereka, atau justru mereka alami sendiri.

Menghadapi Tekanan Butuh Gaya

Jika gaya berbanding lurus dengan tekanan, untuk menganalisis tekanan butuh adanya gaya. Hal ini berlandasan pada “makin besar tekanan yang diberikan, maka makin besar pula gaya yang dihasilkan”. Keduanya rekat saling berkaitan dan untuk menganalisisnya dapat melalui kedua sisi, bergantung pada apa yang ingin ditemukan atau dihadapi.

Ketika dikorelasikan dengan kehidupan sosial manusia, hal ini dapat menggambarkan pola manusia dalam bertahan hidup. Untuk menghadapi berbagai persoalan hidup yang kerap berbentuk tekanan, baik dari orang-orang terdekat, dalam relasi pekerjaan hingga sistem kenegaraan yang sedang mengalami polemik, membutuhkan gaya sebagai upaya solusi.

Tekanan dari orang-orang terdekat dapat terjadi dalam kehidupan keluarga maupun pertemanan. Bersifat lebih intim, mencakup hal-hal privat dan emosional. Misalnya, dalam sebuah keluarga, seorang anak mendapat tekanan dari orang tua untuk mengikuti kemauan orang tua. Berkaitan erat dengan pola perilaku seperti sopan santun dan pergaulan hingga citra pendidikan seperti pencapaian di sekolah.

Sedangkan tekanan dalam relasi pekerjaan lebih bersifat formal, berkaitan dengan kinerja dan Standar Operasional Baku (SOB) sebuah institusi. Bawahan mendapat tekanan dari atasan untuk bekerja sebagaimana kesepakatan kerja dan SOB yang berlaku. Tentu tidak lepas dari kinerja dan hasil produksi.

Berbeda jika tekanan yang terjadi dalam kehidupan bernegara. Polanya begitu kompleks dan rumit, berkaitan dengan ruang lingkup yang begitu luas. Mencakup berbagai elemen dan unsur kenegaraan yang membutuhkan keselarasan demi sebuah kalimat sakral berbunyi “kesejahteraan rakyat,”.

Seperti yang terjadi akhir-akhir ini berkaitan dengan aksi demonstrasi mahasiswa di berbagai daerah di Indonesia menanggapi beberapa perundang-undangan yang kontroversial. Sebut saja Revisi UU-KPK yang pengesahannya disebut menimbulkan pemaknaan untuk melemahkan KPK, lembaga independen yang khusus menangani kasus korupsi.

Juga terkait Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) yang tidak kalah kontroversial. Salah satunya meme ayam masuk pekarangan menghasilkan uang sedang ramai digunakan sebagai sindiran terang-terangan kepada pemerintah bahwa kehidupan bernegara dapat menjadi carut marut ketika perundang-undangan dirumuskan tanpa nalar berpikir yang logis.

Belum lagi tuntutan-tuntutan lain dalam serangkaian aksi demonstrasi yang ironisnya hingga memakan korban jiwa dan praktik-praktik kekerasan oleh aparat keamanan. Bahkan penangkapan yang disebut sewenang-wenang.

Mengulas aksi demonstrasi, aksi yang dilakukan mahasiswa merupakan salah satu gaya perlawanan menghadapi tekanan dari pemerintah. Tekanan yang dimaksud adalah adanya pasal-pasal kontroversial yang disebut kemudian hari dapat menimbulkan degradasi demokrasi di era reformasi. Bahkan beberapa menyebutnya wajah baru orde baru.

Aksi mahasiswa ini digambarkan sebagai gaya menghadapi tantangan. Sebagai cara pemecah masalah atau jalan keluar dari tindakan pemerintah yang disebut “ngawur” dan sewenang-wenang. Meski sebagian pihak menyebutnya telah “ditunggangi”.

Gaya sebagai Naluri Alamiah  

Gaya berupa aksi mahasiswa merupakan sistem kerja naluriah makhluk hidup untuk mempertahankan diri. Adanya ancaman membuat naluri manusia bekerja membangun benteng pertahanan. Naluri manusia ini adalah dorongan tindakan reflek tubuh dalam merespons, seperti ketika lapar, manusia cenderung menyegerakan makan. Ketika merasa ditindas atau ditekan, manusia cenderung melakukan perlawanan.

Alih-alih aksi sebagai wujud perlawanan, gaya menghadapi tekanan tidak selalu sama. Setiap orang memiliki kemerdekaan dan pilihan untuk bertindak. Tentu masih dalam koridor bertahan hidup, kecenderungan beradaptasi membuat manusia bereaksi dengan berkreasi dan berinovasi dalam menyelesaikan persoalan hidupnya.

Sama halnya seorang anak yang mengalami tekanan dari orang tuanya, ia akan berusaha menemukan gaya sebagai solusi alternatif dalam menghadapi tekanan tersebut. Misalnya dengan berdialog untuk meluruskan segala permasalahan sehingga sang orang tua tidak lagi menekannya berlebihan, tapi sebagian anak melakukan pemberontakan karena dituntut kondisi yang tidak lagi memungkinkan.

Juga terkait dalam relasi pekerjaan. Si bawahan lambat laun belajar menyesuaikan diri dalam tuntutan pekerjaan di tempat atau instansi ia bekerja. Akan ada penyesuaian (adaptasi) dan pembiasaan, sehingga SOB maupun hasil produksi dapat terpenuhi melalui kinerja-kinerja yang diupayakan dalam kurun waktu tertentu.

Setiap orang memiliki seni dalam menyelesaikan masalah, entah dengan cara apapun itu. Memilih jalan konfrontasi, mediasi, arbitrasi, atau bahkan sejenak berdiam diri. Semua tergantung kasus dan alternatif solusi yang tersedia. Intinya, masalah butuh solusi, solusi perlu seni, dan tekanan butuh gaya, melalui naluri.