Sebelum memulai, saya mau meluruskan dulu bahwa saya bukan penyuka drakor. Belum pernah satu judul drakor pun saya tonton sampai habis. Namun bukan berarti saya jadi gelap mata. Membabi buta dengan menjelek-jelekkan tayangan drama korea.

Tulisan ini juga bukan untuk mengerdilkan penonton drakor. Udah itu dulu. Latar belakang saya pengin menulis ini tiada lain dan tiada bukan karena drakor akhir-akhir sedang naik daun. Boleh dibilang nyaris seluruh teman yang saya jumpai, baik di kehidupan nyata dan media sosial, sebagian isinya drakorian semua.

Saking populernya dan memiliki banyak penggemar di Indonesia, drakor pun mulai ekspansi ke dunia pertelevisian kita. Sebenarnya kalau dicari-cari kembali, drakor sudah sejak dulu tayang di televisi. Namun semenjak drakor The World of The Married yang viral tayang di Trans TV, televisi-televisi lainnya pun mulai pengin menayangkan drakor.

The World of The Married bisa menjadi lokomotif ratusan judul drakor masuk dan tayang di televisi tanah air. FYI, setelah The World of The Married yang bisa disaksikan via Trans TV itu, bakal ada sekitar 6 drakor lagi yang rumornya akan ditayangkan di televisi Indonesia. 

Seperti biasa, sesuatu yang masuk ke Indonesia tentu ada hal baik dan hal buruknya. Oleh karena sudah banyak yang membahas hal baik dari masuknya drakor di Indonesia, saya pengin nulis sisi lainnya, yaitu hal negatifnya. Sebab, dengan televisi pengin menayangkan drakor berefek pada industri hiburan di televisi tanah air.

Soal perkembangan drakor yang hendak masuk di Indonesia, terakhir kali saya memantau di Twitter kabarnya Global TV nge-tweet kepengin nayangin drakor juga. Tapi dibikin kayak sedang dilema mau nayangin yang mana. Sontak tweet itu kemudian dihajar tsunami komentar. Banyak yang nggak sepakat.

Dari situ saya paham, oh ternyata masuknya drakor ke televisi Indonesia juga dapat menuai penolakan. Nggak semulus yang dibayangkan. Oleh karenanya, saya coba telisik lebih jauh, kira-kira dari penolakan itu—meski baru satu televisi—dampak negatif yang jarang mencuat dari tayangnya drakor di televisi, apalagi ya?

Akhirnya, saya menemukan jawabannya. Inilah hasil kontemplasi dan analisis saya yang bisa kamu simak. Saran saya pelan-pelan saja.

Sinetron Berkurang

Andaikan drakor beneran mengambil alih tayangan hiburan berjenis drama di televisi, hal pertama yang paling berpengaruh tentu saja sinetron. Satu televisi nayangin drakor, televisi lain pasti nggak mau kalah. Kalau begitu, pihak televisi otomatis bakal mengurangi tayangan sinetron.

Sekilas hal ini lumayan menggembirakan. Kita jadi terhindar dari tayangan sinetron yang dianggap nggak mendidik, nggak cocok buat anak, nggak rasional, dan nyampah saja. Itu benar, sinetron kita memang sudah kelewat wagu untuk disebut tontonan.

Tetapi siapa yang bisa menjamin kalau drakor berbeda? Selain aktor dan aktrisnya yang jauh lebih lihai berperan dan berparas cantik atau tampan, sinetron Indonesia dan drakor itu saudara: sama-sama drama. Drakor juga punya peluang menjadi tayangan yang nggak mendidik, nggak rasional, nggak cocok buat anak, dan nyampah juga.

Bedanya penggemar drakor semakin membludak, sedangkan peminat sinetron terancam berkurang. Ide cerita sinetron yang acap kali buntu bakal bertambah pampat setelah televisi lebih memilih menayangkan drakor sebagai program hiburan utamanya. Alhasil mungkin sinetron nantinya akan menjadi program selingan saja, jalan ceritanya dibikin simpel-simpel saja.

Pekerja Sinetron Sepi Job

Ini pasti. Nggak cuma sopir angkot yang sepi job nganterin penumpang karena banyak yang memilih taksi online, juga penulis skenario, sutradara, kameramen, lighting, penata artistik, penata efek, sampai pemeran sinetron bakal sepi job karena televisi lebih memilih drakor.

Kalau artisnya sepi job sih nggak masalah. Kayak Nafa Urbach, Rionaldo Stockhorst, sampai Nikita Willy bisa main film, atau dapat pemasukan dari iklan. Lalu bagaimana dengan penulis skenario sinetron? Nggak gampang bagi mereka ujug-ujug dapat job buat nulis skenario film layar lebar.

Nggak gampang juga buat penata efek—yang ngatur suara petir pakai seng penutup kandang ayam—dapat job di film-film superhero Bumi Langit, misalnya. Pekerja dibalik layar inilah yang menunggu instruksi produser. Kalau bikin sinetron, ya kerja, kalau nggak, ya sengnya buat nutup kandang ayam lagi.

Kartun Berkurang

Bukan tidak mungkin ketika drakor terbukti sanggup mengeskalasi rating televisi, jam tayangnya pun bakal bertambah. Nggak hanya sinetron yang kena imbasnya, tayangan kartun juga. Seperti cuitan akun Global TV—gudangnya kartun—tempo hari.

Hari ini saja jumlah tayangan kartun telah berkurang. Upin dan Ipin, Spongebob Squarepants, dan Doraemon doang yang selama ini konsisten tayang. Sisanya kalah dengan program-program reality show dan acara ajang pencarian bakat, eh satu lagi, berita berbalut talkshow yang lebih cocok disebut acara maido.

Impian anak-anak eks 90-an buat nostalgia acara Minggu pagi agaknya harus sirna untuk waktu yang cukup lama. Pasalnya, televisi lebih melirik drakor ketimbang kartun-kartun semisal bikinan Nickelodeon. Saya mengerti dan terpaksa memaklumi kok, kalau televisi lebih memilih menghidangkan konflik rumah tangga, iklim kekerasan di dalam rumah, dan konflik dari kisah cinta, daripada repot menyensor celana dalam Shizuka.

Televisi Nggak Kreatif

Insan pertelevisian kita belakangan sedang krisis kreativitas. Tengoklah bagaimana program-program yang tersaji di layar kaca kamu. Lebih banyak program yang dibikin sendiri dengan syuting sendiri atau tayangan yang kontennya mencomot dari YouTube, Tik Tok, Twitter, dan media sosial lainnya?

Nyaris saban stasiun televisi mempunyai program di mana kontennya mengambil dari jagat maya. Kita semua yang nonton nggak tahu bagaimana prosedur kerja samanya dengan si pemilik video. Apakah pemilik video mendapat royalti dari pihak televisi?

Begitu pula drakor. Di mana sudah ada pihak lain yang menyediakan. Pihak televisi tinggal menayangkannya tanpa susah payah bikin konten. Apalagi bikin konten itu bukan perkara ringan.

Terima jadi istilahnya. Meski saya nggak tahu bagaimana pihak televisi mendapatkan video drakornya. Mudah-mudahan mereka dapat lewat jalur legal aja. Nggak lewat situs-situs penyedia drakor gratis. Ups~

Masuknya drakor ke industri pertelevisian Indonesia bagi penggemarnya boleh dibilang anugerah dadakan. Mereka pun akhirnya senang, televisi menuruti keinginannya buat nayangin drakor. Tulisan ini hanya sekadar menambah khazanah tentang drakor biar isinya nggak yang bagus-bagus melulu.