Mahasiswa
3 tahun lalu · 603 view · 2 min baca menit baca · Pendidikan tawuran-pelajar.jpg
ilustrasi: tawuran pelajar

Sisi Gelap Pendidikan Kita

Setiap tanggal 2 Mei, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati. Bertepatan dengan Hardiknas di tahun ini, terjadi peristiwa yang mencoreng wajah pendidikan kita: di UMSU, seorang mahasiswa membunuh dosennya dan di UIN Jakarta, seorang mahasiswa diduga mencuri komputer di perpustakaan kampus.

Meski kedua tindak pidana tersebut dilakukan dengan alasan tertentu dalam perspektif si pelaku, tapi perbuatan tersebut tidak dapat dibenarkan. Tidak ada satu mata kuliah pun yang mengajarkan bahwa tindakan itu bernilai baik dan benar.

Lantas muncul pertanyaan, ada apa dengan potret pendidikan kita?

Semalaman saya mengerutkan dahi, berpikir keras dan menerka-nerka atas dua kejadian tersebut, apakah sistem pendidikan kita telah gagal menciptakan generasi bangsa yang berkarakter, berbudi luhur serta berintegritas?

Memang benar bahwa tidak semua anak bangsa yang mengenyam pendidikan melakukan hal yang sama seperti itu, namun tentu kita tahu satu ungkapan yang berbunyi: "Karena nila setitik rusak susu sebelanga." Bagi yang termasuk bagian dari civitas akademika, tentu ini adalah pukulan telak dan mencoreng nama baik.

Usaha pemerintah untuk mewujudkan sistem dan produk pendidikan yang kuat dan berkarakter patut untuk dipertanyakan ulang. Meski benar bahwa prihal pendidikan adalah tanggungjawab bersama, namun pihak yang paling bertanggungjawab dalam hal ini adalah sang pemangku kuasa; pemerintah.

Bisa saja, bahwa sistem pendidikan kita hanya sebatas mencetak generasi anak bangsa yang cerdas dan pintar sesuai dengan amanat konstitusi negara, namun negara telah gagal dalam membentuk karakter anak didik yang berbudi luhur dan berakhlakul karimah.

Kita patut berlefleksi dan mengevaluasi kembali prihal sejauh mana sistem pendidikan kita mampu untuk mencetak generasi anak bangsa yang cerdas dalam pemikiran dan lembut dalam watak dan tindakan. Karena kecerdasan akal pikiran harus berbanding lurus dengan setiap tindakan dan kerja-kerja nyata dalam keseharian.

Ilmu pengetahuan yang menjadi produk utama pendidikan harus pula diimbangi dengan keimanan dan amal kebaikan. Lantas, perihal keimanan dan amal kebaikan, siapakah yang paling bertanggungjawab dalam hal tersebut, pemerintah kah? Lembaga pendidikan kah? Atau subjek individu yang bersangkutan?

Sebatas saran, bahwa yang paling penting dari adanya sistem pendidikan itu adalah mewujudkan pribadi-pribadi yang cerdas dan melekat dalam dirinya akhlak yang baik. Dan hal itu menjadi tanggungjawab kita bersama.

Benar apa yang dinyatakan oleh Ibn Sina bahwa pengetahuan teoritis haruslah melahirkan sesuatu hal yang bersifat praktis, dalam hal ini adalah akhlak. Akhlak adalah cara manusia dalam mengatur tingkah laku keseharian dalam menjaga kesucian dan kebaikan dirinya.

Dari itu, sudah selayaknya sistem pendidikan kita jangan terlalu berorientasi pada suatu hal yang bersifat teoritis semata, melainkan tindakan praktis dalam keseharian pun harus jua diperhatikan dan dipikirkan bersama.

Hal tersebut tidak lain demi apa yang kita cita-citakan bersama, yaitu terwujudnya generasi bangsa yang cerdas, berbudi luhur dan berkarakter.

Selamat(kan) Hari Pendidikan Nasional!

Artikel Terkait