Setiap tahun, ada kalanya para calon pastur memromosikan dirinya kepada kaum muda di gereja. Tujuan dengan adanya promosi adalah membuat daya pikat kaum muda untuk menjadi seorang pastur. Rata-rata Pendidikan calon pastur di tempat pembinaan mulai dari kuliah hingga menjadi seorang pastur adalah 7-12 tahun. 

Hal ini ditentukan oleh pimpinan biara dan aturan dari biara tersebut. Perjalanan untuk menjadi seroang pastur tidaklah mudah. Ia harus menjalani Pendidikan starta satu filsafat dan teologi selama empat tahun lamanya. Kemudian, ia juga diminta untuk pergi ke gereja untuk sekedar “belajar” bagaimana menjadi seorang pastur yang baik.

Namun, dalam perkembangan saat ini, kehidupan para calon pastur (frater) tidaklah semanis saat promosi di gereja. Ada beberapa kasus yang dengan sengaja ditutupi agar umat tetap memandang para frater itu baik dan layak untuk menjadi seorang pastur.

Kasus itu selalu berhubungan dengan wanita. Usia para frater adalah masa-masa remaja. Tidak jarang frater yang berpacaran dengan lawan jenisnya. Bahkan, ada beberapa frater yang berhubungan dengan sesama jenis. Sungguh, hal ini merupakan salah satu skandal yang tidak kelihatan di mata gereja katolik.

Hal yang sama terjadi pada saat menjadi seorang pastur. Di beberapa daerah seorang pastur adalah orang yang sangat terpandang di mata jemaatnya. Pastur dikenal sebagai sosok yang “suci”. 

Pastur juga di kenal sebagai orang yang harus dan layak di hormati bak raja. Pastur juga juga di kenal sebagai orang yang taat kepada Allah. Padahal itu semua menjadi salah satu batu sandungan. Mengapa demikian? Tidak jarang para pastur yang melakukan skandal di luar gereja.

Pertanyaan yang muncul bagi penulis bagaimana hal itu bisa terjadi? Salah satu faktor mengapa para pastur ada yang demikian karena  nafsu yang cukup tinggi. Pada saat pembinaan sebelum menjadi seroang pastur, hidup yang dijalankan adalah hidup miskin. 

Para frater pun hanya di berikan uang saku oleh seminari sebesar tujuh puluh lima ribu rupiah dalam satu bulan. Hal ini cukup untuk membeli keperluan mandi saja. Lalu bagaimana mereka makan? Makan, kuliah, tempat tidur sudah disediakan di tempat pembinaan (seminari).

Namun, ketika menjadi seorang romo atau pastur kehidupan berbanding terbalik. Jika dahulu menjadi seorang frater ia harus serba mandiri seperti cuci baju sendiri, membersihkan kamar sendiri, dan lain sebagainya. Tetapi, ketika menjadi seorang pastur kemandirian itu pun tidak dipakai. 

Mengapa hal ini bisa terjadi? Pada saat menjadi orang pastur, umat akan siap sedia melayani para pastur. Jika sudah saatnya menjadi pastur sama dengan menjadi seorang raja yang harus siap sedia dilayani. Hal ini terbukti ketika penulis melihat kehidupan para pastur baik itu di gereja maupun di tempat pembinaan selalu dilayani oleh karyawan semianari. Salah satu contoh sederhana saja, ketika para pastur makan pun, tempat makannya di cucikan oleh karyawan seminari. Sungguh, kehidupan yang lebih baik ketika menjadi seorang pastur.

Lalu, tugas pastur kan banyak? Jika di tanya demikian, tugas pastur memang banyak. Namun, untuk makan para pastur tetap dilayani, apakah pantas menjadi gembala umat? Hal ini sangat berbanding terbalik apabila melihat kehidupan Yesus Kristus. 

Yesus mengajarkan kepada umat-Nya untuk menjadi pribadi yang mandiri, hidup miskin, baru mengikuti Yesus.   Bahkan Yesus Kristus yang gereja meyakini bahwa Ia adalah Putera Allah, sampai membasuh kaki para murid-Nya sebelum ia di salibkan. (Yoh13:5). Yesus adalah Putera Allah sampai mau untuk merendahkan dirinya bagi umat manusia. Tujuan Yesus adalah, agar setiap manusia itu saling mengasihi satu dengan yang lainnya.

Dalam jaman kontemporer ini, kehidupan para pastur sudah tidak mencerminkan kehidupan Yesus. Hal ini dibuktikan dengan beberapa pastur yang bermasalah. Dengan kehidupan yang layak dan tidak miskin itulah tidak sedikit para pastur yang sudah tidak mencerminkan seorang gembala. 

Apalagi, para pastur ini di fasilitasi uang saku sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah. Sungguh angka yang cukup besar bagi seorang pastur yang pada dasarnya kebutuhan pokoknya telah terpenuhi. Tidak hanya itu, para pastur juga akan diberikan fasilitas seperti kendaraan. Kemudian, jika si pastur ingin kunjungan ke umat maka, ia akan di berikan uang saku atau uang transport (uang bensin). Sungguh kehidupan para pastur sangat berbanding terbalik.

Dengan kenikmatan itulah, maka tidak jarang wanita-wanita dari kalangan umatnya mulai mendekati seorang pastur. Sampai akhirnya, iman seorang pastur harus dialihkan untuk kepentingan hawa nafsu. 

Tidak jarang di temui beberapa seorang pastur yang sudah melakukan hubungan seksual dengan umatnya. Penulis pun mengetahui demikian, karena si pastur pernah berhubungan seksual dengan pacar  penulis.  Dari sanalah, penulis menganggap bahwa seorang pastur adalah seorang manusia bak raja yang di tutupi oleh jubah putih.

Akhirnya, sisi gelap dari seorang pastur pelan-pelan terbuka.  Banyak para pastur yang “tumbang” karena wanita. Lalu apakah wanita salah? Dari sini, penulis berkesimpulan tetap pastur yang bersalah. 

Sebagai seorang laki-laki setidaknya mengerti dan memiliki Batasan terhadap wanita apalagi ia adalah seorang pastur. Dengan demikian, jika seorang pastur dapat memahami bahwa didunia ini tidak melulu tentang wanita atau harta tetapi bagaimana caranya agar umat didunia ini dituntun agar selamat masuk kerajaan Allah.