Apakah Anda pengguna media sosial seperti Instagram, TikTok, Twitter, atau Facebook? Apakah selama ini Anda tidak curiga mengapa perusahaan-perusahaan seperti Google atau Facebook berhasil menjadi perusahaan terkaya dalam sejarah kemanusiaan?

Sebagian dari Anda barangkali tidak menyadari bahwa saat ini sumber daya paling berharga dan bernilai bukan lagi minyak bumi, tapi data-data yang kita berikan secara "cuma-cuma" kepada perusahaan teknologi di Silicon Valley.

Data-data itu berupa segala sesuatu atau tindakan apa saja yang pernah kita lakukan di internet. Setiap tindakan yang kita lakukan itu dipantau dan direkam secara hati-hati (Jeff Seibert, 2019). Misalnya apa saja yang kita like dan comment di Facebook, berapa lama kita memandang foto-foto di Instagram atau menonton video di YouTube—semua itu direkam.

Model bisnis seperti Google atau Facebook memiliki kecenderungan memanipulasi, mengontrol, dan menarik perhatian kita selama mungkin untuk terus menatap layar gadget, tablet, atau laptop. Mereka memiliki algoritma yang canggih untuk merekam, memproses, dan membuat model terbaik versi kalian. Sementara itu, algoritma mereka tidak memiliki daya untuk menyaring atau memutuskan bahwa ini informasi yang benar atau itu yang salah.  

Kita akan disuguhi konten-konten yang tidak jauh dari apa-apa saja yang kita like atau comment di Instagram. Teknologi mereka akan selalu berupaya keras menyedot perhatian serta memengaruhi kebiasaan dan perilaku kita. Sebagian dari kita boleh jadi tidak sadar bahwa kita adalah "produk" yang diciptakan oleh mereka (The Social Dilemma, 2020).

Manusia penambang minyak bumi, kita ditambang oleh perusahaan seperti Google atau Facebook. Siapa yang mendulang triliunan dolar? Bagaimana perusahaan-perusahaan itu mendulang uang? Anda bisa menemukan jawabannya dengan menyaksikan film "The Social Dilemma" (2020).

Blue Whale Suicide Game: Pembersih "Sampah" Biologis

Media sosial memiliki efek candu seperti narkoba. Ia juga berpotensi melahirkan nomofobia, depresi, perundungan siber, atau bahkan meningkatkan angka bunuh diri. Tantangan Paus Biru (Blue Whale Challenge) yang merenggut puluhan nyawa remaja di Rusia bisa dibilang salah satu efek buruk dari media sosial.

Tantangan itu dikenal sebagai "permainan bunuh diri" online yang ditujukan untuk remaja dengan menetapkan 50 tugas selama 50 hari. Tugasnya dimulai dengan melakukan tantangan sederhana seperti bangun tengah malam, menonton film menakutkan, menyayat tangan hingga permintaan agar peserta bunuh diri dan mengunggahnya di media sosial. 

Tantangan itu bermula dari jejaring sosial asal Rusia VKontakte (В Контакте) atau dikenal sebagai VK yang kemudian perlahan menyebar ke media sosial lain seperti Instagram dan Twitter. Tantangan itu diduga meledak pada 2015 ketika kasus awal bunuh diri yang ditemukan dikaitkan dengan permainan ini bernama Rita Palenkova, gadis Rusia berumur 17 tahun yang berbagi foto selfie di VK sebelum "melemparkan" dirinya ke depan kereta api.

Nama pemuda di balik Blue Whale Suicide Game itu adalah Philipp Budeikin, remaja 21 tahun asal Rusia. Motivasinya membuat permainan ini adalah untuk "cleansing society," membersihkan masyarakat dari sampah biologis (biological waste). Rangkuman ilmiah mengenai topik ini juga sudah ditelaah oleh Wiwik Sushartami dalam tulisannya yang berjudul "Blue Whale Suicide Game: Imitasi Seni Pertunjukan dan Ambivalensi Kurator/Seniman" (2017). Anda juga bisa menyimak tulisan lainnya yang berjudul "Social Media and Mental Health" (2020).

Cambridge Analytica, Donald Trump, dan Pemilu USA 2016

Kita sekarang memiliki pasar yang memperdagangkan prediksi nilai saham manusia dalam skala besar dan pasar itu telah mendulang triliunan dolar yang kemudian menjadikan perusahaan-perusahaan teknologi berbasis internet itu sebagai perusahaan terkaya dalam sejarah kemanusiaan.

—Shoshana Zuboff, Ph.D. (Harvard Business School - Professor Emeritus)

Dalam percaturan perpolitikan dunia, salah satu skandal terbesar di abad ke-21 ini adalah skandal Cambridge Analytica. Cambridge Analytica adalah perusahaan di bawah SCL Group—perusahaan asal Inggris yang bergerak di bidang riset perilaku dan strategi komunikasi. Perusahaan ini makin dikenal publik setelah skandal penyalahgunaan data 87 juta pengguna Facebook diekspose pada 2018.

Setelah mengantongi jutaan data itu, mereka kemudian mengolah data-data itu untuk memengaruhi pola perilaku para pengguna Facebook dalam kontestasi pemilu Amerika. Mereka memanipulasi dan mempropaganda para target yang dianggap paling "rentan" untuk memiliki kecenderungan memilih Donald trump dan perlahan digiring menjadi anti-Hillary Clinton dalam kontestasi pemilu 2016 itu. 

Salah satu cara menumbangkan Hillary adalah dengan menyebarkan informasi-informasi yang berisi teks, gambar, atau video yang sifatnya mempersuasi serta menyudutkan dan bahkan menghina Hillary. Sebelumnya, perusahaan itu terlebih dahulu membajak data-data para pengguna Facebook dengan cara menyebar kuis "thisisyourdigitallife." Platform itu dijadikan alat sekaligus wahana untuk menundukkan calon pengisi kuis.

Pembahasan di atas memang cenderung mengekspose sisi gelap media sosial. Itu pun hanya beberapa contoh saja yang diambil. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa media sosial juga memiliki banyak sisi terang yang sayangnya tidak sempat saya bahas pada kesempatan ini.

Kita bisa berbagai informasi dan menyaksikan kabar dunia dalam genggaman. Kita bisa bertegur sapa secara online di saat jarak (COVID-19) memisahkan fisik. Dalam konteks lain, Anda juga bisa memesan makanan atau minuman dengan menekan "satu tombol" saja. Anda bisa memantau keamanan rumah, mengatur keuangan, atau berbelanja lewat gawai Anda.

*Artikel ini merupakan refleksi dan kebanyakan saya ambil dari proses merenung sambil nonton film "The Social Dilemma" (2020).