1 bulan lalu · 295 view · 7 min baca menit baca · Budaya 85238_21220.jpg
Provoke-online.com

Sisi Buruk Budaya Korea Selatan

Invasi kultur Korea Selatan tampaknya makin mewabah di Indonesia, khususnya pada generasi milenial saat ini. Mereka bukan hanya sekadar menggandrungi fashion style serta aneka kosmetik cap Korea, tetapi juga musik, lagu, drama, dan artis-artisnya yang serba menarik. Pokoknya, segala macam berbau Korea seakan patut ditiru.

Timbul pertanyaan: mengapa generasi milenial di Indonesia dengan mudahnya terkena pengaruh invasi kultur dari Korea?

Pertama, memang tidak bisa kita mungkiri bahwa K-Pop sudah menjalar ke seluruh dunia. Artis-artis Korea banyak yang berhasil mengambil hati masyarakat dunia dan menjadi idola melalui kekuatan magis penetrasi budayanya.

Kedua, gencarnya media-media di Indonesia untuk menampilkan produk-produk Korea dalam berbagai bentuk, misalnya: drama Korea yang memang banyak disukai oleh golongan tua dan muda.

Karena alur ceritanya yang bagus untuk diikuti, selain itu juga ditunjang oleh artis dan baju yang digunakan terlihat menarik. Tak heran apabila rating tayangan seperti ini selalu tinggi.

Lalu, timbul kembali pertanyaan di benak kita: dulu juga ada tayangan drama dari Jepang, Thailand, atau Philipina yang juga banyak peminatnya, namun mengapa tidak sampai seperti Korea yang seolah melekat sebagai identitas pada generasi milenial yang banyak terkena virus K-Pop?

Coba dilihat, anak-anak sekarang sangat peduli akan penampilannya. Bahkan tampilan dari atas sampai bawah harus stylist persis artis Korea. Di pasar tradisional juga sudah banyak ditemui kios atau toko kecil yang menjual baju-baju Korea untuk menunjang penampilan. 

Selain itu, dandanan mereka juga nyentrik yang dipoles dengan make up ala-ala Korea, seperti memakai eye liner dengan membentuk mata kucing, teknik rias untuk perona pipi yang khas Korea.

Memperhatikan penampilan tentu penting karena 'because when you look good you will feel good and confident,' tapi apabila sudah mengekskalasikan penampilan yang harus selalu 'wah' adalah fenomena yang meresahkan juga. 


Karena tingkat narsisme akan makin tinggi sehingga dikhawatirkan nantinya akan membentuk pribadi yang kurang peduli dengan orang lain sebab individu akan terlalu peduli pada dirinya saja.

Apalagi meniru segala mengenai Korea karena saking fanatiknya terhadap kultur Negeri Ginseng. Kenapa bisa begitu melekat pengaruhnya ini?

Salah satu jawaban dari pertanyaan di atas adalah karena selama ini Korea selalu berupaya menampilkan citra positif, berupa: kesuksesan dan kejayaan negaranya di segala bidang serta keindahan paras orang-orangnya yang dibalut oleh kebudayaan lokal Korea yang dipandang mengagumkan.

Kita bisa menelisik berbagai kesuksesan Korea, seperti: di bidang ekonomi, Korea berhasil menghadapi krisis ekonomi dan keuangan sehingga menata ekonominya sehingga menjelma menjadi salah satu pesaing Jepang dan Thiongkok.

Di bidang entertainment, Korea berhasil menancapkan kukunya dengan kesuksesan musik dan artis Korea yang mendunia. Di bidang teknologi dan industri, Korea berusaha sekuat tenaga menyaingi Jepang dan Tiongkok serta menggunakan produk-produk dalam negerinya sendiri sebagai salah satu kebanggaan mereka.

Tentu saja dengan citra positif dan gambaran yang elok tentang Korea Selatan, pengaruh Korea seolah mendarah daging dibandingkan dengan Jepang dan Tiongkok sebab masih saja ada sisa-sisa sentimen kita terhadap kedua negara tersebut.

Dahulu Jepang pernah menjajah Indonesia selama 3,5 tahun. Memang sudah lama berlalu, namun 'imperialisme kimono' yang kejam sebelum kemerdekaan membawa ekses bahwa Jepang kurang bisa melekat pada kita.

Begitu juga dengan Tiongkok yang dirasakan masih ada sentimen berbau rasis pada warga keturunan Tionghoa yang dipersepsikan bahwa keadaan ekonomi mereka lebih sejahtera ketimbang pribumi sehingga membuat disparitas dan bahkan kesenjangan yang menyebabkan budaya tersebut tidak sampai melekat.

Sementara, border semacam itu tidak dijumpai pada Korea. Citra Korea terlihat sangat bagus, apalagi persahabatan kedua negara yang baik dan hubungan yang sudah lama terjalin dengan erat.

Dari luar, Korea memang terlihat sangat sempurna. Orang-orangnya ganteng dan cantik. Produk-produknya tak kalah dalam persaingan. Negaranya seolah unggul di segala bidang.

Akan tetapi, apabila kita berinteraksi dengan mereka secara langsung, kita baru menyadari bahwa ada sisi-sisi buruk yang dimiliki Negeri Ginseng tersebut. Mulai dari standar fisik akan kerupawanan individu, Korea mempunyai standar tertentu: harus tinggi semampai, kurus, mata belo, pipi tirus, bibir mungil dan tipis, kulit putih bersih. 

Dan agar bisa kelihatan cantik dan menawan, tak heran apabila operasi plastik sangat diminati oleh semua kalangan serta telah menjadi hal yang biasa disana.


Jika melirik ke tanah air, banyak orang, terutama dari kalangan artis, tidak lagi merasa canggung dan malu untuk mengakui wajahnya sudah dilakukan operasi. Padahal dahulu hal tersebut adalah sangat tabu untuk diungkapkan.

Memang, seiring dengan tingginya permintaan operasi plastik di dunia, terutama di Korea Selatan, dan banyak dilakukan oleh selebriti dunia dengan hasil yang bagus, tentu mengundang minat banyak orang untuk mencoba.

Melakukan operasi plastik adalah pilihan bagi individu masing-masing. Namun apabila sudah menjelma menjadi gaya hidup yang harus serba cantik dan menawan dengan pakaian yang bagus serta dilengkapi kosmetik mahal yang akan menambah prestisius individu, ini bisa sangat mencemaskan. Apalagi jika tingkat ekonomi individu tersebut rendah, sementara dituntut dandan selalu cantik demi nilai prestis semata.

Bahkan ekses budaya seperti itu bisa menimbulkan praktik diskriminasi ketika ada orang lain yang tampil polos tanpa make up dan berpakaian biasa saja bakal menjadi korban perundungan.

Bayangkan apabila anak-anak sekarang berlomba-lomba untuk tampil paling cantik, maka akan ada stratifikasi kelas tertentu yang membentuk kelompok berdasarkan level: cantik yang biasa, cantik yang menengah, dan cantik yang mewah. 

Budaya hedonis dan tingkat materialisme yang tinggi di Korea sangat memprihatinkan sehingga tingkat individualismenya juga tinggi yang berakibat tingkat kepedulian kepada sesama yang sangat kurang dan empati yang rendah. 

Korea Selatan juga terbiasa dengan budaya kapitalisme, meskipun budaya lokalnya masih dijunjung. Hal ini menyebabkan segala sesuatunya diukur dengan uang. Uang seolah menjadi dewa yang disanjung-sanjung.

Tentunya fenomena semacam ini akan membahayakan karena dapat menciptakan disparitas dalam pergaulan karena individu hendaknya tidak membeda-bedakan orang lain, apalagi berdasarkan kriteria dangkal semacam itu karena Indonesia adalah negara dengan berbagai kemajemukan.

Berbeda dengan Korea yang begitu homogen sehingga dalam pergaulan juga sangat terbatas dan membatasi diri. Korea cenderung melihat pada kesamaan tertentu ketika berinteraksi. 

Misalnya saja: orang yang berparas oriental dan sama keyakinannya akan lebih mudah untuk berinteraksi, namun untuk kulit yang bersawo matang dan berkeyakinan yang beda akan lebih sukar. 

Mereka juga tidak mau bersikap terbuka terhadap perbedaan dan sangat rasis. Korea merasa lebih unggul sebagai ras kuning sehingga cenderung dalam berperilaku merendahkan yang bukan dari bangsanya sendiri.

Perilakunya juga tidak seramah kita. Ketidakramahan itu juga diperparah dengan sikap pelit untuk membagi ilmu pengetahuan. Padahal Korea, bilamana posisinya sebagai mitra, seyogianya memberi saran perbaikan karena mempunyai segudang pengalaman tentang kesuksesan.

Memang pada dasarnya, ketika merasa unggul cenderung tidak mau membagi ilmu atau akan menciptakan level ketergantungan, baik disadari maupun tidak. Korea akan memasang berbagai trik dan cara dalam memenangkan bisnisnya sehingga pada akhirnya kita menjadi terjebak untuk terus mengikuti alur permainan dari Korea, meskipun sudah merugikan, seakan sudah untuk lepas.

Apalagi Korea sangat terkenal dengan kecanggihan di bidang teknologi informasi sehingga memiliki bekal informasi untuk memenangkan kompetisi dan terkadang juga melakukan manipulasi tertentu.

Begitu licinnya bisnis Korea, seolah bukan merupakan dosa besar karena makin berhasil dalam mendatangkan keuntungan bagi negaranya, maka mereka akan dielu-elukan sebagai pahlawan di negaranya, meskipun menggunakan cara-cara yang kurang baik.

Baca Juga: Virus K-Pop

Korea Selatan juga mempunyai sifat yang tidak mau disalahkan atas segala sesuatu yang terjadi sehingga akan mencari celah kesalahan yang nantinya dilimpahkan kepada pihak lain sebagai pembuat kesalahan. Hal ini tentu saja sangat tidak bijaksana. Namun itulah sisi buruk yang menjadi kebiasaan Korea. 

Kita hendaknya meniru hal-hal yang baik saja, misalnya: kedisiplinan, bekerja keras, pantang menyerah, dan lain-lain. Bukan mengekskalasikan segala hal yang berbau Korea, padahal kita tidak pernah tahu sisi buruk dan eksis negatif kebudayaan mereka.

Semestinya kita bangga dengan budaya kita sendiri. Kita terkenal dengan negara yang mencintai kemajemukan dan senantiasa menjunjung perdamaian, seperti halnya diplomasi bebas aktif yang kita anut, tidak memandang negara lain sebagai musuh.

Korea sebaliknya, Korea selalu bersikap waspada. Meskipun kepada teman, Korea selalu memiliki tingkat kecurigaan yang sangat tinggi. Mungkin diakibatkan oleh kisah historis mengenai permusuhan Korea Selatan dan Korea Utara ataupun hubungan yang kurang harmonis antara Korea dengan Jepang  yang menyebabkan efek psikologis selalu curiga. 

Bukankah bagi Korea sikap paranoid yang terkadang berlebihan itu justru bisa menyiksa diri sendiri?

Kita juga mungkin tidak terbiasa dengan sikap keras orang-orang Korea yang mungkin disebabkan oleh pendidikan militeristik yang merupakan kewajiban bagi semua warga pria. Akibatnya, banyak dari mereka yang suka bersikap kasar, bahkan kepada orang yang lebih tua. Sesuatu hal yang sangat tak lazim didapati di sini karena kita diajarkan untuk selalu menghormati orang yang lebih tua.

Itulah sekelumit sisi buruk Korea Selatan. Jika makin kenal budayanya, maka kita akan bangga dengan budaya kita sendiri, budaya Indonesia.

Artikel Terkait