Keriuhan perang kata-kata dan meme di media sosial, terutama Facebook dan Twitter, antara kubu Cebong dan Kampret sudah berkurang jauh. Ketegangan antarkelompok pun sudah mereda. Semua kembali berjalan normal. Normal?

Pada masa kampanye, banyak organisasi, terutama yang beridentitas alumni, menunda kegiatan pertemuan karena dikhawatirkan ada anggota yang saling sindir yang dapat menimbulkan perpecahan. Setelah pengumuman hasil pilpres, pertemuan antaralumni mulai digiatkan lagi. Semua kembali normal seperti sedia kala. Masa?

Sebenarnya tak bertatap muka pun perpecahan dapat terjadi. Dalam grup percakapan (WhatsApp Group) misalnya, sudah sering terasa tensi tinggi antaranggota yang berseberangan pandangan politiknya.

Masing-masing orang berbeda caranya deal dengan hal-hal yang mengganggu. Ada yang suka konfrontasi langsung, ada yang menanggapi seperti tidak pernah terjadi apa-apa, ada yang diam saja tapi memberi pengingat pada memorinya, “Hmm.. si Anu orangnya picik, dan si Ono ekstremis, dan si Polan itu dungu…”

Golongan yang terakhir ini yang biasanya tiba-tiba leave dari WAG. Malas, muak, bosan adalah beberapa alasan. Itu yang terjadi di WAG. Beda lagi dengan di FB. Tombol unfriend menjadi sasaran. Atau tombol mute di twitter.

Apakah kondisi pertemanan sungguh kembali normal? Mungkin normal yang baru (new normal), karena normal yang lama sudah berlalu. Sudah ada catatan pada dahi masing-masing yang akan menjadi variabel penilaian pada komunikasi selanjutnya.

Teknologi Digital Membantu Polarisasi 

Apakah kita berubah karena media sosial atau kita tetap orang yang sama tapi media sosial yang memperjelas posisi kita? Kedua hal tersebut bisa berlaku. Tapi sepertinya kebanyakan kita berubah setelah media sosial, karena kita adalah apa yang kita baca. Aku pernah menyinggung ini dalam tulisanku sebelumnya.

Karena media sosial, perhatian terhadap beberapa bidang makin besar, misalnya politik, agama, sosial budaya, dan lain-lain. Tapi dua hal pertama, politik dan budaya, merajai sumber konflik terbesar dalam pergaulan dunia maya, terutama di Indonesia.

Sudah banyak dibahas oleh para ahli dalam dan luar negeri bahwa media sosial, terutama Facebook dan Twitter, memberi kontribusi yang sangat besar dalam membuat polarisasi dalam masyarakat. Pada negara-negara yang menganut sistem demokrasi, masa kampanye menjelang pemilihan umum adalah masa di mana suhu politik meningkat tajam. 

Di Amerika Serikat umpamanya, hingga saat ini, terasa sekali peperangan antarkubu Republik dan Demokrat. Kelompok Kiri (Demokrat-liberal) menuduh Donald Trump adalah tokoh yang membuat polarisasi di USA. Sedangkan Kelompok Kanan (Republik-konservatif) mengatakan bahwa polarisasi sudah terjadi sebelum Donald Trump menjadi presiden, dan Trump adalah hasil dari polarisasi.

Yang lucu sebenarnya adalah Trump itu bukan konservatif. Dia mungkin lebih liberal dari Obama. Tapi karena dia menggunakan partai Republik sebagai kendaraan politiknya, jadilah dia konservatif.

Di tengah pertarungan politik kanan dan kiri, Donald Trump menjadi tokoh yang paling dibenci sekaligus paling dipuja saat ini. Ironis memang. Tokoh kontroversial ini tidak hanya dibenci atau dipuja oleh warga Amerika Serikat, bahkan dunia, termasuk di Indonesia.  

Di negara-negara Timur Tengah, kaum progresifnya sangat menyukai Trump sedangkan kelompok konservatifnya membenci. Sementara kondisi terbalik di negaranya sendiri.

Bagaimana Polarisasi di Indonesia? 

Setelah putusan sidang sengketa pilpres Mahkamah Konstitusi yang menolak seluruh gugatan Prabowo-Sandi, banyak tokoh menyerukan ajakan supaya rakyat kembali bersatu, termasuk Presiden terpilih, Joko Widodo.

"Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu kembali, bersama-sama membangun Indonesia memajukan negara Indonesia, Tanah Air kita tercinta. Tidak ada lagi 01 dan 02, yang ada hanya persatuan Indonesia," ujar Jokowi di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Kamis, 27 Juni 2019.

Apakah ajakan itu mendapat sambutan positif? Ya, disambut positif dari pihak pendukung Jokowi dan disambut sinis oleh pihak lawan. Kelompok yang pada masa pemilu membenci Jokowi akan tetap membenci. Terlepas dari apa motif politik di belakangnya, mereka akan tetap menghembuskan kebencian yang sama.

Di Amerika Serikat, ada istilah Trump derangement syndrome, yaitu reaksi negatif yang berlebihan dan tidak masuk akal terhadap apa pun yang dikatakan atau dilakukan oleh Presiden Donald Trump. Mereka histeris bila melihat atau membaca tweet Trump.

Syukurnya di Indonesia, tidak ada istilah Jokowi derangement syndrome. Tapi aku perhatikan, yang mengalami sindrom itu ada, walaupun mungkin jumlahnya tidak terlalu banyak. Kalah jauh jumlahnya dengan pembenci Donald Trump.

Mugkin karena temperatur politik di Facebook dan Twitter juga sudah mulai dingin. Panggilan kampret-cebong ke lawan politik sudah jarang terdengar. Pun di grup percakapan alumni menjadi lebih adem.

Apakah Pertemanan Kembali Normal? 

Ucapan tajam yang dilampiaskan lewat tulisan di media digital saat kampanye ternyata tidak gampang terhapus. Dia tidak hilang bersamaan dengan tensi politik yang mendingin. Tulisan pada media sosial saat kampanye telah memberikan catatan bagi masing-masing orang.

Terutama tulisan atau opini yang menghina orang yang memilih tokoh politik yang berbeda. Misalnya si A disebut tolol atau dungu karena dia memilih si X. Tulisan sejenis akan membekas di hati orang-orang yang dituduhkan, walaupun dia tidak mengonfrontasi tuduhan tersebut. Dalam hati berkata, “OK. Bye!”

Misalnya, apakah Rocky Gerung bisa bersosialisasi dengan normal lagi dengan orang-orang yang dulu dia sebut dungu? Rasanya sulit sekali. Demikian juga orang-orang yang terlalu vokal dari kubu Jokowi.

Dulu, saat pemilihan Gubernur DKI tahun 2012, pada putaran pertama, pilihanku adalah Faisal Basri. Sayang sekali dia gugur pada putaran pertama. Saat kampanye putaran kedua, ada sebuah akun Twitter yang kami saling follow, selalu menyebut tolol pada orang-orang yang memilih Faisal Basri. Tanpa konfrontasi, aku langsung unfollow akun tersebut.

Prinsipku adalah, kalo lu gak bisa menghargai pilihan orang lain, lu gak layak diajak berdiskusi. Banyak faktor mengapa seseorang memilih si A atau si B. Bila dia dikatai tolol karena hal tersebut, orang yang mengatai tolol itulah yang sebenarnya tolol.

Di Amerika juga seperti itu. Kaum kiri selalu berkata, “Trump itu rasis, semua orang yang mendukung dan memilihnya juga rasis.” Apakah orang-orang jadi berhenti mendukung Trump karena tuduhan itu? Sebaliknya, pendukung Trump makin banyak dari berbagai ras dan orientasi seksual.

Hobi orang-orang zaman sekarang adalah memberi cap atau label pada orang lain. Makin banyak kita berbicara, misalnya lewat video atau tulisan di media sosial, blog pribadi atau portal berita, berarti kita membuka diri untuk diberi label oleh orang lain. Dari buah pikiran kita, kita akan dicap liberal, progresif, moderat cenderung kiri, moderat cenderung kanan, konservatif, ultrakanan atau ultrakiri, dan lain-lain.

Klasifikasi pandangan politik itu memudahkan orang memilih kelompok mana dia lebih pas bersosialisasi. Orang ultrakanan atau ultrakiri sulit berkomunikasi dengan orang liberal bahkan moderat sekalipun. Demikian sebaliknya. Kutandai kau! Demikian kira-kira penilaian dalam hati.

Jadi, setelah suhu politik yang mendingin ini, apakah kita bisa berbaur dalam pergaulan seperti semula? Ada yang bisa, tapi banyak juga yang tidak bisa. Dunia digital telah memilah-milah penggunanya dan menghasilkan beragam kotak sesuai ide dan visi-misi masing-masing orang.

Dunia tidak akan pernah sama lagi seperti sebelum lahirnya zaman media sosial. Penyuka jengkol atau petai dari seluruh dunia akan berkumpul melawan pembencinya. Penyuka musik ngak ngik ngok dari seluruh dunia akan bersatu melawan pembencinya. Demikian juga pada bidang-bidang lain.

Warganet sekarang lebih gampang menghakimi tapi juga lebiih gampang tersinggung. Mau mengkritik tapi sumbu pendek kalau dikritik. Semua akan standar ganda pada waktunya. Sebutan Kampret-Cebong akan tenggelam sejenak, tapi komunikasi antarkelompok tersebut tetap tidak akan bisa seperti dulu lagi. So, biasakan dirimu!