Sipir itu ditemukan pada pagi hari tergeletak bersimbah darah. Matanya tercongkel dan kunci bekas mencongkel matanya masih tertancap di sana. 

Sipir apes itu ditemukan sipir lain di lorong penjara nomor 24. Di sana hanya ada sepuluh kamar penjara beserta tahanan yang mendekam di balik jeruji. Kamar nomor delapan terlihat kosong. Dua orang tahanan yang semula ada di sebaliknya kini entah ke mana.

Para sipir menduga si sipir nahas itu sengaja dibuat tak bernyawa saat mereka semua fokus menonton film layar kaca tengah malam di aula tengah. Bewor sedang tidur di pos ronda dekat warung kopi tak jauh dari penjara. Azan subuh baru saja menghiasi udara di langit-langit. Dua orang polisi mendekat ke warung kopi tadi.

“Kau lihat napi keluar dari penjara?” tanyanya kepada pemilik warung.

“Belum ada napi manapun yang datang ke sini.”

“Ini fotonya! Benar kau tidak melihat orang ini?” kata seorang dari polisi itu sembari menyerahkan foto.

“Siapa dia, aku tak mengenal orang ini.”

Dua polisi tadi kecewa karena tak mendapatkan informasi dari warung itu. Akhirnya mereka pun bergegas masuk ke dalam mobil, dan melesat pergi dengan sirine menyala keras. Suara sirine itu membuat Bewor tersentak, matanya tiba-tiba terbelalak. Namun saat ia berbalik tak ada mobil polisi ngetem di depan pos ronda, suara sirine pun sudah lenyap ditelan angin.

“Mereka mencarimu tadi!” terdengar suara dari samping saat Bewor duduk di pos ronda.

“Ah! Ternyata kamu, Gon! Kirain siapa!”

“Aku tak menyangka kamu senekat itu, sampai membunuh sipir segala!”

“Aku sudah tidak sabar, Gon. Aku ingin segera bertemu istriku, Yumi. Apakah kamu tahu dimana dia berada?”

“Dua hari lalu aku sempat menemuinya. Dia sudah tidak lagi di rumahnya yang dulu.”

“Kemana dia tinggal sekarang? Dan bagaimana dengan anakku?”

“Yumi dan anakmu ada di Cicalengka sekarang. Agak jauh dari rumahmu yang dulu.”

“Baguslah. Aku akan menemuinya.”

“Kebetulan hari ini aku mau ke Bandung, mengantar pesanan semen. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut denganku. Kamu bisa mengemudi?”

“Bisa.”

“Baguslah. Karena semalaman aku belum tidur, aku mau tidur dan kamu yang menyetir. Kamu tahu jalan ke arah Bandung, kan?”

“Mudah. Aku sering bolak-balik Bandung-Gresik.”

Bewor dan Gon melangkah ke mobil pikap yang terparkir di samping warung kopi yang hendak tutup karena matahari sudah cukup terang. Anak-anak memakai seragam sekolah melintas, ada yang naik sepeda, ada yang dibonceng orang dewasa. Tak tahu persis mereka orang tua anak-anak itu atau bukan. Bewor membuka pintu mobil pikap tadi, sementara Gon memastikan semen tertutup terpal, takut tiba-tiba hujan di jalan.

Bewor berada di balik kemudi. Ia menyalakan mesin mobil pikap yang suaranya masih mulus, Gon duduk di sampingnya. Mobil pikap itu melaju pelan di jalan kecil selebar kurang lebih sepuluh meter. Anak-anak memakai seragam masih kelihatan hilir mudik di jalan itu, orang-orang memakai jas kantoran juga tak kalah sibuknya. Setelah melewati jalan kecil, mobil pikap itu menemui jalan raya. Bewor segera membuat mobil pikap itu melaju menyalip mobil, truk, dan motor-motor yang melaju di hadapannya.

“Bahan bakar mobil ini tak cukup sampai Bandung, kita isi sebentar. Di depan ada pom bensin kita berhenti di sana. Kebetulan aku membawa baju ganti, kamu bisa melepas baju napimu.”

Mobil pikap itu melaju dengan kecepatan standar. Ia disalip mobil-mobil mewah, tapi juga menyalip truk-truk besar. Dari jauh Bewor melihat logo pertamina, dia pun menanyakan apakah itu pom bensin yang dimaksud Gon. Dan Gon mengiyakan, mobil pikap itu mulai menepi setelah penampakan pom bensin semakin jelas. Antreannya ternyata lumayan panjang. Bewor turun dengan membawa baju ganti itu dan memakai  jaket milik temannya, Gon menggantikan kemudi sementara untuk antre mengisi bahan bakar.

Sepertinya tidak ada yang menyadari kehadiran Bewor. Sebelum masuk ke toilet ia melihat wajahnya terpampang di sebuah kertas yang tertempel di papan pengumuman. Dia tahu kertas itu mengisyaratkan polisi tengah memburunya. “Mereka mustahil menemukanku,” pikirnya. Bewor masuk ke toilet pria tanpa diketahui penjaga yang sedang asik mengobrol. Ia keluar sudah berganti pakaian dan memasukkan selembar uang dua ribu ke kotak, penjaga masih sibuk mengobrol.

Gon sudah menunggu di dalam mobil pikap yang sudah terisi bensin penuh. Bewor membuka pintu mobil dan menutupnya kembali. Dia tak membiarkan kaca jendela mobil terbuka.

“Lama amat!”

“Aku berak dulu tadi.”

Mobil  pikap itu kembali melaju di jalan raya. Gon yang dari awal bilang ingin tidur saja tak kunjung terlelap pula. Barangkali karena kopi yang dia minum cukup banyak. Bewor di balik kemudi, cukup lama dipenjara nampaknya tak membuat kemampuan mengemudinya pudar. Bewor sangat lincah mengendari mobil pikap itu, caranya menyalip seperti pengemudi profesional saja.

“Kenapa membunuh sipir itu?”

“Kamu bertanya itu lagi? Sudah aku katakan, aku ingin bertemu Yumi, aku ingin bebas dari penjara!”

“Jatahmu bebas masih dua tahun lagi. Jika tertangkap, kamu bisa dipenjara lebih lama.”

“Aku tak bisa menunggu dua tahun lagi. Aku sudah muak dengan dinding penjara. Mendengar para sipir itu bercanda, kadang dia menghinaku!”

“Tabiat sipir memang seperti itu. Mereka menganggap napi adalah orang bodoh dan patut dibercandai. Tadi kamu bilang, kamu ingin bebas, benarkah?”

“Iya! Aku ingin terbebas dari dinding terkutuk itu! Aku ingin menemui istriku! Rasa rinduku sudah mendidih sejak dua puluh hari lalu. Aku ingin mencium bibirnya!”

“Apa kamu tak pernah berpikir kalau dengan bebas dari penjara, kehidupan yang akan menjeratmu kemudian?”

“Menjerat bagaimana?”

“Aku memang belum pernah masuk penjara, dan aku percaya penjara itu tempat paling busuk sedunia, yang bisa merengguh kebebasan seseorang. Tapi bagiku kehidupan nyata jauh lebih memenjara. Kelihatannya aku bebas, namun sejujurnya aku sedang terpenjara.”

“Jangan bertele-tele, apa maksudmu?”

“Aku setiap hari bekerja mengantar barang! Aku belum sempat menikmati kebebasan itu!”

Bewor pun terdiam, ia kembali fokus mengemudi. Mobil pikap itu melaju cukup cepat karena jalan raya agak lengang siang itu. Bewor mengemudi dengan sangat baik, ia melihat truk pasir di depan lantas menyalipnya dari arah kanan. Dia menoleh ke arah Gon, sahabatnya itu terlihat sudah capek dan pulas, saking lelapnya Gon meringkuk dekat jendela. Kepalanya mendongak ke atas dan mulutnya terbuka secuil. Dia mendengkur lirih.

Mobil pikap itu masih melaju. Bewor menyalakan radio dan mendengarkan musik demi mengusir sepi, kebetulan lagu-lagu Koes Ploes kesukaannya sedang diputar. Tidak terasa mobil pikap itu sudah memasuki Jawa Barat menjelang petang. Gon tiba-tiba terbangun.

“Tidurmu nyenyak sekali.”

“Sampai mana kita?” tanya Gon.

“Cirebon.”

“Syukurlah. Kamu kelihatan lelah. Kita mampir dulu di warung depan.”

Mobil pikap pun berhenti di sebuah warung makan saat matahari baru saja tenggelam. Dua orang itu makan sejenak. Sebelum melanjutkan kembali berjalanan menuju Bandung. Kini Gon yang mengambil kemudi.

“Kita lewat tol.”

“Terserah.”

“Lihat ada mobil polisi masuk tol,” kata Gon dan menunjuk mobil yang baru saja menyalip.

“Kok bisa?”

“Mereka akan menangkapmu!”

“Mana mungkin! Mereka mana tahu tempat tinggalku yang baru!”

Mobil pikap itu melaju kencang sekali. Hingga akhirnya mereka pun tiba di Cicalengka, tepatnya di depan gang sempit rumah Bewor yang baru. Gon menghentikan mobil pikap dan membangunkan Bewor. Dia terbangun dan menuding arah rumah Yumi yang baru. Bewor turun dari mobil dan Gon meninggalkannya. Ia melangkah masuk gang sesuai petunjuk Gon, dia menemukan rumahnya.

Bewor mengetuk pintu rumah bercat kuning yang dia yakini ada Yumi di dalam. Hari sudah gelap, pintu masih terkunci rupanya. Dia pun mengetuk pintu lebih keras. Seseorang membukakan pintu dan betapa kagetnya dia menjumpai polisi yang membuka pintu itu.