Berkat anugerah akal, ide menjadi sesuatu yang semestinya terus kita produksi. Bukankah berarti, manusia tanpa ide sama halnya dengan hidup tidak produktif, jauh dari kemajuan. Atau bahkan, ia adalah mayat yang hidup?

Melacak keberadaannya, muncul pertanyaan dasar, dari mana sebenarnya ide itu berasal? Asal usul ide coba kita telusuri dari beberapa sisi. Sisi tauhid, kebebasan individu dan sosial kemasyarakatan. Begitu jika kita percaya pada jalan religi dan juga ilmu pengetahuan. Sepanjang perjalanan peradaban, kemerdekaan ide sempat dikebiri oleh rezim-rezim kekuasaan absolut.

Sebelum bab pencerahan berlangsung, paduka dan hamba sahaya adalah status yang permanen. Kehendak keadilan sengaja disembunyikan oleh dominasi rezim politik absolut. Pada perkembangannya, bungkamnya ide melucuti fitrah-fitrah dasar kemanusiaan. Karenanya, gejolak pemberontakan dan kemarahan sosial politik meluap hebat di atas bara cita-cita revolusi. Ciptaan Tuhan, ide, tidak pernah kalah oleh apa pun, dan siapa pun!

Awal abad 19 mencatatkan diri sebagai bukti betapa ide memiliki kekuatan maha besar. Revolusi Prancis dan revolusi industri Inggris menandai kebangkitan ide. Dialihkannya tenaga manusia ke tenaga mesin menggelar ikhtiar kemenangan ide. Senada dengan seorang Jerman, Karl Marx (1818-1883), bahwa ide akan terus menerus hidup abadi. Sesuai kehendaknya, ide memang harus selalu hidup sebelum ia mati dengan sendirinya, atas izin ilahi.

Pasca keberhasilan kampanye ide, kondisi sosial politik negara-negara dunia banyak berubah. Pertarungan dua kiblat ideologi sosialisme-komunisme dan liberalisme berakhir dengan runtuhnya negara-negara sosialis komunis.

Francis Fukuyama mengumumkan kemenangan kebebasan dalam karyanya yang masyhur The End of History and the Last Man pada 1990-an awalAngin kebebasan pun berhembus kencang di seluruh sendi-sendi kehidupan dunia. Kemudian, dikembalikannya hak kebebasan masyarakat diterjemahkan dalam sejumlah pelembagaan formal sosial kemasyarakatan.

Penyelamatan atau Pengebirian? Manusia yang mencetuskan ide di dalam ruangan akan mampu mengguncang peradaban. Begitu petuah Isaiah Berlin, seorang Rusia yang turut mengilhami hidupnya kebebasan ide.

Tidak lain karena ide amat menghidupi, merawatnya adalah keharusan universal yang tidak dapat dikhianati oleh siapa pun, oleh rezim kekuasaan apa pun! Satu-satunya upaya untuk mewujudkannya yaitu melembagakan ide melalui legitimasi kekuasaan.

Namun pada faktanya, menyerukan dan menyuarakan keadilan sebagai bentuk penuangan ide masih terus menjadi fenomena yang tiada putus. Isu demokratisasi, sektarianisme agama, gender, dan separatisme mewarnai hiruk pikuk perhelatan sosial.

Invasi Amerika terhadap timur tengah, aksi peperangan Soviet-Afghanistan, perebutan wilayah Ukraina-Rusia, GAM di Aceh, dan fenomena ISIS akhir-akhir ini hanya sedikit dari sederet kasus yang mengorbankan ribuan, bahkan jutaan nyawa.

Faktanya, pertumpahan darah tersebut berlangsung persis setelah kemenangan ide dan kebebasan diproklamasikan pada era pencerahan, menggugah pertanyaan: benarkah ide manusia telah tampil sebagai pemenang?

Contoh di atas adalah kenyataan bahwa ide manusia, kebaikan universal, dan mimpi peradaban belum kita raih sepenuhnya. Secara terus menerus akan menjadi pekerjaan rumah bagi umat manusia untuk menggelar peradaban yang lebih baik.

Jerat Jeruji Kita. Belum berakhirnya kemiskinan di bumi adalah tanda bahwa perwujudan nilai-nilai kemanusiaan menunjukkan ketaksempurnaannya. Ketimpangan pendapatan, akses pendidikan, kemampuan daya beli yang terbingkai dalam kemiskinan menjadi bukti nyatanya.

Francis Fukuyama dalam The Origins of Political Order melempar kritik kepada karya pendahulunya Samuel Huntington. Ketergantungan negara-negara dunia ketiga terhadap negara barat (baca: Amerika Serikat) bukan dikarenakan ketidakmampuan ekonomi seperti versi Huntington, tetapi lebih kepada ketidakmampuan politik (Political Decay).

Ketimpangan menganga lebar, kemiskinan terus menerus berlangsung. Oswaldo de Rivero (2008) menyatakan injeksi bantuan dana kerjasama dan pemberian hutang negara kaya untuk negara miskin tidak lebih dari hanya sekadar mitos pengentasan kemiskinan yang dikreasi untuk melanggengkan kekuasaan.

Pola pengembangan ide di negara-negara miskin lebih terbatas karena kesenjangan akses terhadap ilmu pengetahuan dan keterampilan. Sampai taraf ini, kita paham bahwa kondisi ekonomi menempati posisi krusial.

Berbeda dengan Huntington, Francis Fukuyama menekankan pada analisis politik ketimbang ekonomi. Potensi praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menjangkit negara-negara dunia ketiga disebabkan karena ketidakmapanan lembaga politik di dalamnya. Belum lagi merebaknya apatisme publik, money politics, dan supremasi hukum. Pembususkan politik (political decay) telah terjadi di dunia ketiga sehingga mereka menjadi miskin.

Setelahnya, selebrasi diakuinya ide dan kebebasan melalui proses kebijakan publik yang melibatkan partisipasi publik direkomendasikan untuk keluar dari permasalahan ini.

Format proses kebijakan publik (input, proses, dan output) pada tahap input digadang-gadang sebagai usaha mengakomodasi partisipasi publik melalui peran tuntutan dan dukungan (David Easton: 1965). Tetapi di sisi lain, pengambilan kebijakan hanyak ditentukan oleh para pemangku kebijakan pada tahap proses/konversi.

Perumusan ini menyimpan kecenderungan bahwa sebenarnya format yang diajukan adalah usaha penguasa, setting penguasa mempertahankan kemegahan kekuasaan sehingga terjadi pembusukan politik (political decay). Karena pembusukan politik, akses ide juga terpenjara. Dari aspek politik, pelibatan partisipasi publik juga masih belum sempurna benar. Kondisi kemanusiaan tak kunjung sembuh..

Rasio: Sang Juru Selamat. Dengan beragam musabab ketimpangan ekonomi, akses pendidikan, kemiskinan, sampai pada belum mapannya lembaga dan mental politik, masalah kemanusiaan tak pernah absen bertebaran mengisi ruang publik kita. 

Sederet pemikiran telah dituangkan oleh para tokoh dunia lintas generasi. Mulai bab sebelum pencerahan sampai pramodern, modern, hingga kini. Lantas sesungguhnya, apa dan bagaimana cara untuk melepaskan jerat jeruji kemanusiaan kita ini?

Kaum buruh, rekomendasi teoritisi Jerman Karl Marx, gagal merebut faktor-faktor produksi dari kelas borjuis lantaran ketidakberdayaan intelektual. Setelah rumusan intelektual organis rekomendasi Antonio Gramsci juga gagal memenangkan revolusi sosial politik dunia lantaran terjerembabnya kaum terpelajar pada virus apatisme, oportunisme, dan virus-virus mematikan lainnya.

Orientasi gelar semata yang tidak diimbangi oleh mental karakter seorang terpelajar menjalar hebat, ciutnya nyali mahasiswa seperti di Malaysia untuk melancarkan kritik kepada pemerintah menjadi daftar panjang kegagalan intelektual organis Antonio gramsci.

Rasio adalah jawabnya. Titik pencarian yang menjadi rekomendasi setelah usaha sebelumnya seperti terurai di atas tidak lagi dipercaya ampuh untuk mengakhiri derita kemanusiaan. Adalah Jurgen Habermas, generasi kedua mazhab Frankfurt yang memberikan rekomendasi.

Melalui rasio, tindakan manusia akan rasional di ruang publik. Melalui rasio, kepentingan kekuasaan dapat dikesampingkan. Melalui rasio, keadilan dan kebaikan universal akan berpihak.

Mari mensyukuri, merawat rasio kita, ide kita, akal sehat kita! Mari menjemput mimpi kemanusiaan kita!