Rabu, 18 Desember 2019, adalah hari pengukuhan Doktor Honoris Causa (Dr.Hc) kepada Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan judul pidato ilmiah “Inklusi dalam Solidaritas Kemanusiaan: Pengalaman Spiritualitas Perempuan dalam Kebinekaan”.

Menurut Prof. Dr. Marhumah selaku ketua tim verifikasi bahwa gelar kehormatan diberikan karena ibu Sinta Nuriyah telah berjasa dalam memperjuangkan perdamaian di Indonesia dan melakukan aksi nyata untuk kemanusiaan kepada kelompok marginal semenjak tahun 1998, meski mendapat penolakan keras dari kelompok Islam garis keras, dalam hal ini Front Pembela Islam (FPI)

Acara tersebut dihadiri oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM (Menkopolhukam) Prof. Mahfud, MD, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Feminis Islam dari Virginia Prof. Aminah Wadud, perwakilan seluruh organisasi se Daerah Istimewa Yogyakarta, para akademisi dosen dan peneliti, mahasiswa pascasarjana dan ratusan peserta lainnya.  

Tulisan ini adalah penjelasan dari teks pidato yang disampaikan oleh ibu Sinta, dan merupakan bentuk cinta dan penghormatan kepada ibu Sinta atas kepeduliannya kepada kaum miskin, kelompok marginal, masyarakat minoritas dan kelompok rentan.

Mengenal Ibu Sinta Nuriyah 

Ibu Sinta dilahirkan di Jombang pada tanggal 8 Maret 1948. Seorang istri dari almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) president ke 4 Republik Indonesia, ibu dari empat orang putri yaitu Alissa, Yenni, Anita dan Inayah, dan ibu Negara yang mendampingi gus Dur hingga akhir hayatnya.

Pendidikan ibu Sinta dimulai di Sekolah Rakyat (SR) di Jombang Jawa Timur, kemudian Madrasah Muallimat Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, melanjutkan kuliah Strata 1 di Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan kemudian melanjutkan ke program Pascasarjana kajian wanita Universitas Indonesia.

Ibu Sinta mengawali karir sebagai wartawan di Majalah keluarga “Zaman” dan majalah laki-laki “Matra” sejak tahun 1980 hingga tahun 1985. Sebelumnya ibu Sinta membantu mengajar di pondok pesantren Manba’ul Ma’arif Denanyar Jombang dari tahun 1972 hingga tahun 1980.

Dalam perkembangan selanjutnya, ibu Sinta aktif di organisasi Muslimat Komisi Nasional Kedudukan Wanita Indonesia (KNKWI), juga di Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) dan melakukan pendampingan rohani di rumah tahanan.

Ibu Sinta memiliki keprihatinan kepada perempuan dan kesetaraan gender dalam Islam. ibu Sinta menginisiasi lahirnya Yayasan Puan Amal Hayati, sebuah yayasan yang peduli terhadap nasib kehidupan perempuan dan fokus pada pengkajian dan diskusi kitab kuning yang dijadikan sebagai rujukan di pesantren tradisional di Indonesia.

Dalam substansi pembahasan kitab kuning, ditemukan beberapa pembahasan yang bias gender kepada perempuan seperti poligami, hak dan kewajiban istri kepada suami, hukum waris yang tidak adil kepada perempuan, saksi dua orang perempuan yang setara dengan satu laki-laki dan lain sebagainya.

Keprihatinan inilah yang menjadikan ibu Sinta melahirkan Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) dengan melakukan pengkajian ulang kitab Uqudullujain fi Bayani Huququ al-Zaujain karya Syekh Nawawi al-Bantani. Hasil kajian tersebut dicetak menjadi buku dengan judul Kembang Setaman Perkawinan, Wajah Baru Relasi Suami-Istri dan lain sebagainya.

Pemikiran dan Aksi Kemanusiaan Ibu Sinta Nuriyah 

Ibu Sinta menyampaikan dalam pidato pengukuhan gelar Doktor Honoris Causa bahwa kepedulian kepada kelompok marginal melalui program pluralisme dan kemanusiaan dilakukan karena tragedi mei 1998.

Menurutnya tragedi mei 1998 merupakan tragedi menyedihkan yang meruntuhkan nurasi kemanusiaan bangsa Indonesia. Sehingga pasca tragedi tersebut, ibu Sinta menyadari bahwa “kerukunan” menjadi penting dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Pandangan ibu Sinta tentang toleransi dan pluralisme adalah bahwa Tuhan melarang tindakan koersif terhadap kepercayaan/agama yang berbeda karena puncak pengadilan tertinggi terhadap keimanan hanya dimiliki oleh Tuhan. Karenanya kesombongan teologis yang menjadi faktor utama dalam pertikaian antar agama dan antar budaya, serta menyulut tindakan brutal dengan melakukan pengrusakan dan penutupan tempat ibadah keyakinan/agama lain seharusnya itu tidak terjadi.

Ibu Sinta menegaskan bahwa pluralisme merupakan satu kata untuk menjelaskan satu tatanan dunia baru dalam masyarakat yang heterogen baik budaya dan agama untuk menampilkan kerukunan dalam keberagaman bangsa Indonesia.

Pandangan ibu Sinta yang demikian melahirkan aksi nyata dengan melakukan kegiatan sahur keliling sejak tahun 2000 hingga sekarang dan dilaksanakan setiap kota di Indonesia. dalam kegiatan tersebut, jamaah sahur keliling adalah kaum miskin, tukang becak, pemulung, pengamen, ibuk-ibuk bakul di pasar dan kelompok minoritas lainnya.

Penekanan kepada kegiatan sahur dan bukan buka puasa adalah karena pembagian nasi (takjil) ketika buka puasa ramadhan “telah” menjadi kebiasaan di hampir masyarakat di perkotaan. Sedangkan pembagian nasi untuk sahur menurut ibu Sinta masih belum menjadi kebiasaan masyarakat.

Pemberian makan ketika sahur bulan puasa adalah karena puasa tidak hanya merupakan rutinitas keagamaan tahunan, melainkan puasa didalamnya terkandung pesan moral serta ajaran nilai-nilai luhur yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti jujur, sabar, sederhana, kasih sayang dan lain sebagainya.

Karenanya, ibu Sinta menjadikan bulan ramadhan sebagai wahanan dan gerakan kepedulian sosial kemanusiaan yang terbebas dari sekat-sekat keagamaan, sosial, ekonomi dan politik.  

Kegiatan sahur keliling yang diinisiasi oleh ibu Sinta dilaksanakan dengan melakukan kerjasama lintas agama dengan kelompok Matakin (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia), keuskupan Jakarta, Hindu Bali, Budha, Baha’ie, INTI, ANBTI, Jama’ah Imaillah Ahmadiyah, Gusdurian, Ansor serta organisasi keagamaan lainnya.

Berdasarkan pemberitaan di media massa, aksi sahur keliling setiap tahun mendapatkan penolakan keras dari banyak pihak terutama kelompok Islam garis keras seperti Front Pembela Islam (FPI).

Tetapi meski mendapat penolakan keras setiap pelaksanaan sahur keliling, aksi sahur keliling setiap tahun terus dilaksanakan hingga sekarang di usia pelaksaan ke-19 tahun.

Aksi-aksi nyata perjuangan ibu Sinta mengantarkannya menerima berbagai penghargaan baik nasional maupun internasional seperti Soka Women’s College Comendation of Friendship dari Soka Women’s College Universitas Soka Tokyo Jepang sebagai pejuang perempuan tahun 2012.

Juga memperoleh penghargaan internasional sebagai 11 perempuan paling berpengaruh versi harian New York Times  tahun 2017. Kemudian masuk 100 tokoh orang paling berpengaruh di dunia versi majalah Time kategori tokoh pejuang perempuan dan kaum minoritas tahun 2018.  

Menkopolhukam Prof. Mahfud, MD mengatakan dalam pidato sambutannya bahwa penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa kepada ibu Sinta adalah bukti inklusi solidaritas kemanusiaan.

Selamat ibu Sinta Nuriyah. Jejak perjuanganmu akan abadi di hati kelompok marginal.