Kejawen atau Jawanisme dikenal sebagai sebuah kepercayaan yang dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di pulau Jawa. Kejawen hakikatnya adalah suatu filsafat di mana keberadaanya sudah ada sejak orang Jawa itu ada.

Banyak yang mengira jika Kejawen adalah percampuran antara agama dari luar tanah Jawa dengan kebudayaan asli Jawa. Walau pada kenyataannya, Kejawen adalah "produk" dari budaya Jawa itu sendiri.

Hal ini dapat dibuktikan dari naskah kuno yang dibuat pada zaman Kerajaan Kediri, yaitu Jangka Jayabaya yang digubah dalam kitab Musasar. Dalam bagian Sinom, disebutkan bahwa Prabu tusing waliyulah, kadhatone pan kekalih, ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji (Raja keturunan waliyullah berkedaton dua, di Makkah dan Tanah Jawa).

Maksud dari perumpamaan ini adalah pemimpin Islam yang menghormati leluhurnya dapat menyatu dengan ajaran atau tradisi Jawa. Kalimat ini menjadi pembenaran bagi beberapa penganut Islam Kejawen dan Kejawen murni yang menganggap Jangka Jayabaya sebagai kitab suci mereka.

Setaraf dengan sistem kebudayaan Jawa, terdapat banyak keyakinan, konsep, pandangan, dan nilai dari agama di dalam Kejawen. Orang Jawa sendiri memiliki keyakinan bahwa semua hal di dunia memiliki makna. Kesadaran kultural inilah yang sering dianggap sebagai sumber kebanggan dan jati diri mereka. 

Oleh karena itu, penganut Kejawen percaya bahwa keselarasan antara pikiran dan alam semesta akan melahirkan ketenangan batin. Pendapat ini selaras dengan sifat dasar orang Jawa yang mencintai kedamaian dalam hidupnya. 

Sinkretisme Islam dan Kejawen

Sinkretisme antara agama Islam dan Kejawen sebenarnya mempunyai pengaruh besar dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Sebelumnya, agama Islam telah masuk ke Indonesia lewat pedagang dari Gujarat maupun Timur Tengah. Beberapa ahli bahkan mengeklaim bahwa pedagang dari Tiongkok turut ambil bagian dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa. 

Awalnya, agama Islam hanya dianut oleh masyarakat yang tinggal di pesisir pantai. Islam dianggap asing oleh penduduk pedalaman atau yang berada di daerah pegunungan, karena saat itu pengaruh Hindu-Buddha masih kuat. Setelah diteliti, kondisi geografis seperti inilah yang membuat akulturasi antara Islam dan Kejawen makin kuat. 

Seperti yang telah disebutkan, kondisi geografis sangat berpengaruh dalam sinkretisme. Sama halnya dengan Islam Kejawen. Islam Kejawen menjadi makin kuat ketika takhta kerajaan Demak dipindahkan ke Pajang kemudian ke Mataram, di mana secara geografis keduanya terletak di pedalaman. 

Setelah keraton pindah, masyarakat di sekitarnya lebih bertumpu ke bidang pertanian yang tidak memerlukan mobilitas dari satu tempat ke tempat lainnya. Dampaknya, proses Islamisasi terhenti dan menggerakkan kembali budaya dan kepercayaan lama Jawa. 

Sinkretisme ini makin subur setelah Mataram Islam didirikan, karena mereka menjaga tradisi-tradisi leluhur mereka dalam ritual Islam. Dalam kurun waktu inilah Islam dipahami dan diamalkan dalam bentuk sinkretisasi dengan budaya Jawa.

Kekuatan politik Islam yang makin melemah juga berpengaruh pada syiar adat istiadat Jawa yang kembali menguat. Islam yang murni beralih ke arah mistisisme yang belatar Kejawen. Hal ini terlihat pada masa Panembahan Senopati, seorang keturunan Majapahit yang mengawinkan unsur Hindu dengan Islam. 

Juga, penyebaran agama Islam di Indonesia, terutama di Jawa, tidak lepas dari peran Wali Songo yang memusatkan dakwahnya di pulau Jawa. Di samping pandangan Jawa yang sangat tepo seliro, metode dakwah Islam oleh Wali Songo juga dianggap sangat elastis dan akomodatif terhadap unsur-unsur lokal di sana. 

Maka tidak heran jika dakwah Wali Songo sangat lekat dengan pengaruh budaya Jawa itu sendiri. Beberapa wali bahkan menggunakan pendekatan Kejawen untuk menarik simpati warga untuk memeluk agama Islam. Beberapa orang bahkan menyebut bahwa Islam Kejawen muncul bersamaan dengan datangnya Wali Songo.

Misalnya saja Sunan Kalijaga yang menggunakan pertunjukan wayang, gamelan, dan menciptakan pupuh yang berdendangkan ajaran Islam sebagai metode dakwahnya. Sunan Kalijaga bahkan mengganti ajaran ngaben atau upacara kematian Hindu menjadi tradisi tujuh harian, empat puluh harian, dan lain sebagainya. 

Proses upacara kematian yang dibilang cukup mahal dan tidak bisa dilakukan oleh penduduk yang kurang mampu, diubah menjadi acara membaca Alquran bersama dengan jamuan dari keluarga yang berduka. Sekalipun bertemakan Islam, namun tetap saja hal tersebut masih kental dengan adat Hindu.

Namun, walau menganut Islam Kejawen, orang Kejawen tetap dipengaruhi dengan pemikiran atau konsep norma dan nilai-nilai budaya yang berada di alam pikirannya sendiri. Oleh karena itu, sebagian besar penganut Islam Kejawen kurang serius dalam menjalankan rukun Islam. 

Banyak dari mereka yang meninggalkan salat lima waktu, salat jumat, memakan babi, dan enggan melaksanakan ibadah haji. Mereka melakukan itu bukan karena tidak taat beragama atau tidak memikirkan aturan agama, tetapi karena hal itu sering kali menyita waktu mereka. 

Kaum abangan dan santri

Tidak selamanya hal baik dalam ajaran Kejawen dianggap baik pula oleh masyarakat Jawa lainnya. Para penganut Islam Kejawen, yang identik dengan kaum islam-abangan, dikenal selalu bergesekan dengan kaum islam-santri.

Terdapat perbedaan universalisme dari "harapan" kehidupan akhirat kaum santri dengan pragmatisme dan relavitisme dari kaum abangan di tanah Jawa. Pandangan tersebut lahir karena kaum abangan memandang Islam sebagai agama Arab.

Hal itu menjadi salah satu alasan mengapa mereka tidak pernah menjalakan beberapa aturannya dengan sepenuh hati. Bagi mereka, melakukan ritual agama setiap hari tidaklah sepenting berbuat baik dan berlaku jujur kepada sesamanya. 

Mereka tidak begitu menghargai tindakan ritual karena menurut mereka kesucian sejati adalah persoalan kehidupan pribadi; itu adalah masalah batin. Itulah sebabnya tempat ibadah bukan di masjid atau gereja, tetapi di dalam hati masing-masing.

Untuk menentang pendapat-pendapat tersebut, kaum santri menuduh orang abangan sudah melakukan perbuatan bidah, menganut penafsiran Islam sesat, dan menjadi musyrik.

Dalam sisi historis, bisa dibilang gesekan-gesekan ini timbul karena gesekan "awal" antara kaum pribumi dengan penjajah, yang membuat orang Jawa tersadar untuk merenungkan keberadaan mereka dan memacu konstruksi jati diri Jawa di dalam hati mereka. 

Petentangan itu berkembang menjadi santri dengan abangan, Jawa dengan Eropa, dan dunia Timur yang oriental dengan Barat yang materialistik.

Perkembangan kedua paham yang berbeda ini pun mencapai puncaknya saat Muhammad Abduh dari Mesir mengilhami reformisme Islam di Jawa. Gerakan ini melahirkan Muhammadiyah pada tahun 1912. 

Kelahiran Muhammadiyah diikuti dengan berdirinya Sarekat Islam di tahun yang sama, membuat Islam tampil sebagai anti-Kolonialisme dan Tionghoa. Secara tidak langsung, modernisme organisasi-organisasi ini mendorong para santri tradisional yang berorientasi Jawa untuk bersatu juga.

Pada tahun 1926, lahirlah Nahdlatul Ulama yang bertujuan untuk mempertahankan kewibawaan para ulama, mistisisme sufi, dan pemuliaan terhadap para wali di tanah Jawa.

Hal ini berpengaruh dalam penyebaran Islam di tanah Jawa sampai ke seluruh pelosok Indonesia. Dua organisasi besar Islam, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, bisa disebut sebagai wujud dari "gesekan" antara golongan santri dan abangan sampai saat ini. 

Para pengikut Nahdlatul Ulama yang masih melakukan selametan, yasinan, dan ritual lainnya yang diturunkan dari Wali Songo adalah hasil dari sinkretisme Kejawen dan Islam di masa lampau.

Namun tidak seperti kedua organisasi di atas, yang sudah diakui oleh khalayak umum, para penganut Kejawen sendiri justru sering mendapat tekanan setelah Indonesia merdeka. Mereka bahkan dibantai pada awal Orde Baru karena ditengarai telah membantu PKI pada tahun 1965-1966. 

Setelahnya, para penganut Kejawen pada masa Orde Baru sendiri tidak dapat diidentifikasi secara pasti. Mereka mungkin berstatus Islam, Katolik, atau Protestan, namun dalam kesehariannya menganut Kejawen. 

Hal ini jelas karena pada saat itu hanya diakui lima agama, dan tidak ada Kejawen di dalamnya. Sebagai akibatnya, Kejawen pada masa ini tidak dimengerti oleh orang Jawa sendiri. Banyak dari mereka yang menganggap Kejawen sebagai klenik atau takhayul yang sudah ketinggalan zaman.

Perubahan zaman, pendidikan umum, dan gagasan-gagasan baru yang beredar turut menempa pemikiran tentang Kejawen, khususnya Islam Kejawen. Saat ini, para penganut kebatinan seperti Kejawen makin terpinggirkan. Perlahan tapi pasti, mereka pun akan punah karena sulit untuk bertahan di era yang makin modern.