Dunia telah berubah di jalan yang tidak terbayangkan di 100 tahun terakhir. Perkembangan dari hasil daya cipta manusia mulai menuju kepada kehidupan dunia yang modern. Lebih mencengangkan adalah cara kita dapat berkomunikasi satu sama lain hari ini (Lee Kuan Yew, 2013).

Sebagai seorang siswa di Singapura pada tahun 1930-an, Lee Kuan Yew pernah menunggu kapal yang datang pada hari Kamis atau Jumat, berlayar lima atau enam minggu dari Inggris untuk membawa the boys’s journals yang ia suka membacanya.

Hari ini, surat tersebut dibawa hanya beberapa jam dengan pesawat jet. Tetapi kondisi lainnya itu lebih mudah dan cepat untuk mengirim pesan dan menerima balasan dengan SMS dan email melalui telepon dan internet dengan sangat cepat.

Perubahan dunia ini membawa dampak yang besar bagi Negara Singapura. “Saat kami merdeka, Singapura merupakan kota yang cukup bobrok. Banyak kerusakan sehabis perang, namun kami membangun kembali,” kata Lee Kuan Yew.

Singapura telah mengubah sebuah mindset dari hakikat sebuah negara. Bahwa negara yang memiliki wilayah kecil dan sumber daya alam terbatas dapat tumbuh menjadi negara maju. Hal tersebut tidak lepas dari kepemimpinan Lee Kuan Yew Perdana Menteri pertama Singapura.

Tuturnya dalam buku One Man’s View of the World yang dibuatnya:

Dua kunci negara yang tindakan dan keputusannya akan memiliki dampak yang besar bagi dunia adalah Amerika dan China. Singapura telah mencoba untuk memiliki banyak jaringan yang mungkin dengan negara lain-–Eropa, Jepang, Korea Selatan, negara-negara Asia Tenggara, India dan Timur Tengah.

Singapura terlalu kecil untuk mengubah bangsanya tetapi kami dapat mencoba untuk memaksimalkan ruang yang kami punya untuk mengarahkan antara wilayah besar. Itu telah mendekatkan kami dan kami harus menjadi cepat dan memastikan bahwa hal tersebut berkelanjutan ke depannya.

Menurut Lee Kuan Yew, kunci keberhasilan Singapura dalam menjadi negara maju adalah karena tekad dan kerja keras dari rakyatnya. Beliau memimpin negaranya seperti memimpin sebuah perusahaan, yang membutuhkan tekad, kerja keras, dan disiplin tinggi. Jadi tidak heran kalau ia menerapkan sistem pemerintahan yang otoriter demi mencapai tujuan-tujuan negaranya.

Strategi pembangunan yang digunakan oleh Lee Kuan Yew adalah bina bangsa (nation building) dan orientasi pembangunan pada pertumbuhan ekonomi. Ia memilih proses bina bangsa karena Singapura merupakan negara kecil yang multietnis yang selalu rawan konflik.

Dengan melakukan bina bangsa, ia menanamkan semangat nasionalisme yang tinggi terhadap rakyatnya. Jika rasa nasionalisme benar-benar tertanam secara kuat dalam tiap individu, niscaya tidak akan ada konflik-konflik karena perbedaan etnis, agama, ataupun bahasa, sehingga diharapkan rakyat akan tetap terintegrasi dan memunculkan kestabilan untuk mendukung pemerintah.

Kemudian yang kedua adalah orientasi pembangunan pada pertumbuhan ekonomi. Dengan orientasi pembangunan seperti ini maka pemerintahnya akan menerapkan kebijakan publik yang rasional dan selalu memikirkan efisiensi dan efektivitasnya.

Hal pertama yang dilakukan oleh pemerintah Singapura adalah menutup saluran demokrasi, karena demokrasi dianggap sebagai penghambat pembangunan. Apalagi dengan komposisi negara yang multietnis dan dikhawatirkan akan memunculkan konflik sosial.

Karena itu pemerintah Singapura tersentralisasi demi mencapai efisiensi dan juga menetapkan aturan-aturan yang keras dan tegas. Misalnya aturan-aturan untuk menekan kelompok oposisi dan pembatasan hak berpendapat bagi rakyat.

Hukuman akan selalu didapat apabila ada orang-orang yang menentang kebijakan pemerintah. Penerapan sistem otoritarian tersebut ternyata berhasil untuk mewujudkan ketertiban dalam negara Singapura, melaksanakan pasar ekonomi terbuka, dan pemerintahan yang bebas korupsi.

Strategi pembangunan yang digunakan oleh Lee Kuan Yeuw berhasil membangun budaya kerja dan semua rakyat Singapura bahu-membahu untuk memajukan negaranya.

Secara spesifik, Lee Kuan Yeuw memaparkan dalam bukunya One Man’s View of The World, tiga kualitas yang menentukan kesuksesan Singapura:

  1. Membuat negara menjadi tempat yang aman dan damai untuk hidup dan bekerja
  2. Memperlakukan setiap warga negara sama
  3. Memastikan keberhasilan berkelanjutan bagi setiap generasi Singapura

Tanpa tiga faktor dasar yang telah dibangun oleh Singapura selama ini, Singapura akan kehilangan keberhasilan dan kusuksesan seperti yang dirasakan sekarang. Investor, warga lokal dan pendatang harus merasa yakin ketika mereka berkunjung dan berinvestasi di Singapura. Tiga faktor ini yang menjamin keberlanjutan masa depan Singapura.

“If I had oil and gas I’d have a different people, with different motivations and expectations, it’s because we don't have oil and gas and they know that we don’t have, and they know that this progress comes from their efforts, so please do it and do it well,” kata Lee Kuan Yew dilansir The New York Times.