Salah satu film sinetron yang populer saat ini adalah "Dari Jendela SMP", yang tayang setiap malam di SCTV mulai pukul 19.05 WITA. Dalam sinetron tersebut, menceritakan kisah antara Joko dan Wulan sebagai tokoh utama dalam film itu. Percintaan dari kedua tokoh tersebut menggambarkan kondisi kasmaran anak muda pada masa sekolah.

Sebagai sinetron yang populer tentu dapat berpengaruh besar terhadap para penonton. Pemikiran dan tindakan akan terobsesi dari tayangan yang ditampilkan dari film tersebut. Sehingga tidak heran jika perilaku-perilaku seseorang saat ini menjadi lebay dan bergaya hedonis, seakan menampilkan diri sebagai manifestasi dari perilaku film dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu pun dengan penilaian terhadap orang di sekitar kita, dengan menilai hanyalah sebatas pada penampilan seperti para tokoh dalam dunia perfilman. Penokohan dengan karakter buruk di film akan dinilai sama di lingkungan nyata. 

Seperti orang yang berperan sebagai tokoh jahat, biasanya berambut gondrong dan bertato. Nah, itulah yang terjadi dalam masyarakat hari ini, orang gondrong dan bertato sering diklaim sebagai seorang preman, peminum minuman keras, dan semua tindakan-tindakan brutal lainnya.

Inilah pentingnya dalam sinetron perlu untuk memperhatikan pendidikan yang berkarakter dan memiliki nilai-nilai yang positif. Bukan semata-mata hanya untuk mencari kepentingan segelintir orang saja, yang justru dapat mengakibatkan proses kapitalisasi dapat bergerak secara leluasa. 

Kembali pada sinetron "Dari Jendela SMP", saat ini juga sudah banyak beradar di akun media sosial seperti Facebook mengenai foto atau film pendeknya, yang mengakibatkan para anak muda banyak baper. Menggemparkan akun media sosial mereka dan mencontoh dengan tidak memperhatikan unsur negatif dan positifnya.

Walaupun percintaan anak muda adalah sifat alamiah dan sesuatu yang lumrah, akan tetapi ada aturan dan batasan tersendiri yang perlu diperhatikan. Agar tidak terjerumus dalam fitnah dan kehancuran. Aturan itu bertujuan agar nantinya dapat sampai pada kehidupan rumah tangga yang sah dalam ikatan perkawinan antara laki-laki dan perempuan.

Akan tetapi, yang perlu dipahami bahwa penafsiran terhadap sinetron tersebut berbeda-beda dari masing-masing individu seseorang. Di mana pengaruhnya dapat berdampak sangat besar pada pemikiran.

Saat ini, istilah bucin (budak cinta) di kalangan generasi muda telah menjadi dogma dan kebiasaan. Merasa minder atau tidak gaul ketika ketinggalan dengan budaya-budaya seperti demikian. Akhirnya, banyak anak muda menjadikan sekolah sebagai ajang mencari pasangan untuk dijadikan sebagai pacarnya.

Kondisi seperti ini bukan hanya di kalangan SMP atau SMA saja, namun juga sudah banyak terjadi di lingkungan Sekolah Dasar (SD). Meskipun, tidak semua melakukan hal seperti itu akan tetapi sangat disayangkan jika hal itu terjadi karena dapat mengganggu proses pendidikan sekolah anak.

Masalah fatalnya ketika terjadi kasus pelecehan seksual, hamil di luar nikah, dan terjadinya pernikahan dini. Padahal, pernikahan dini adalah sesuatu yang dapat memutus masa depan dan cita-cita seorang siswa. Dan juga secara biologis pernikahan dini dianggap belum mapan, kemudian kedewasaan berpikir masih terlalu minim.

Sejatinya pendidikan sekolah merupakan sebagai tempat pembentukan karakter dan pribadi yang baik agar nantinya dapat menjadi generasi yang kontributif pada tanah air. Tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan dapat bermanfaat untuk orang banyak.

Inilah mengapa menuai terjadinya kritik terhadap sinetron "Dari Jendela SMP". Bahwa secara tidak sadar sinetron tersebut dapat merusak reputasi anak bangsa yang mengakibatkan terjerumus pada kisah percintaan anak muda, dengan melalaikan pendidikan sekolah sebagai hal yang utama.

Dalam sinetron tersebut memperlihatkan objek sekolah masa SMP yang mengundang pro-kontra.  Dan secara tidak sadar anak SMP ketika mengonsumsi dan menafsirkan sinetron tersebut akan lebih terbawa pada kisah-kisah percintaan sebagai sesuatu yang lumrah. Apalagi dapat dikatakan bahwa masa SMP sebagai puncak timbulnya ada rasa saling suka terhadap sesama jenis.

Oleh karena itu, perlu untuk tetap memperhatikan dalam memberikan pendidikan yang dapat mengembangkan potensi para siswa. Karena masa pendidikan, pernikahan dan pekerjaan telah memiliki zaman masing-masing sesuai dengan kadar pada diri seseorang.

Jangan sampai masa pendidikan, pekerjaan, dan membangun rumah tangga tercampuradukkan. Sehingga tidak dapat menyelesaikan satu per satu secara tuntas. Dan jika hal itu terjadi, justru akan menimbulkan kerugian bagi diri sendiri.