Kirana ♈ Azalea
1 bulan lalu · 24 view · 16 min baca menit baca · Pendidikan 23418_58696.jpg
Dok. Pribadi

SiNaFi, Riset, dan Inflasi Publikasi

SiNaFi (Seminar Nasional Fisika) mungkin bukan ajang megah buat sebagian orang. Namun, buat saya, SiNaFi memiliki kesan tersendiri. Pasalnya, dari keikutsertaan di SiNaFi-lah saya mulai debut riset pendidikan fisika. 

Kata ‘riset’ sengaja dipilih sebagai akronim dari nama non-sapaan ‘Rifqi Setiawan’—yang kebetulan selaras dengan diksi Buk Setiya Utari selaku pembimbing akademik saya yang lebih sering menggunakan kata research ketimbang penelitian.

Saya rasa Buk Utari—sapaan saya kepadanya—sukses menularkan semangat riset kepada saya. Tanda paling kentara ialah, buat saya, riset menjadi satu avocation ketimbang occupation, walau yang lebih penting ialah memupuk sikap ilmiah ketimbang melatih keterampilan menggunakan metode ilmiah. 

Kebetulan ketika menyelesaikan skripsi agar lulus, Buk Utari menjadi Pembimbing I. Kebetulan Buk Utari menyetujui usulan saya untuk meminta Pak Muhamad Gina Nugraha menjadi Pembimbing II pada 22 Juli 2016.

Kebetulan Pak Gin Gin menerima persetujuan tersebut pada 22 Juli 2016—beberapa jam kemudian. Kebetulan selepas lulus dari Departemen Pendidikan Fisika pada 24 Februari 2017 silam, saya mendapat kesempatan terlibat dalam industri pendidikan sejak 6 Juni 2017. 

Kebetulan lembaga pendidikan yang saya tempati memiliki apresiasi tinggi terhadap dunia akademik antarcabang—syar’i dan non-syar’i—antarepistimologi—bayāni, ‘irfāni, dan burhāni. Kebetulan muncul kebetulan lainnya.

Buk Utari sendiri menjadi orang pertama yang mengenalkan frasa literasi saintifik kepada saya pada 4 Februari 2015 silam. Waktu itu saya mendatanginya untuk keperluan FKKB (Formulir Kontrak Kuliah Baru)—saya lupa terdapat perubahan mata kuliah atau tidak.

“Bagaimana kalau semester depan kamu mulai mengerjakan skripsi ikut payung saya?” ucap Buk Utari setelah tahu bahwa saya sudah mengambil mata kuliah Seminar Pendidikan Fisika (SPF) dan Metode Penelitian Pendidika Fisika (MPPF).

“Tentang apa, Buk?” tanya saya.

“Literasi saintifik.” jawab Buk Utari singkat.

“Literasi saintifik itu apa?” tanya saya lagi.

“Kamu bisa cari saja di internet, sudah banyak pembahasan tentang literasi saintifik.” jawab Buk Utari yang menimbulkan pertanyaan berikutnya.

“Kalau sudah banyak yang membahas, buat apa penelitian ini?”

“Memang banyak, tapi payung saya mau melakukan penelitian berkelanjutan yang produknya ialah desain pembelajaran,” tanggap Buk Utari.

“RPP?” potong saya.

“Iya, sekarang tahun pertama sudah jalan, kalau kamu ikut bakal masuk tahun kedua.”

“Okelah, nanti dikabari lagi,” tanggap saya sekaligus undur diri mencari smoking area.

Bagus juga waktu itu Buk Utari memberikan tawaran secara lisan. Saya jadi merasa sudah punya bahan untuk dibahas dalam skripsi agar lulus

Namun, pesan yang paling mengena kepada saya waktu itu ialah keharusan untuk pulang ke rumah seiring Buk Utari mendapati saya belum pulang gara-gara Kuliah Kerja Nyata (KKN). Alasannya ialah biar saya lebih peka dengan keadaan yang terjadi di masyarakat.

Saya sendiri kemudian tertarik dengan literasi saintifik. Namun, frasa literasi saintifik tidak pernah muncul dalam tugas Seminar Pendidikan Fisika (SPF) dan Metodologi Penelitian Pendidikan Fisika (MPPF) lantaran saya membahas Peer Instruction gagasan Eric Mazur. 

Walau begitu, rencana untuk membahas topik literasi saintifik itu sudah mewujud sebagai coretan di buku tulis pada pertemuan pertama kuliah MMPF yang diampu oleh Bu Ida Kaniawati. Belakangan saya mulai pengerjaan skripsi pada 6 Juni 2015, dengan topik yang agak berbeda dengan skripsi yang berhasil menjadi sarana agar lulus.


Setelah melalui satu set perjuangan—berhenti sejak 30 September 2015 dan mulai lagi pada 9 September 2016 yang lebih banyak terkait psikis ketimbang teknis—saya akhirnya lulus secara resmi dari Departemen Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia. Entah sebenarnya lulus atau memang diusir, tidak jelas. 

Yang paling jelas ialah Pak Dadi Rusdiana selaku ketua departemen tampak senang menyampaikan informasi yudisium saya pada 24 Februari—tepat berada dua hari antara ḥaul Tan Malaka (22 Februari) dan milād CL (26 Februari). Lalu kami foto bareng sambil berpegangan tangan mesra banget sebagai moment terakhir Pak Dadi mengumumkan yudisium selaku ketua departemen.

Dalam satu set perjuangan tersebut, saya beruntung ikut serta acara Seminar Nasional Fisika (SiNaFi), ajang temu alumni departemen yang dirancang dalam bentuk seminar akademis. Pada SiNaFi kedua (atau pertama dengan nama SiNaFi bukan SiNaFiTA) yang dilaksanakan pada 17 Desember 2016 itu, saya tampil menyampaikan riset terkait rancangan instrumen untuk mengukur literasi saintifik siswa. Riset itu sendiri merupakan bagian (bukan keseluruhan ) skripsi saya (tepatnya muncul di Bab III).

Untuk keikutsertaan tersebut, saya berterima kasih kepada Pak Gin Gin yang menyadarkan bahwa tahap tertentu dalam penelitian tugas akhir kuliah dapat dibuat menjadi satu paper penelitian. Pak Gin Gin menyadarkan saya hanya 2 hari sebelum deadline pengumpulan abstrak. 

Gara-gara dirinya, sadar kalau salah satu syarat sidang skripsi saya berupa sertifikat keikutsertaan dalam seminar akademis belum ada. Kebetulan SiNaFi edisi tersebut dibuka dengan harga murah: Rp100.000. Harga yang cukup mendukung program ketahanan pangan pelajar UPI—Bu Lilik Hasanah pengertian bangetz.

Setelah saya hitung, skripsi saya dapat dibuat menjadi empat paper—untuk ukuran riset yang masih gini-gini aja. Keempatnya ialah kajian pustaka, penyusunan instrumen, pelaksanaan desain pembelajaran, dan hasil penerapan desain pembelajaran. Kajian pustaka bisa menjadi jurnal review terkait literasi saintifik. Sejauh yang saya googling, Indonesia belum membuat jurnal review semacam ini—saya baru menemukan dari China dan Korea Selatan.

Penyusunan instrumen adalah pilihan paling bodoh saya lakukan dalam menulis paper. Soalnya saya tak tahu menahu bahwa sebenarnya sudah terdapat instrumen serupa buatan Cara Gormally yang diterbitkan pada 19 Juli 2017. Andai saya tahu, pekerjaan utama saya ialah mengalihbahasakan instrumen tersebut. 

Kalau pekerjaan itu terlaksana dengan bagus, validasi instrumen lebih menekankan di sisi bacaan bukan pada kesesuaian antara indikator dan soal serta ketepatan antara pertanyaan dan jawaban. Besar kemungkinan saya melibatkan Arij Zulfi Mufassaroh dalam pengalihbahasaan ini, sehingga kebersamaan kami selama masa penyusunan instrumen tak sebatas menonton film Inferno di Sinema XXI Ciwalk pada 22 Oktober 2016. Bisa lebih dari itu... lebih dari itu.

Andai hal itu dapat berjalan, proses pengolahan data tak banyak memakan waktu untuk memeriksa lembar jawaban dari siswa. Pasalnya instrumen karya Cara Gormally dibuat dalam bentuk tes objektif, sedangkan buatan saya dibuat dalam bentuk tes uraian. Apalagi indikator yang dibuat oleh Cara Gormally tidak sepenuhnya mengadopsi dari PISA walakin mengadaptasinya dengan beberapa kajian pustaka dan wawancara kepada pelaku pendidikan. 

Sedangkan buatan saya sudah ya mengadopsi dari PISA, masih dikurangi juga—dan masih kedodoran juga menjawab pertanyaan dari Pak Achmad Samsudin dan Pak Hikmat, sidang skripsi kok sampai 2 jam, emang nonton film gravity?.

Namun, saya ternyata pintar juga lebih memilih buatan sendiri ketimbang orang lain. Alasan utamanya ialah dengan memakai buatan sendiri, saya tak perlu banyak bekerja pada bagian analisis penerapan desain pembelajaran karena indikator saya lebih sedikit ketimbang Cara Gormally. Selain itu, juga bisa memulai trajectory agar penerbitan riset saya berdampak kepada nilai h-index. Pinter ‘kan? Tak sia-sia orangtua berlelah bersama demi melahirkan saya.

Analisis penerapan desain pembelajaran itu yang kemudian saya sampaikan dalam acara SiNaFi keempat. Kebetulan SiNaFi keempat ini tanggalnya agak nyempal dari pelaksanaan 2 tahun sebelumnya. 

Kalau 2 tahun sebelumnya dilaksanakan pada Desember, kali ini pada November. Sudah nyempal, tanggalnya tepat bersamaan dengan waktu pendirian Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyyah yakni 24 November (tepatnya 1928) pula. Kelakukan siapa coba?

Meskipun riset yang disampaikan menggunakan data lama (data Skripsi diambil pada November 2016 atau 2 tahun sebelum SiNaFi IV), saya bukan tanpa pekerjaan. Terdapat pembaruan latar belakang, yang semula dimulai dari uraian terminologi literasi saintifik berubah menjadi paparan fakta bahwa siswa Indonesia pada 2018 meraih prestasi berupa raihan medali dalam ajang olimpiade internasional sekaligus hasil penilaian internasional yang diselenggarakan oleh PISA menunjukkan prestasi siswa Indonesia rendah.

Gara-gara dua fakta yang saling berlawanan dalam menimbulkan perasaan di hatique, saya belum bisa menentukan cara terbaik mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Maksudnya cara yang menunjukkan keberhasilan dari praktik orang lain untuk kemudian diterapkan oleh orang lainnya lagi. Meskipun untuk format pembelajaran secara umum saya memiliki pilihan sendiri.

Sejak kelas XI sampai sekarang, format pembelajaran yang menurut saya paling bagus terdiri dari ceramah, penyampaian materi secara lisan, serta diskusi untuk memecahkan masalah tematik dengan menerapkan teori tertentu—entah untuk menguatkan atau meruntuhkan teori itu.

Pandangan itu muncul dari pengalaman belajar yang saya alami di MA NU TBS Kudus, lebih khusus dalam mempelajari Fiqh di Pondok Pesantren MUS-YQ. Bandongan sepekan dua kali dari Pak Muhammad Arifin Fanani, sorogan kepada Pak Arya Sabiila kemudian Pak Achmad Ircham Anwari, musyāwaroh sepekan dua kali dengan diawasi oleh Pak Subhan atau Pak Achmad Ircham Anwari Abi Nala Bima Salma.

Kebetulan saya menemukan format tersebut ketika melanjutkan pembelajaran di Departemen Pendidikan Fisika UPI. Paling klop untuk materi seputar Fisika Dasar II dengan expository dari Pak Sutrisno yang dibantu oleh Bu Lina Aviyanti, inquiry di Eksperimen Fisika Dasar II kepada Pak Iyon Suyana, serta focus group discussion di Fisika Sekolah III dengan Pak Amsor dan Evaluasi Pembelajaran Fisika dengan Pak Didi Teguh Chandra.

Pilihan yang didasari oleh pengalaman tapi sulit diamalkan tersebut belakangan mendapat dukungan pustaka dari OECD. Tarek Mostafa dalam dua paper yang diterbitkan Tim OECD pada 19 November 2018 memberi informasi bahwa strategi paling efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam ialah kombinasi antara ceramah, penyelidikan, dan penyesuaian dengan siswa. 

Kaitan antara riset Tarek Mostafa dengan pengalaman saya ialah: ceramah sudah jelas di bandongan dan expository, penyelidikan dan penyesuaian bisa dilakukan melalui sorogan, musyāwaroh, inquiry, dan focus group discussion.

Boleh jadi pengalaman saya dan riset Tarek Mostafa tidak menyenangkan bagi orang yang dengan tegas mendukung satu model tertentu dalam pembelajaran. Namun, temuan Tarek Mostafa menjelaskan kerumitan pembelajaran di beragam lingkungan kelas, ketika guru harus menemukan paduan yang tepat dari praktik yang berbeda untuk mencapai hasil terbaik bagi siswa.

Masalahnya ialah kalau saya menganggap format kombinasi tersebut paling bagus, sulit untuk bisa menerapkan format tersebut ke dalam pembelajaran satu mata pelajaran tertentu di tingkat sekolah apalagi madrasah. 

Pendekatan saintifik bisa menjadi salah satu sarana penerapan format tersebut, tapi tak lepas dari masalah—kalau harus mengikuti tuntutan kurikulum yang berlaku. Letak permasalahan ialah ketersediaan waktu pembelajaran, kesibukan guru dengan tuntutan administrasi (dan mungkin mencari istri), serta keragaman minat siswa terhadap beberapa pelajaran.

Untuk ketersediaan waktu pembelajaran, barangkali bisa diakali dengan format full day-night school dengan cara meminta siswa agar tinggal di asrama. Sehingga kalaupun di sekolah/madrasah banyak mata pelajaran yang disampaikan—dalam bentuk ceramah sekalipun, pemusatan ke pelajaran tertentu yang disampaikan dengan pendekatan lain dapat dilakukan di asrama.

Format full day-night school bisa juga menyediakan sarana untuk menampung minat siswa terhadap beberapa mata pelajaran. Caranya dengan menyediakan beberapa asrama yang masing-masing punya jurusan sendiri. Saya rasa pandangan Abū ‘Alī al-Ḥusayn ibn ‘Abd Allāh ibn al-Ḥasan ibn ‘Alī ibn Sīnā agar penjurusan bisa dimulai sejak usia 14 tahun (tingkat SMP/MTs) boleh juga diuji coba


Untuk mata pelajaran di sekolah yang tidak sesuai dengan jurusan asrama, bukannya tidak berguna, justru bermanfaat untuk membiasakan siswa berpikir menyeluruh dalam memandang sebuah masalah.

Sementara masalah mengurangi kesibukan guru terhadap tuntutan administrasi, bisa dilakukan dengan pengarahan riset perguruan tinggi yang membuka program studi pendidikan. Hasil googling terhadap beberapa jurnal yang berafiliasi dengan perguruan tinggi menunjukkan bahwa penerbitan/publikasi riset Indonesia jumlahnya sudah banyak dengan topik yang terlalu tersebar sehingga tidak berdampak besar.

Dalam uraian ini, riset yang saya maksud ialah kegiatan untuk memperjelas—syukur kalau bisa memecahkanmasalah dengan beragam tawaran solusi, bukan aktivitas memberanakkan kalimat guna menyaingi jumlah publikasi negara tetangga.

Sebaran topik tersebut kadang sulit dipadukan (integrated) untuk mencapai hasil yang lebih bermakna. Malah sebagian besar hanya sampai pada hasil tanggung lantaran jarang terdapat tindak lanjut terhadap hasil penelitian sebelumnya. Kegiatan yang dilakukan ‘kan untuk memecahkan masalah, bukan memasak pecel pakis, hamosok setengah matang?

Menurut saya, perguruan tinggi yang membuka program studi pendidikan perlu melakukan riset berlanjut dengan menspesifikasi tajam topik yang dibahas dengan target jelas dan terukur setiap tahun. Topiknya tidak harus satu, boleh banyak, tapi dengan catatan dipilih berdasarkan kegunaan untuk pendidikan Indonesia dan kemudahan untuk dilakukan dari sisi sumber daya manusia dan finansial.

Sebagai ilustrasi—kebetulan saya mengalami—Departemen Pendidikan Fisika UPI ingin memiliki desain pembelajaran yang melatih literasi saintifik kepada siswa. Targetnya ialah desain pembelajaran tersebut siap dipakai setelah 5 tahun penelitian. 

Keinginan tersebut diusahakan terwujud dengan membentuk tim riset beranggota beberapa dosen yang masing-masing membimbing pelajar untuk bersama-sama melakukan penelitian. Hubungan antara dosen dan pelajar bersifat simbion: dosen untung karena punya amunisi memperoleh data dan pelajar enak karena punya senjata untuk cepat lulus.

Tim riset tersebut memilih untuk menfokuskan desain pembelajaran pada topik fisika yang diberi target tahunan dan keseluruhan. Sehingga pada tahun pertama, bisa menghasilkan analisis profil literasi saintifik siswa sebagai bahan penyusunan desain pembelajaran. 

Pada tahun kedua—saya terlibat pada tahap ini—bisa menghasilkan analisis pelaksanaan desain pembelajaran untuk dilakukan perbaikan. Tahun ketiga, keempat, dan kelima sama seperti tahun kedua. Juga target keseluruhan dalam waktu 5 tahun, sudah terdapat desain pembelajaran yang bisa dipakai oleh guru.

Guru tampaknya perlu dibebaskan (atau minimal dikurangi) dari kesibukan mengurusi administrasi, antara lain melengkapi desain pembelajaran. Dengan cara melakukan riset seperti itu kesibukan tersebut bisa dihilangkan (atau minimal dikurangi). 

Cara lain bisa: menyediakan staff khusus buat guru seperti dialami oleh anggota parlemen (Dewan Perwakilan Rakyat/DPR dan Dewan Perwakilan Daerah/DPD), tapi cara ini butuh sumber daya dan dana yang banyak serta kemauan yang kuat. Karena itulah mending memakai cara mengarahkan riset seperti dituturkan.

Selayaknya kalau riset diarahkan untuk menghasilkan desain pembelajaran, sudah tersedia dan siap pakai secara lengkap dari sisi perangkat dan valid dari sisi riset. 

Misalnya kalau desain pembelajaran itu untuk melatih literasi saintifik, dilengkapi dengan handbook terkait alasan melatih literasi saintifik dan cara yang bisa digunakan sekaligus seluruh perangkat yang diperlukan dalam pelaksanaan. Biar tujuannya untuk meningkatkan kualitas manusia, bukan hanya untuk mengikuti kecenderungan dunia maupun demi gengsi antar negara antar benua.

Departemen Pendidikan Fisika UPI rasanya bisa memberi contoh cukup bagus dalam hal itu. Pasalnya tidak hanya timnya Buk Utari saja yang bermain di arena penyusunan desain pembelajaran. 

Terdapat beberapa tim riset yang sudah fokus pada topik tertentu: Pak Parlindungan Sinaga yang fokus pada penyusunan bahan ajar, Bu Winny Liliawati pada kecerdasan majemuk (multiple intelligent), dan Bu Irma Rahma Suwarma pada STEM (science, technology, engineering, and mathematics). Ada juga Pak Didi Teguh Chandra yang berjuang melalui riset untuk membuat kebijakan supaya Pendidikan Teknologi bisa menjadi mata pelajaran di sekolah.

Sebagai alumni Departemen Pendidikan Fisika UPI, mungkin saya bisa mengusahakan agar ikutserta dalam kegiatan SiNaFi. Lumayan buat refreshing. Atau kalau bisa sesekali mengirim naskah kepada Wahana Pendidikan Fisika (WaPFi) dan Wahana Fisika (WaFi). Untuk SiNaFi ketiga pada 16 Desember 2017 sendiri saya urung ikut serta tapi karena beberapa bulan waktu itu terserang tipes sampai akhirnya bedrest total.

Sekali lagi, SiNaFi (Seminar Nasional Fisika) mungkin bukan ajang megah buat sebagian orang. Saya sendiri pun tidak menganggap keikutsertaan di SiNaFi sebagai satu pengalaman megah. Malah untuk kasus warga Madrasah TBS, keikutsertaan dalam forum seperti ini adalah hal biasa. Apalagi ketika menjadi siswa sudah dibiasakan terlibat dalam forum baḥtsul masā’il meski baru terbatas dalam persoalan fiqhiyyah.

Mbah Abdul Djalil, pengusul imbuhan ‘S’ di akronim ‘TBS’ sendiri memberikan keteladanan yang diikuti generasi selanjutnya untuk senantiasa membahas permasalahan pendidikan. Pembahasan tersebut turut menghasilkan karya yang memperkaya khazanah keilmuan di Madrasah TBS khususnya serta umumnya di masyarakat Indonesia dan ummat Islam.

Misalnya gagasan sholawat sains dari Pak Yuniar Fahmi Lathif, pengajar IPA di tingkat MTs. Gagasannya sederhana: menggunakan sholawat sebagai sarana menyampaikan materi pembelajaran IPA. Hasilnya dibuat buku Sholawat Sains (IPA) yang dilengkapi dengan CD. Dalam pembelajaran, gagasan itu diterapkan.

Sholawat yang dibuat contohnya:

صَلِّ وَ سَلِّم دَائِمًا عَلَى ا حْمَدَا # صَلِّ وَ سَلِّم دَائِمًا عَلَى ا حْمَدَا

وَ الْآلِ و الْأَصْحَابِ مَنْ قَدْ وَحَّدا # وَ الْآلِ و الْأَصْحَابِ مَنْ قَدْ وَحَّدا

Syarat-syarat dalam belajar fisika # kita harus bisa matematikanya

Perkalian pindah ruas jadi bagi # pembagian pindah ruas jadi kali

Kalau penjumlahan jadi pengurangan # maka pengurangan jadi penjumlahan


Jika belum SI harus dikonversi # dengan cara dibagi ataupun dikali

Sholawat tersebut kemudian diberi uraian penjelasan tentang alasan mengapa operasi matematika dan konsep satuan internasional penting dalam mempelajari fisika. Penjelasan tersebut dilengkapi dengan latihan soal.

Saya rasa pendekatan seperti dilakukan oleh Pak Yuniar bisa membuat siswa lebih mudah menghafal beberapa kata kunci dalam pembelajaran IPA. Kebiasaan siswa Madrasah TBS ketika menghafal bait-bait tertentu ialah dituntut untuk mengerti isi dari bait tersebut. Karena itu jangan heran kalau pembelajaran yang tampak menekankan hafalan bisa menghasilkan output high order thinking skilss (HOTS, keterampilan berpikir tingkat tinggi). “Ojo gumunan” (jangan terlalu mudah heran), pesan Mbah Turaichan Adjhuri.

Ketika saya memeriksa literasi saintifik siswa MTs yang tinggal di Pondok Pesantren Ath-Thullab, hasilnya cukup bagus. Definisi literasi saintifik di sini adalah kemampuan menerapkan penguasaan konsep dan proses terhadap keseharian. Pemeriksaan tersebut saya lakukan dalam kegiatan sorogan Taqrīb di kelompok saya (nama kelompoknya AlahMboh).

Selain menjadi ajang unjuk kebolehan terkait penerapan Naḥwu, Shorf, dan I’lāl, serta pengertian konsep Fiqh, sorogan tersebut bisa juga menjadi sarana pemeriksaan literasi saintifik dengan memberi pertanyaan seperti berikut kepada siswa (atau sebutan lainnya santri):

1. Berapa hasil konversi satuan rithl dalam satuan internasional?

2. Bagaimana bentuk dan ukuran bangun ruang (permukaan datar dan lengkung) yang memenuhi volume 500 rithl?

Ketika membahas tuturan:

و القلتان خمس مائة رطل بغدادي تقريبا فى الأصح

Setelah sorogan, siswa diminta untuk membuat laporan kegiatan mengukur bak mandi di pondok pesantren Ath-Thullab, masing-masing 1 bak mandi/siswa.

Afid Alfian Azzuhur, iIlham Rizky Maulana, Muhammad Luthfil Khakim, Muhammad Safrudin Maulana, Nur Tsalits Fahman Mughni, Raga Abdillah, dan Syauquhul Jazil tidak kesulitan malah justru senang melakukan kegiatan yang hanya memerlukan alat berupa meteran dan kalkulator itu dan penguasaan terhadap operasi hitung, bangun ruang, serta satuan internasional. 

Dari kegiatan itu mereka, sebagai sample, kemudian bisa menyampaikan secara lisan alasan pembuatan lubang pada beberapa bak mandi berukuran kecil sekaligus menghitung ketinggian minimal air di dalam bak mandi agar tetap berisi 500 rithl.

Buku Taqrīb sendiri saya pakai sebagai rujukan dalam menyusun soal Matematika ketika mengajar di MPTs. Soal tersebut misalnya:

“Indra diberi uang sebanyak Rp.150.000 oleh ibunya untuk memberi beras guna mengeluarkan zakat fitrah keluarganya yang terdiri dari 4 orang. Pada waktu itu harga beras yang biasa dikonsumsi oleh keluarga Indra ialah Rp.13.000. Setelah sampai di rumah, Indra bilang kepada ibunya bahwa uang yang diberikan kurang. Apakah Indra berkata jujur?”

Ketika membahas hal ini dulu saya kerap dibantu oleh Iqbal Arya Maulana dan Muhammad Adi Afriza.

Karena itulah saya senang bisa come back home di Madrasah TBS. Gairah ilmiahnya sehat. Tridharma Perguruan Tinggi berupa pengajaran, penelitian, dan pelayanan kepada masyarakat bisa diterapkan. Meskipun terus terang penelitian/riset yang dilakukan di oleh warga Madrasah TBS jarang diterbitkan dalam bentuk jurnal akademik. 

Tapi bukankah justru itulah riset, sebagai kegiatan untuk memperjelas—syukur kalau bisa memecahkanmasalah dengan beragam tawaran solusi, bukan aktivitas memberanakkan kalimat guna menyaingi jumlah publikasi negara tetangga.

Kalau kegiatan riset pendidikan di Indonesia memang bukan aktivitas memberanakkan kalimat guna menyaingi jumlah publikasi negara tetangga, saya percaya bahwa gap antara sekolah/madrasah, perguruan tinggi, dan pondok pesantren bisa diatasi dengan apik. 

Dari pengamatan yang saya lakukan selama ikutan ngabisin jajanan Gang 4 dalam forum guru Kecamatan Kota, tampak rasa keberatan memakai hasil riset yang diterbitkan. Sementara laporan wawancara informal dari Faliqul Jannah Firdausi terhadap pelajar strata dua (S2) Pendidikan Matematika di Sekolah Pasca Sarjana UPI menyebutkan bahwa para pelajar keberatan kalau hasil penelitian dipublikasikan secara luas.

Lha kalau dari pemain lapangan enggan memakai buat apa? Terus kalau peneliti tidak mau menerbitkan secara luas mau supaya apa? Cuma untuk disampaikan dalam forum akademik seperti seminar? Memangnya seminar akademik sudah bagus?

Sebagai contoh, setelah mengikuti SiNaFi pada 17 Desember 2016, saya mengirimkan paper yang sama untuk ikutserta Seminar Nasional Fisika (SNF) edisi 2017. Ternyata paper saya diterima untuk ditampilkan dalam seminar. 

Peristiwa sejenis itu kembali terulang ketika saya mendaftarkan diri di Seminar Kontribusi Fisika (SKF) edisi 2018. Paper yang sama seperti sudah saya sampaikan di SiNaFi pada 24 November 2018, kok masih diterima untuk ditampilkan dalam seminar?

Apakah peristiwa itu terjadi karena kesalahan panitia SiNaFi menerbitkan abstract peserta dalam bentuk PDF, tidak melalui website laiknya dilakukan oleh SNF dan SKF sehingga kalimatnya tidak dapat di-googling? Atau memang reviewer SNF dan SKF yang malas mengoreksi naskah yang masuk? Atau memang kepepet karena tidak terdapat naskah? Apakah itu hanya terjadi kepada saya dalam 2 kali percobaan saja?

Kalau googling soal riset di Indonesia kok kayaknya peningkatan jumlah publikasi bukannya mengurangi masalah di Indonesia melainkan menyebabkan masalah baru berupa inflasi riset. Kayaknya lho ya, bukan pastinya.

Sekian, mau menyimak Park Bom dulu. Maaf kalau daftar bibliography yang dipakai tidak turut disebutkan, nanti kalau sempat dilengkapi—bukan thesis juga siiii. Mohon maaf pula kalau penyajian diary ini masih semrawut. Kalau masih kekurangan bentuk, saya pikir tidak kekurangan sifat.

K.Rb.Wg.270340.051218.00:24

Artikel Terkait