Ibu Rumah Tangga
1 bulan lalu · 879 view · 4 menit baca · Filsafat 42649_35816.jpg
humas-virtual.blogspot.com

Simulakra dan Literasi di Dunia Hiperrealitas

Dunia telah berubah sedemikian masif. Teknologi digital dan kecanggihannya telah melahirkan sensibilitas baru bagi peradaban manusia. Era tulis telah berkembang pesat dan berubah ke era digital. Dunia seperti sebuah simulakra yang menghipnotis subjek, ada namun tidak ada dan sebaliknya. 

Semua begitu cepat berubah, penuh dinamika, dan menuntut perhatian kita sebagai subjek untuk hadir di dalamnya. Subjek di era digital seolah terjebak dalam dua ruang sekaligus, menjadi hibrid, dengan realitas dan konsekuensi yang mengikatnya, yaitu maya/nyata, asli/palsu, citra/simbol, dan seterusnya saling tumpang tindih. Wilayah ini dalam pengertian selanjutnya bisa disebut dengan hiperrealitas.

Dalam terminologi Baudrillard, (Piliang & Jaelani, 2018), hiperrealitas adalah kondisi-kondisi berbaur dan tumpang tindihnya berbagai bentuk tanda (tanda palsu, tanda semu, tanda daur ulang, dan tanda artifisial, serta tanda superlatif) di dalam satu “ruang representasi”, sehingga antara yang semu/asli, palsu/tiruan, masa lalu/masa kini, alamiah/artifisial tidak dapat dibedakan lagi, yang menciptakan sebuah ruang “indeterminasi makna”. 

Oleh karena yang “asli” dan yang “palsu”, yang “autentik” dan “gadungan”, atau yang “alamiah” dan “artifisial” tak dapat dibedakan, maka lenyap pula perbedaan antara fiksi dan realitas.

Wacana di atas bukan semacam spekulasi yang kebetulan dalam era digital saat ini. Bisa jadi kondisi yang terjadi merupakan sebuah isyarat bagi subjek di era digital untuk lebih kritis dan sensitif dalam menerima berbagai informasi secara valid dan terverifikasi. Betapa tidak, yang masif di era digital dewasa ini adalah munculnya bermacam citra, tanda, simbol, bahkan informasi yang tumpang tindih tidak karuan sumbernya.  


Era digital di satu sisi menawarkan iming-iming tentang dunia yang serbacepat, praktis, instan, dan terkoneksi dalam kecepatan yang tidak terduga. Semuanya terhubung menjadi satu jejaring. Hal ini kemudian menjadi satu problematika di kemudian hari ketika segala bentuk perubahan yang terjadi dalam era digital tidak didukung oleh penguasaan dan pemahaman masif dari subjek yang terlibat di dalamnya.

Maka tidak terelakkan bahwa melek digital menjadi bagian prasyarat dalam melek literasi bagi generasi milenial maupun (subjek) masyarakat Indonesia dewasa ini. Betapa tidak, mayoritas masyarakat Indonesia telah terkoneksi dengan dunia digital, terkoneksi dengan bermacam sumber informasi yang tersebar cepat ke segala penjuru negeri. 

Keberadaan informasi-informasi tersebut bisa dipahami memiliki orientasi yang berlainan, sudut pandang yang berlainan juga, sehingga acap kali menghasilkan reaksi dan respons yang bermacam-macam. 

Hal ini di kemudian hari menghasilkan suatu alternatif  bahwasanya informasi adalah kunci bagi kepentingan (individu maupun golongan, kelompok tertentu, maupun otoritas). Informasi menyerupai hegemoni yang terdoktrinasi secara masif kepada subjek dalam setiap aktivitasnya di dunia maya. 

Jika hal ini terus terjadi dan menghasilkan suatu “keyakinan” pada subjek bahwa informasi yang diperolehnya penting dan benar adanya, maka selanjutnya yang terjadi adalah informasi tersebut dibagikan dalam sekup lebih kecil, seperti grup sosial media dan sejenisnya.

Tak ayal, sekup-sekup kecil yang dimaksudkan di atas kemudian menjadi semacam grup-grup fanatik yang menghasilkan sikap intoleransi antarsesama, sikap antipluralitas, sensibilitas yang tinggi, homogenitas, serta ambisi yang utopis di tengah kebinekaan Indonesia saat ini.

Kembali pada persoalan literasi di dunia hiperrealitas di atas, masyarakat perlu secara kritis diberikan pendampingan dan pemahaman untuk menyeleksi, menyaring, hingga membagikan bermacam informasi yang hadir di dunia digital secara cermat agar tidak terjadi kasus-kasus intoleransi dan ujaran kebencian, termasuk penyebaran berita atau informasi palsu alias hoax. Hiperrealitas sudah menjadi keniscayaan yang tidak terelakkan.

Dalam terminologi hiperrealitas sebagaimana yang dimaksud di atas, teknologi telah memberikan alternatif bagi peradaban manusia bagi berkembangnya praksis-praksis baru dalam hidup. Demikian halnya seni, telah diduplikasi untuk menghasilkan citra – dan bahkan yang lebih ekstrem adalah “simulasi”, yang lebih berkembang secara masif dalam praktik kehidupan. 

Simulasi dalam terminologi Baudrillard adalah penciptaan model-model kenyataan tanpa asal-usul atau referensi realitas—hiperrealitas. Bisa dipahami bahwa simulasi adalah “penciptaan” realitas yang tidak lagi mengacu pada “realitas di dunia nyata” sebagai referensinya, ia menjelma menjadi semacam “realitas kedua” atau second reality yang referensinya adalah dirinya sendiri (simulacrum of simulacrum).


Melalui kondisi ini, bahasa dan tanda di dalam seakan-akan merefleksikan realitas yang sesungguhnya, padahal ia “realitas artifisial”, yaitu “realitas” yang diciptakan lewat teknologi simulasi sedemikian rupa, sehingga pada tingkat tertentu “realitas” media ini tampak (dipercaya) sebagai sama nyatanya atau bahkan lebih nyata dari realitas sesungguhnya.

Hal yang menarik kaitannya dengan literasi di abad ke-21 adalah bagaimana tujuan dari literasi tersebut di kemudian hari mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sebagai subjek yang tidak terkonstruksi, sebagai subjek yang tidak kehilangan jejak dan kehilangan arah, serta sebagai subjek yang tidak tersubordinasi oleh teknologi, melainkan menjadi subjek yang mandiri dan kritis dalam peranannya di era digital. 

Literasi dikatakan berhasil apabila subjek mampu memahami batasan-batasan antara yang simulasi (ciptaan) dengan yang asli sehingga tidak mudah terjebak pada euforia kebohongan yang diulang bertubi-tubi sehingga lambat laun (terbiasa) menjadi kebenaran. Simulakra sebagai realitas kedua pelahan-lahan mencengkeram kesadaran kritis kita melalui peleburan antara citra, tanda, simbol, bahkan realitas yang terus-menerus diulang melalui jejaring yang tidak terbatas.

Artikel Terkait