Aku tahu beberapa jenis bunga akan mekar pada waktunya.

Beragam buah-buahan tidak masak bersamaan disatu musim.

Bahkan, seekor hewan pun tidak setiap hari bertelur atau melahirkan.

Lantas, apakah masa yang ku lalui sejauh ini sama dinginnya dengan tongkat mayoret yang pernah ku genggam di usia 12 tahun itu?

Awalan itu adalah batu pijakku saat ini. Batu pijak yang tidak memberikan aku keseimbangan. Seperti halnya batu, yang katanya keras, kokoh, dan sulit untuk dihancurkan, itu hanya membuatku terus bergoyang-goyang tanpa pegangan. Kini, di angka 12 itu, aku terus ingat rasanya dingin. 

Ketika semua temanku dibagikan instrumen satu persatu sesuai dengan kenginannya. Aku mendapatkan sebuah tongkat besi bewarna silver, panjangnya sekitar satu meter lebih kurasa, dengan ornamen merah yang melilit bagian bawahnya, tentunya lengkap dengan bel di dalamnya ‘krincing krincing krincing’. 

Indah sekali memang. Tapi, dingin, bingung, iri, takut, cemas, melas, semua ada di dalam benakku. Pada saat ku berlatih kala itu, sekitar satu bulan lamanya. Aku memutar tongkat es itu, melempar, dan membiarkan kedua tanganku menguasainya dengan sangat elegan dan luwes. 

Tiga puluh hari yang panjang, ketika ku tahu semasa latihan itu tidak semua berjalan dengan mudah. Tongkat itu babak belur, kujatuhkan ketika lemparan dari tanganku tidak bisa kudapatkan. 

Saat memutarnya, tongkat itu terpontang-panting sangat jauh karena tanganku belum siap menahan kecepatannya. Habis sudah, ku dimarahi, juga tetap disanjung, agar tahu, bahwa harga tongkat itu sangat mahal, dan juga agar bertahan demi kompetisi dan eksistensi yang berlangsung serta terus dipertahankan.

Ketika kompetisi pertama berlangsung, gugup memenuhi seluruh aliran darahku. Sepatu boots yang pertama kali ku beli dan kukenakan dihiasi heels setinggi 7cm. Mungilnya tubuhku harus ditopang dengan boots itu selama setengah hari. 

Tak terbayangkan berapa lama ku akan bertahan dengan berdiri di atas tongkat penyiksaan. Gor tempatku tayang perdana itu dipenuhi oleh sekumpulan orang yang ingin melihat lihai, indah, dan harmoni suatu marching band dimainkan. Ku hanya bersiasat untuk tetap mempertahankan senyum dibalik kekuranganku. 

Ketika belira itu dibunyikan yang menandakan pemimpin harus segera masuk, pandanganku benar-benar tidak karuan. Dengan segala hormat dan ambisi yang ku miliki, kuputar dan kulangkahkan kaki menuju lapangan tinggi itu, dan memulai aksiku dengan tidak sempurna.

Kupikir, itu adalah pengalaman yang bisa dibanggakan. Ternyata, justru sebaliknya. Rasa dingin, takut, dan segalanya saat itu, membuatku ingat sampai saat ini. 

Banyak musim, banyak waktu, banyak fase, banyak orang, banyak aktivitas yang telah kulewati. Entah mengapa tongkat mayoret itu rasanya, terus menempel di tanganku sampai saat ini.

Pada akhirnya, semua sudah membeku. Dibalut kedinginan itu yang tidak kunjung menemukan panas. Di persimpangan jalan kala itu, sempat bertemu matahari, dan perlahan meleleh. 

Namun tenggang waktu setelah itu, lebih cepat dari lama waktu beku menemaniku. Panas seperti menjauh ketika dingin sudah sedikit ingin kuasai, bahkan sebelum merasa, panas seakan menghilang perlahan.

Aku tak bisa menyalahkan memori sepuluh tahun lalu. 

Bukan salah tongkat itu. Bukan salah instruktur itu. Bukan salah eksistensi. 

Bukan salah kaki tanganku yang tidak lihai-lihai memutar dan melemparnya. Bukan salah yang memilihkanku. Bukan salah temanku. Bukan juga salah seluruh isi sekolah. 

Semua itu berotasi dan berevolusi tepat pada waktunya, ya, pada musimnya, pada orbitnya, pada fasenya, dan pada takdirnya.

Dua rasa kontras itu memang tidak bisa selalu diajak berlari-lari mengitari seluruh jagat raya dan seisinya. Sampai-sampai banyak sudah yang dilewati, banyak sekali, tak terhingga, bahkan sampai lupa. Semuanya terjadi begitu saja. Justru diri ini, mengikat keduanya dengan tali mati. Sehingga sulit untuk lepas. 

Mereda memang sewaktu-waktu, namun salah satunya terus menerus mendominasi apabila masing-masing mengalahkan. Tidak akan selesai seluruh pertempuran ini.

Terlalu banyak pengulangan yang kugunakan dalam diksi karya ini. Ya. Itu menggambarkan bagaimana membosankannya menjadi diri yang membiarkannya terbelenggu dalam panas dan dingin. 

Bukannya melepaskan, justru terikat semakin apik simpul itu terbuat. Lalu saat ini? Simpul itu sudah berantakan, tidak karuan, bahkan melihatnya saja ingin langsung memotongnya dengan gunting. 

Andai bisa semudah itu melepaskannya dengan sebuah alat pengungkit, sebelum sepuluh tahun berlalu, ku beli merek yang termahal. Memegangnya perlahan dengan hati-hati, supaya tidak terkena nadi, agar stabil dapat kembali menguasai.

Wahai kalian, bisakah aku terus berdiri tegap menatap kokohnya kekuasaan yang berdiri berpangku di sana? 

Mungkin, tidak dengan langsung menghapusnya. Membiarkannya hilang dengan perlahan, dengan segala sibuk, barangkali akan membunuhnya. 

Aku harap, nyenyak akan segera menghampiriku, senyum segera tergaris di wajahku, teguh segera sampai pada pendirianku, dan bangga akan selalu menghiasi wajah mereka.