(1)

Setiap malam; persimpuhan;
Mata kaca menatap tirai jendela,
Pohon rasa meliuk-liuk, arungi sabana di atas bahtera.
Rerumputan beranda berdansa,
Gema tawa sesaki pesta nestapa,
Kidung pengrasa aliri asma sukma.

(2)

Dewa-Dewa bertanya paradigma;
Mata-mata berkaca-kaca pada mata kaca,
Mata kaca mengacai kaca mata,
Mata-mata kaca berkaca-kaca,
Mata kaca; kaca mata; mata berkaca-kaca; kaca-kaca bermata;
mengaca, merasai perasa rasa.

(3)

Setiap malam; persimpuhan;
Langkah ditenggeri resah,
Gundah menengadah,
Sajadah pasrah mendesah,
Kisah hinggapi gelisah,
Pasrah lemah,
Dewa-Dewa sumringah,
Pasrah; mahah senggamai fitrah.

(Magelang, 30 Januari 2020)


- Kidung Kekasih -

Kekasih,
Diamku bukanlah diam,
Dalam diamku ada namamu yang bergemuruh dalam simpuh kerinduan.

(Magelang,  30 Januari 2020)


- Bahtera Tapa -

Selepas azan maghrib kala itu;
Semesta doa dilukis ritmis gerimis
Kaki menangisi rerumputan tangis.
Gemuruh amis meremis udara manis,
Kemban kempis dikais ritmis meiosis.

Selepas azan maghrib kala itu;
Di ruang baka aku menyila,
Tapa melenterai ayunan kaki berselimut tawa adinamia,
Kembang dia memeluk; mengadipsia jiwa,
Budi berlayar di bahtera samudera baka,
Adesonina antar gayung doa dalam tapa.

Selepas azan maghrib kala itu;
Bahtera lukis jiwa,
Tinta rasa lukis kembang doa,
Udara tabur asmaraloka.
Bumi tumbuhkan pohon tapa.

(Magelang, 23-24 Januari 2020)


- Kucari Aku -

Aku mencari Aku di dalam diriku;
Dalam sunyi, kuketuk pintu rumahku,
Di beranda kalbuku, aku tak menemui Aku,
yang kujumpai hanyalah aku yang meng-aku
bukan aku yang mensifati Aku.

Aku mencari Aku di dalam diriku;
Di ruang kalbuku hanya ada aku,
Di kamar kalbuku hanya ada aku,
Di dapurku hanya ada aku,
Di semua ruang hanya ada aku,
Tak ada Aku di dalam diriku.

Aku mencari Aku di dalam diriku;
Kutanya aku "Apakah ada Aku di dalam diriku?"
kalbu berbisik "Di dalam dirimu tak ada Aku,
engkau hanya mengakui Aku, namun tidak hidup dalam Aku.
Langkahmu hanya dipenuhi ke-aku-an yang tak menunjukkan Aku ada."

Aku mencari Aku di dalam diriku;
Di manapun tak kutemu,
Langkahku menjauhkan Aku dari diriku.
Ke-aku-anku menjadikan aku jauh dari Aku,
dan aku kehilangan aku.

(Magelang, 29-30 Januari 2020)


- Kidung Pertapaan 21 -

Kekasih,
Kasihmu tak mengenal balas kasih,
Kasihmu adalah belas kasih.

Kekasih
Hujan kamis sore;
Simpuhku mengetuk pintu sukmamu,
Peluk menggelantung dalam tatapmu,
Secangkir kopi ditangan kananmumengguyur kalbuku;
debu-debu dipunguti satu-persatu.
Bokor kencana yang mengendarai malam menaruhi rindu,
Dalam simpuhku;
sukmamu merasuk, melebur dalam kidung-kidung persujudanku.

Kekasih:
Hujan kamis sore;
Jiwa kita diguyur bebungaan,
dibasuh senyum keteduhan.

(Magelang, 6 Desember 2019)


- Kidung Pertapaan 27 -

Kekasih,
Dalam semburat rona mata(M)u,
Aku tertatih merajut langkah dalam naungan payung rerinduan menuju terminal perjalananku,
Senyum(M)u adalah tiket perjalananku,
Sisih(M)u adalah kotaku.
Pelukan(M)u adalah harapan terindahku.

(Magelang, 21 November 2019)


-Kidung Pertapaan 33-

Gusti..
Mohon izin seonggok daging tidak mbejaji berpuisi,
Nyayikan kidung-kidung panuwun,
Langgamkan tembang kalbu.

Gusti.....
Kidungku layu,
Sukuku disapu bayu,
Kalbuku tersapu sayu,
Sukmaku dibelenggu rindu.
Lidahku kelu,
bibirku kaku,
aku rindu kekasihmu.

(Magelang, 28 September 2019)

- Kidung Pertapaan 11 -

Kekasih,
Dalam hening pesunyian,
Aku merindu banjir air mata; kala asmamu dilantunkan pecinta,
Merindu getar yang bergemuruh di dalam dada.
Kekasih,
Apakah pantas aku mendapati cintamu?

(Magelang,  11 September 2019)


- Kidung Kekasih 9 -

Kekasih,
Subuh ini teramat dingin,
udara berlarian,
perlahan ia menikam;
Aku dipeluknya pelan-pelan dari belakang,
Erat-erat; jemarinya terbuka lima inci di pusaraku.
Wajahku dibawanya menunduk;
Aku ditimang-timang sampai kantuk mengutuk.

Kekasih,
Subuh kali ini teramat dingin,
Puisi dan angin berbisik di telingaku
"Subuh dingin, agar engkau tahu kehangatan pelukan kekasih dan sang cinta."
ujarnya, sembaari merangkai kata dan menjelmakan rasa.

(Magelang, 28 Februari 2019)


- Untuk pesimpuh Malam di Jalan Temaram -

Puisi adalah rumah,
ialah ibu.
tak ada ruang kemunafikan,
ialah savana, tumbuhnya kejujuran, ketulusan, keutuhan rasa dan keabadian.
Puisi adalah ruang bercinta paling abadi.
Ia tak mengenal penolakan.
Di rumah puisi, tak ada ruang kemunafikan.
ia; air mata
didih darah
getaran nadi
ruang cinta
ruang kasih
ruang cinta kasih.
Bak sajadah dan tasbih.