Seperti yang kita ketahui bahwa hingga saat ini pandemi Covid-19 di Indonesia belum juga ditemukan pertanda akan segera usai. Yang ada malah semakin hari kasus positif kian melambung. Terlebih ketika kebijakan new normal diberlakukan yang seharusnya bisa menggerakkan roda ekonomi yang sempat berhenti, tetapi malah menjadi dongkrak naiknya kasus positif Covid-19.

Sekitar bulan April yang lalu masyarakat begitu hectic-nya karena pemerintah menghimbau untuk lockdown bagi beberapa daerah yang berpotensi tinggi untuk menjadi klaster penularan virus, yaitu kota-kota besar layaknya Jakarta, Surabaya, Semarang, dan daerah lain yang padat penduduknya. 

Hal ini sempat menimbulkan kelangkaan masker dan hand sanitizer. Banyak sekali toko dan apotik yang kehabisan stok sehingga membuat harganya kian melambung.

Belum lagi banyak ditemukan oknum yang dengan sengaja memborong masker dalam jumlah besar untuk dijual kembali dengan harga yang tidak masuk akal. Saya sempat menjumpai di e-commerce, satu kotak masker bisa dijual dalam harga Rp 300.000 hingga Rp 600.000 yang sudah tentu memberatkan bagi sebagian pihak terlebih bagi yang kekurangan sehingga tidak mampu membeli dengan harga yang bisa dibilang cukup mahal. 

Hal ini juga merugikan para tenaga kesehatan karena kesulitan mendapatkan masker medis yang begitu krusial selama penanganan korban Covid-19.

Tidak cukup sampai di situ, kini di tengah masyarakat timbul simpang-siur bahwa pandemi ini menjadi kesempatan untuk berbisnis bagi sebagian rumah sakit yang tidak bertanggung jawab.

Setelah menyebarnya berita tentang oknum rumah sakit yang menyogok pasien non Covid-19 agar menyetujui untuk dimanipulasi data tentang penyakit asli yang dideritanya menjadi penyakit Covid-19, masyarakat ramai menggembar-gemborkan bahwa pandemi ini telah berubah menjadi ladang bisnis. Terdapat banyak cerita menyangkut hal ini dan membuktikan benar adanya bahwa beberapa oknum rumah sakit memanipulasi data pasien negatif menjadi positif Covid-19.

Seorang terdekat kerabat saya dikabarkan meninggal karena terinfeksi Covid-19. Segera berita tersebut tersebar luas di permukiman saya dan beberapa saling mendebatkan kebenarannya mengingat korban sebelumnya korban terjangkit penyakit DBD. 

Berita tersebut telah banyak diunggah di beberapa situs berita local dan cukup viral. Kerabat saya menjadi salah satu yang turut membagikan berita tersebut di beberapa Whatsapp group miliknya. Tak lama setelah itu, seseorang menelfonnya.

Dirinya mengaku sebagai perawat pasien tersebut dari awal masuk rumah sakit hingga dinyatakan meninggal. 

“Saya itu orang yang ngerawat pasien dari awal masuk sampai akhirnya pasien meninggal. Terus saya lihat banyak banget berita yang nulis kalua positif Corona. Padahal hasil tes laboratorium saya sama rekan-rekan juga tahu betul bahwa hasilnya negatif, tapi nggak tahu juga di bawa ke atas kok laporannya jadi positif Corona,” ungkap kerabat saya menirukan ucapan perawat tersebut.

Cerita lain datang dari tetangga saya sendiri. Beliau merupakan seorang pengelola tambak yang cukup besar dan terkenal. Wanita yang umurnya lebih dari enam dasawarsa ini dinyatakan sebagai korban meninggal karena positif terinfeksi Corona. 

Pihak keluarga merasa janggal mengingat korban telah lama mengidap penyakit asma dan keseharian korban yang jarang untuk keluar rumah sehingga kecil kemungkinan terpapar virus dari luar sehingga masih diragukan apakah benar bahwa korban terinfeksi Covid-19 ataukah kematian korban dikarenakan asthma yang telah lama menjangkitnya. Masih banyak cerita terkait masalah ini dan tidak ada konfirmasi lebih lanjut oleh pihak rumah sakit.

Seperti yang kita ketahui pemerintah memberi anggaran besar untuk penanggulangan wabah ini. Terutama untuk tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dalam upaya penanganannya. Namun, hal ini cenderung disalahgunakan oleh beberapa oknum tak bertanggung jawab dengan memanipulasi data pasien menjadi positif Corona sehingga mereka dapatkan insentif yang dijanjikan pemerintah.

Banyak dari korban maupun keluarga dijanjikan sejumlah uang agar mau datanya dimanipulasi menjadi positif Corona dan apabila menolaknya malah akan diminta untuk membayar sekian juta rupiah.

Mencuatnya berita ini tentu menimbulkan keresahan pada banyak lapisan masyarakat. Permasalahan ini tengah menjadi topik yang banyak diperbincangnkan di masyarakat. 

Sering kali saya temui para ibu rumah tangga yang tengah belanja sayuran depan rumah saya turut memperdebatkan masalah ini, seperti ‘Corona-ne wis minggat’ (Corona-nya sudah pergi) ‘Dibujuki Corona njenengan, Bu’ (Anda dibohongi Corona, Bu) dan masih banyak ungkapan-ungkapan lainnya yang saya dengar. Hal ini dikhawatirkan bisa menimbulkan bahaya lain, seperti menurunnya kewaspadaan masyarakat akan virus ini terlepas benar atau tidaknya berita yang tengah ramai dibicarakan.

Walau bagaimanapun juga realitanya, tetaplah patuhi protokol kesehatan yang ada sebagai bentuk upaya preventif. Toh, tidak ada ruginya pula jika kita menjaga kebersihan dan kesehatan. Namun, apabila benar keadannya demikian, maka diharapkan pemerintah dengan bijak untuk segera menginvestigasi dan menanganinya dengan tepat mengingat hal ini sangat krusial terhadap kesejahteraan masyarakat.