Perjalanan dua jam harus kami tempuh dari Kota Jambi untuk mencapai Desa Pematang Buluh, Kecamatan Betara, Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Desa yang berbatasan langsung dengan PT Wirakarya Sakti itu kaya akan sumber daya perairan dan cukup menjanjikan dalam memajukan perekonomian masyarakat.

Sejak 2016, PT Wirakarya Sakti dengan program DMPA (Desa Makmur Peduli Api) mampu mengurangi tingkat kebakaran hutan dan illegal logging. Program pertama yang dikembangkan adalah budi daya Ikan Toman. Empat puluh keramba yang dikembangkan mampu menghasilkan 300-500 ekor ikan per keramba, dengan keuntungan 5-10 juta rupiah sekali panen.

Rasa puas dari perusahaan dan masyarakat tidak hanya terhenti sampai di sana. Melihat ada begitu besar sumber daya yang dimiliki, maka pemerintah desa yang berkerja sama dengan perusahaan mulai mengembangkan bidang lainnya, yakni bidang ekowisata.

Berdasarkan keterangan Komarudin, Kepala Desa Pematang Buluh, wilayahnya memiliki 1.000 hektare lahan rawa yang belum dimanfaatkan secara optimal. Lahan tersebut akan dimanfaatkan sebagai objek wisata yang mampu menjadi penopang roda perekonomian masyarakat di desanya.

Sejak September 2018, Pemerintah Desa Pematang Buluh dan PT Wirakarya Sakti mengembangkan tempat wisata dengan nama “Jembatan Rawa Karindangan”, yang memiliki arti jembatan rawa yang dirindukan, diambil dari bahasa Banjar. Mayoritas penduduk desa itu adalah transmigran asal Kalimantan.

Sejak pertama dibuka, tempat wisata ini telah dikunjungi lebih dari sepuluh ribu orang, yang didominasi anak muda berasal dari daerah sekitar Desa Pematang Buluh. Tempat wisata yang masih berupa jembatan dan saung terasa sangat asri dengan pemandangan rawa hijau sejauh mata memandang.

Jembatan yang dicat berwarna-warni, serta diberi tambahan pintu masuk yang dipenuhi bunga, menjadi tempat berfoto yang instagrammable bagi para penggiat media sosial, sehingga mampu menarik banyak pengunjung. Total pendapatan selama bulan September hingga Desember 2018 mencapai 30 juta rupiah.

Keramahan masyarakat yang terasa dari awal memasuki daerah wisata serta sapaan hangat membuat pengunjung makin betah berlama-lama di sana. Sesekali terdengar suara kicauan burung yang membuat kita benar-benar menyatu dengan alam.

Rawa yang masih asri menyimpan candu tersendiri bagi para nelayan ataupun orang-orang yang memiliki hobi memancing. Ikan gabus, lele, dan tembakang siap menemani para pemancing di Jembatan Rawa Karindangan dalam memuaskan hobi memancing mereka.

Melihat begitu besarnya potensi pengembangan tempat wisata Jembatan Rawa Karindangan, pemerintah desa mulai berinovasi untuk menarik lebih banyak pengunjung. Inovasi yang akan dikembangkan adalah saung kuliner terapung, permainan air, kerajinan tangan dari purun, pemancingan, olahan ikan, dan penginapan rumah awak.

Saung kuliner yang akan dikembangkan menawarkan berbagai macam olahan makanan, terutama seafood dan kuliner udara. Kuliner udara adalah olahan burung yang ditangkap di sekitar rawa. Jumlah saung yang akan dibangun sebanyak dua buah diperoleh dari bantuan  PT Wirakarya Sakti dan dana BUMDes Pematang Buluh.

Sebanyak 50 juta rupiah dana dikeluarkan untuk membuat permainan air. Permainan air akan banyak menarik pengunjung anak-anak. Sedangkan untuk ibu-ibu, akan dikembangkan kerajinan tangan dari purun berupa tas, dompet, dan topi. Pengembangan wisata memancing memiliki pasar tersendiri, yakni bapak-bapak.

Tahap awal pengembangan kerajinan tangan dari purun mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Purun yang banyak tumbuh liar di rawa, awalnya hanya dibuat tikar dengan harga dua puluh ribu rupiah per tikar. Namun setelah dilakukan inovasi menjadi bahan tas, harganya naik tiga kali lipat.

Bahan tas itu dikirim ke pengrajin di Kota Jambi. Dari mereka dihasilkan produk-produk yang cantik, bahkan mampu menembus pasar Prancis, Jepang, dan Malaysia dengan harga jual tas mencapai Rp250.000.

Melihat begitu besarnya potensi, pemerintah desa mengembangkan ide dan inovasi guna mendukung pertumbuhan ekonomi warganya. Dari hasil tambak perikanan dibuat olahan-olahan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti kerupuk, sosis, dan tekwan. Pemerintah desa berharap dengan terobosan itu mereka mampu meningkatkan harga jual perikanan.

Visi pemerintah desa adalah menjadikan Desa Pematang Buluh sebagai desa perikanan yang ramah lingkungan. Hal ini didukung dengan penggunaan alat tangkap ikan berupa bubu. 

Selain itu, dengan dana desa sebesar Rp200 juta diharapakan pada 2019 proyek wisata Jembatan Rawa Kerindangan dapat menarik banyak pengunjung dan meningkatkan perekonomian desa.

Pengembangan tempat wisata ini mampu menjadi sarana bagi masyarakat untuk berwirausaha. Semenjak didirikan sampai sekarang, BUMDes mampu mengurangi jumlah pengangguran, bahkan berkurangya jumlah pelaku illegal logging di Desa Pematang Buluh.

Pengembangan BUMDes Pematang Buluh bisa menjadi inspirasi BUMDes lainnya dalam pemanfaatan sumber daya alam yang ada, serta mampu mengurangi jumlah pengangguran. Banyaknya inovasi yang dikembangkan pemerintah desa menunjukkan masyarakat cukup kreatif dalam pemanfaatan sumber daya alam.

Masyarakat dan HTI

Majunya kegiatan BUMDes yang melibatkan masyarakat secara langsung berdampak pada keberlanjutan perusahaan hutan tanaman industri (HTI), yang merupakan pemasok bahan baku pembuatan kertas dan bubur kertas. Turunnya tingkat kebakaran hutan membuat konsumen percaya bahwa sumber kertas yang mereka beli peduli terhadap lingkungan.

Tingginya tuntutan terhadap penurunan kebakaran hutan dapat diatasi dengan pengembangan kegiatan masyarakat di sekitar hutan, salah satunya adalah BUMDes. Selain berdampak pada pasar penjualan, turunnya tingkat kebakaran hutan membuat lahan untuk menanam kayu ekaliptus dan akasia terjaga luasnya, sehingga akan selalu ada bahan baku untuk pembuatan kertas dan bubur kertas.

Masyarakat dan HTI tak bisa dipisahkan dalam menjaga keberlanjutan produksi kertas. Peran masyarakat dalam penjagaan hutan akan memberikan dampak yang begitu besar bagi perusahaan, terutama dalam penurunan tingkat kebakaran hutan dan lahan.

Begitu pun sebaliknya, peran perusahaan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu contohnya adalah peran mereka dalam pengembangan BUMDes Pematang Buluh.