Kemarin pagi (8/7/2020), saya mendapat kiriman pesan Whatsapp dari Pak Juwanto, salah seorang saudara saya. Dalam pesan itu, beliau mengirimi saya foto seseorang yang sangat saya kagumi dan saya hormati, yakni simbah kakung.

Entah kenapa, dengan memandangi foto almarhum simbah kakung pada gawai ini, saya merasa seakan-akan beliau hadir di depan saya dan saling bertatap muka langsung dengan beliau. Saya membayangkan senyum tulusnya yang mampu menghadirkan ketenangan dalam hati.

Saya menjadi terbayang dengan kenangan masa kecil saya yang biasanya menyeruputi kopi beliau di waktu pagi hari. Waktu itu, saya biasa menginap di rumahnya pada saat akhir pekan bersama dengan kakak saya, Mbak Ulin.

Kopi tubruk selalu simbah putri siapkan untuk menghangatkan tubuh gagahnya sebelum beliau berangkat ke sawah. Saya merasakan minuman kopi racikan simbah putri ini memang begitu nikmat tiada duanya. Saya menggumam, mungkin saja inilah alasan kenapa simbah kakung selalu minta untuk dibuatkan setiap pagi hari.

Sejujurnya, saya termasuk cucu simbah yang jarang berkomunikasi dengan beliau. Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor usia kami yang terlampau jauh sehingga saya sendiri sering merasa kebingungan untuk mengembangkan bahasan apa ketika bercengkerama dengan beliau.

Dan selain itu, sejak 2002 yang lalu, waktu saya masih duduk di bangku kelas 2 Tsanawiyah, saya juga mengetahui bahwa indra pendengar simbah kakung sudah sangat jauh berkurang setelah saya menyimak pitutur-pitutur akhir dari simbah putri, beberapa hari sebelum beliau mangkat.

Waktu itu simbah putri menuturkan, "Jika tidak dengan setengah berteriak dan simbah kakung tidak memasang alat bantu pendengarnya, maka pasti simbah kakung akan sulit untuk memahami maksud lawan bicaranya. Maka dari itu, jangan segan-segan untuk setengah lantang jika berbicara dengannya.”

Pada saat berbicara dengan orang lain, simbah kakung biasanya akan setengah berteriak sambil meminta lawan bicaranya bersuara lebih lantang agar beliau mampu mendengar lebih jelas dan memahami maksud ucapannya.

Tak terkecuali untuk kasus saya secara pribadi, saya pun pernah mengalami hal yang demikian. Yakni diminta oleh beliau untuk melantangkan suara saya. Namun, entah kenapa, pada waktu itu saya merasa sangat wagu, canggung, dan tidak nyaman manakala saya hendak berbicara dengan beliau ini dengan setengah berteriak, meskipun beliau sendiri yang memintanya.

Waktu itu, saya menganggapnya sebagai perangai yang tidak sopan lantaran tidak merendahkan suara ketika sedang berbicara dengan orang yang lebih tua. Oleh sebab itulah, mungkin yang menjadi salah satu alasan mengapa komunikasi saya dengan simbah kakung tidak mampu mengalir dengan baik dan berkembang ke sana-kemari.

Namun, saya tidak terlalu menyesali hal ini. Dan bahkan, saya merasa sangat bersyukur sebab masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bersua dengan beliau dan mempelajari segala keteladanan beliau.

Orang-orang memanggil beliau dengan nama Mbah Ambyah, yang mungkin namanya berasal dari salah satu huruf Arab, hamzah. Orang Jawa kuno biasanya akan lebih mudah menyebut kata hamzah dengan ambyah. Selain itu, ada juga di antara warga desa yang menyebut beliau dengan Mbah Wo, yang maksudnya adalah mbah kamituwo (purnawirawan).

Simbah kakung semasa hidupnya selalu rajin mengunjungi rumah anak cucunya. Bahkan, beliau tak hanya sekadar berkunjung saja, beliau juga selalu berinisiatif untuk membersihkan pekarangan-pekarangan milik anak-cucunya hingga bersih dan tertata rapi, tanpa mereka minta.

Bagi simbah kakung, membersihkan pekarangan adalah bagian dari kegiatan untuk mengolahragakan fisiknya yang masih tampak begitu perkasa di usianya yang telah memasuki kepala sembilan.

Jika sudah berada di pekarangan, biasanya simbah kakung akan menyulut rokok tingwe—ngelinteng dhewe, rokok racikannya sendiri, untuk menemani aktivitasnya di pekarangan.

Tidak berselang lama kemudian, biasanya anak cucunya akan datang menghampirinya sambil menenteng secangkir kopi dan sebungkus rokok kobot favoritnya. Rokok kobot itulah yang nanti biasanya akan beliau bawa pulang selepas mengerjakan tugas kebersihan di pekarangan dan menghabiskan secangkir kopi.

Simbah kakung memiliki jam sendiri untuk menandai kapan beliau akan memulai dan berhenti bekerja. Biasanya, beliau akan mulai bekerja di pekarangan pada kisaran jam 8 pagi, dan akan lekas menyudahi kegiatannya saat menjelang zuhur dan asar tiba. Beberapa saat sebelum memasuki waktu-waktu sakral itu, biasanya beliau akan pamit pada anak cucunya.

Itulah di antara aktivitas simbah kakung yang paling saya ingat semasa hidupnya. Saya menganggap beliau adalah sosok yang penuh dengan keteladanan. Beliau telah mencontohkan sikap ulet, disiplin, dan ramah, tanpa perlu menjelaskannya pada saya dan siapa saja.

Menurut saya, keteladanan beliau itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi pedoman bagi saya yang mungkin akan sangat sulit untuk saya tandingi, sebagai cucunya.

Kini, simbah kakung telat pamit. Beliau telah kembali ke pangkuan bumi pertiwi setelah purna mengabdi dan menjalankan tugas-tugas Tuhan untuk dirinya. 

Semoga segala amal beliau itu tercatat sebagai kebaikan yang diridai oleh-Nya, sehingga Dia akan berkenan untuk melapangkan luas rumahnya yang berada di surga. Dan mudah-mudahan Dia juga mengampuni segala kesalahannya, sehingga beliau tak akan merasakan sedikitpun teriknya desiran angin yang memancar dari dalam neraka.