Menarik bahwa teknologi berperan amat penting dan menentukan sebagai salah satu alat penolong dalam musibah. Contohnya, dalam musibah tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun di Danau Toba, Sumatera Utara, pada 18 Juni 2018, penggunaan alat pencarian objek di kedalaman laut mulai dioperasikan. 

Bukan saja alat yang dikenal sebagai multibeam side scan sonar atau ROV (remotely operated vehicle), tetapi juga yang lebih canggih, yaitu multibeam echosounderdigunakan oleh tim penyelamat. Keduanya merupakan alat yang mampu beroperasi untuk kedalaman di bawah 600 meter, bahkan yang disebut terakhir mampu mencapai kedalaman 2000 meter. 

Dengan demikian, tenaga manusia, dalam hal ini para penyelam, dapat lebih terbantu dan terdukung dalam upaya penyelamatan, khususnya di kawasan perairan.

Tak heran sejarah mencatat bahwa teknologi telah menjadi “bahasa” yang mampu memudahkan dan mempercepat segala sesuatu yang sebelumnya tak terbayangkan dapat dikerjakan, khususnya di masa kolonial Belanda. 

Sebagai contoh, teknologi jalan raya yang sejak awal abad ke-19 telah mengubah nuansa Wild West pada zaman ekspedisi menjadi lebih “beradab” dengan ditandai oleh berbagai kendaraan bermesin yang tidak lagi meninggalkan “jejak-jejak kaki” (sporen). 

Bahkan ketika teknologi rel kereta api dan pesawat udara mulai merambah dan membentuk peradaban baru dalam bepergian, maka bukan saja kenyamanan dan keamanan yang dapat dirasakan, tetapi juga tentang keindahan atau kemolekannya. Masuk akal jika Hindia Belanda sebagai koloni bagi orang-orang Belanda dan Eropa dikenal sebagai mooi Indie atau “Hindia yang molek”. 

Itu artinya, di koloni itu teknologi dihadirkan sebagai alat untuk merekayasakan sebuah saat dan tempat yang layak untuk dihuni dan lebih jauh lagi mampu mendatangkan keamanan dan ketertiban (rust en orde).

Keamanan dan ketertiban yang direkayasakan melalui teknologi modern itu bertujuan untuk menghindar dari segala macam bahaya, termasuk bencana dan penyakit. Bahaya yang menjadi ancaman sehari-hari di koloni itu tampak seperti “permukaan sebuah jiwa yang sama sekali tenang dan tidak kusut” (Mrazek, 2006, hlm. 3). 

Maka, meski bentang alam di koloni tropis tersebut mampu memberikan panorama yang molek dan menakjubkan, namun hal itu hanya dapat dinikmati dari balik jendela kaca kereta api atau pesawat terbang misalnya. Dari sanalah segala pemandangan yang anggun dan indah tentang Hindia Belanda dapat dinikmati seperti terdapat dalam sebuah lukisan kecil yang dapat digantung atau sebuah foto yang kerap dijadikan sebuah souvenir. 

Melalui teknologi kaca, segala jenis penyakit dan bencana dapat dicatat dan diamati dengan seksama, termasuk para pribumi atau penduduk asli yang dicurigai di Hindia Belanda. Itulah mengapa ada beragam bibit penyakit yang dapat dideteksi dan juga sidik jari (vingersopren) dari setiap orang yang patut untuk diawasi.

Hanya masalahnya, koloni yang dipasang di bawah rumah kaca itu dengan berbagai pernik-pernik pengamatan yang diperlukan dan diterapkan untuk menghindari segala bahaya sama sekali tidak pernah menyentuh masalahnya. Dengan kata lain, jumlah penyakit dan bencana yang telah dipetakan itu sekadar menjadi alat pengamatan dan pengawasan yang dibuat bagus seperti sungai yang dibendung dan digunakan sebagai tempat wisata air. 

Di situlah objek inspeksi yang diatur oleh sebuah industri, seperti farmasi atau penyelamatan, direkayasakan demi sebuah kelompok tur yang haus akan keindahan atau kemolekan dari balik kaca. Itulah sesungguhnya simalakama dari teknologi bencana yang di satu sisi membuat segala macam bahaya menjadi begitu teknologis, tetapi di lain sisi seperti “pilar-pilar batu berpelster putih” yang “tidak menopang apa-apa” sebagaimana tampak pada bangunan kolonial peninggalan Belanda (Mrazek, 2006, hlm. 170).

Dalam konteks ini, bencana yang terjadi di Danau Toba dapat berpeluang menjadi simalakama yang secara teknologis menggantung di awang-awang. Hal itu menunjukkan bahwa teknologi bencana hanya mampu menjadi “bahasa aspal” yang memuluskan dan meluruskan masalah yang terjadi, tapi sumber masalahnya justru terabaikan. 

Mirip seperti “revolusi dalam pembangunan” (revolutiebow) pada awal abad ke-20, kata asli Melayu dan Indonesia, yaitu bandjir, hanya dibiarkan menyolok dan menandakan bencana dalam sebuah teks tentang masalah air bersih. 

Padahal, seperti dikritik Mas Marco, pengaturan air di akhir zaman kolonial Belanda justru menjadi masalah yang paling berbahaya bagi rakyat kebanyakan. Sebabnya ketika musim kemarau, rakyat yang kesulitan mendapat air bersih dihadapkan pada soal keterbatasan sumur-sumur yang ada di daerahnya. 

Sebaliknya tatkala musim hujan, rakyat justru banyak yang mati karena mengkonsumsi air di sumur-sumur yang selama musim kemarau telah ditebari pupuk buatan berkonsentrat tinggi untuk membunuh baksil-baksil tipus, kolera, dan pes. Jadi, di koloni beriklim tropis ini rakyat selalu menjadi korban dari cara orang-orang pintar untuk menangani air secara ilmiah.

Teknologi dalam bencana memang tidak selalu berhasil untuk dimanfaatkan secara efektif dan operatif. Bukan semata-mata lantaran rusak atau sudah ketinggalan zaman, tetapi justru karena teknologi telah “mengabstrakkan dunia dari keadaan-keadaan sosialnya” (Mrazek, 2006, hlm. 41). 

Dengan kata lain, sebagai sebuah paradigma dunia modern yang ampuh, teknologi hanya menyebarluaskan pengertian kekuasaan yang semata-mata bersifat mekanis dan hal itu “melonggarkan ikatan-ikatan antara derau (noise) dengan suara (voice), antara kata (word) dan perbuatan (deed)” (Mrazek, 2006, hlm. 261). 

Karena itu, masuk akal jika masa depan, atau apapun itu istilahnya, dapat berbelok ke arah lain. Arah yang sebelumnya dibayangkan mampu mengupayakan beragam rencana untuk mengatasi bencana, namun justru mengakibatkan kekacauan, bahkan tak jarang kehancuran, yang datang secara alamiah.

Kekacauan dan/atau kehancuran akibat bencana itu sudah cukup jelas ditunjukkan ketika letusan gunung Krakatau di tahun 1883 terjadi karena “peralatan magnetik di institute meteorologi di Batavia tidak merekam apapun yang luar biasa” (Mrazek, 2006, hlm. 123). 

Apalagi saat gelombang tsunami pada akhir tahun 2004 menyapu hampir seluruh kota Aceh, terbukti bahwa yang ditakuti sebagian besar warga bukanlah air laut yang begitu besar dan deras, melainkan segala sesuatu yang hanyut diterjang gelombang tsunami tersebut (Barker, 2012). 

Hal itu memperlihatkan betapa teknologi bencana masih tampak rawan dan rapuh terhadap apapun yang tak terduga, termasuk segala peristiwa yang dianggap dapat dengan mudah direkayasakan oleh Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Inilah yang sesungguhnya menjadi simalakama dari teknologi bencana di Indonesia dari masa ke masa.

Tentu harapannya, upaya penyelamatan yang dilakukan dengan teknologi di Danau Toba tidak berbuah menjadi simalakama dalam bencana. Sebab meski teknologi mampu membuat sebuah ekspedisi, termasuk penyelamatan dalam bencana, “dengan sebuah katak kecil madjoe”, namun bukan sebuah jaminan bahwa masalahnya dapat segera teratasi. 

Masih diperlukan upaya yang lebih dalam dan serius agar tidak cepat kehilangan “jejak-jejak kaki” yang berada di permukaan tanah yang sama sekali tenang dan tidak bergelombang. Semoga!