Kertas, atau yang dalam Bahasa Inggris sering kita sebut sebagai paper merupakan salah satu kebutuhan manusia yang nampaknya bahkan sudah menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan. Bagaimana tidak? Dapat kita lihat dari berbagai aspek penggunaan kertas atau yang berbahan dasar kertas marak sekali digunakan.

Dari kalangan muda sampai tua sekalipun, penggunaan kertas ini seolah tidak dapat dibendung lagi. Contoh, jika kamu masih dalam status sebagai pelajar ataupun mahasiswa maka kamu akan dikelilingi oleh kertas. Dimulai dari buku, papan pengumuman yang ditulis diatas kertas, kerajinan tangan yang menggunakan bahan dasar kertas dan masih banyak contoh yang lain.

Bagaimana dengan orang dewasa? Misalkan kamu ingin membeli sebuah produk dari toko online, dan akan dikirimkan kepadamu melalui jasa pengiriman. Apa yang dilakukan oleh pihak toko dalam pengemasan barang/produk yang kamu beli? Yap, mereka akan membungkusnya dengan kertas kado dan semacamnya. Lagi dan lagi kertas.

Tahukah kamu? Dalam pembuatan satu rim kertas dibutuhkan satu batang pohon yang berusia 5 tahun? Ya, bayangkan! Bahan baku sebanyak itu hanya dapat menghasilkan kertas yang sangat sedikit!

Menurut kamu dari kurang lebih 7 miliar orang yang ada di dunia ini, jika 1 orang saja misalnya kita umpamakan menggunakan minimal 1 rim kertas A4 tiap satu bulan. Berapa milyar rim kertas yang akan digunakan oleh 7 miliar orang tersebut dalam satu bulan? Satu tahun? Seumur hidupnya sampai ia meninggal?

Yang paling penting, berapa banyak pohon yang harus ditebang hanya untuk kebutuhan manusia akan kertas saja?

Bukan, bukan hanya dari segi kerimbunan hutan kita saja yang harus kita perhatikan dalam hal ini. Tahukah kamu ada banyak proses yang harus dilakukan agar satu batang pohon yang berusia 5 tahun tersebut dapat disulap menjadi 1 rim kertas berukuran A4? Dimulai dari produksi pulp mentah, bleaching dan banyak hal lainnya yang menggunakan bahan kimia yang nantinya merusak keadaan alam.

Jadi, dengan pemborosan kertas maka kita sudah berkontribusi merusak bumi baik dari segi biologi, kimiawi, ataupun fisika.

Akan tetapi, perlu diingat kembali industri kertas merupakan salah industri penting untuk menaikkan kesejahteraan negara maupun masyarakatnya. Banyak sekali masyakarat yang menggantungkan hidupnya dari industri ini. Baik dari petani kertas sampai pedagang kecil maupun besar.

Apabila kita ingin menutup industri ini dengan alasan keberlangsungan hidup umat manusia, maka kita akan mengganggu keberlangsungan hidup manusia lain yang bergantung akan industri ini. Bagai buah simalakama, bukan?

Menurut saya, orang yang baik adalah mereka yang tidak hanya mengkritik untuk membangun saja melainkan memberikan sebuah solusi. Dan ada beberapa solusi yang saya tawarkan dalam tulisan saya ini yang secara garis besar adalah upaya Inovasi dan Pengurangan Penggunaan.

Inovasi

Jujur, dengan inovasi yang telah ada di dunia serba canggih dan modern ini maka seharusnya sudah didapatkan solusi atas permasalahan kertas ini. Dengan adanya papan pengumuman elektronik yang mana tulisannya dapat diketik tanpa menggunakan kertas, bukannya ini setidaknya dapat menghemat dalam satu aspek tersebut? 

Dengan adanya laptop dan smartphone canggih yang beredar dimana-mana, bukankah keberlangsungan kertas sebagai sumber mencari informasi dan menyebarkan informasi dapat dikurangi? Lalu kenapa ini tidak terjadi?

Sifat kolot mereka yang tidak menerima akan perubahan zaman ialah penyebab terbesarnya. Padahal, dengan memanfaatkan inovasi dalam teknologi dapat menghemat biaya yang sangat besar! 

Misalnya kamu ingin membeli sebuah buku dalam bentuk cetak dan dihargai Rp.50.000. Bagaimana dengan buku yang berbentuk soft file atau bisa kita sebut sebagai e-book? Pasti lebih murah, kan?

Seandainya mereka menyingkirkan sifat kolot yang berpandangan bahwa penggunaan sesuatu yang konvensional seperti kertas harus dikurangi seminimal mungkin dan inovasi teknologi adalah jawabannya, maka saya yakin permasalahan terhadap hal ini akan selesai sesegera mungkin

Innovation for those who want their lives much easier, and not those want to keep their lives difficult”-Penulis-

Mengurangi penggunaan

Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, penggunaan kertas saat ini harus menjadi concern di kalangan masyarakat dikarenakan ketidakmampuan masyarakat dalam memanfaatkan inovasi yang telah ada dan kemampuan menahan diri untuk tidak menggunakan kertas secara sangat berlebihan.

Tentu tidak bisa jika kita ingin menghentikan industri kertas, karena seperti yang telah saya jabarkan banyak sekali diantara kita yang sangat bergantung akan komoditas tersebut.

Hal yang benar adalah mengurangi. Misal seperti ini, dalam dunia perkuliahan banyak sekali penggunaan kertas bukan? Seperti dalam pengerjaan tugas, laporan, pre-test sampai dengan skripsi. Tentu banyak sekali kertas yang kan terpakai atau bahkan terbuang bukan?

Misalnya dari pengajuan skripsi, seorang mahasiswa harus mengajukan proposal terlebih dahulu yang biasanya akan direvisi berulang-ulang oleh sang dosen. Berlanjut ke hasil penelitian dan skripsi secara keseluruhan.

Apakah hal itu baik? Ya sangat baik mungkin jika ditinjau dari segi maksud dan tujuan. Yang mana, mungkin tujuan mereka agar tugas yang mereka berikan dapat dikerjakan semaksimal mungkin. Tapi apakah baik pasti benar?

Disini jawabannya. Baik, tidak selalu benar. Ya, di zaman yang sangat ramai penduduk ini maka kita harus menggunakan segala sesuatunya seefektif mungkin. Baik dalam penggunaan waktu, tenaga bahkan kertas. Membuang-buang kertas apakah merupakan tindakan yang efisien? Tentu bukan.

Tapi, bagaimana jikalau sang dosen ingin tugasnya dikerjakan sebaik mungkin dengan tidak menghambur-hamburkan kertas?

Hubungkan dengan solusi yang pertama, Inovasi.

Kenapa harus di print terlebih dahulu lalu direvisi dan harus diganti kertas yang salah tersebut? Kenapa tidak sebelum di print dengan memanfaatkan teknologi soft file dosen merevisi dan memberitahu letak kesalahannya sebelum dilakukan proses cetak? Hal ini dapat meminimalisir jumlah kertas yang terbuang, bukan?

Menurut saya, sebenarnya sudah banyak sekali masalah yang dapat diselesaikan sekarang juga tanpa menghadirkan masalah baru. Dengan catatan, adanya keterbukaan fikiran dari seseorang untuk menerima gagasan atau ide yang lebih baik daripada sebelumnya. Kunci dari hidup ini adalah bergerak, berubah dan berinovasi. Jika kamu tidak menerima perubahan, maka kamu hanya dapat hidup di masa lalu.

Ya, dulu kita bisa saja bilang tidak apa menggunakan kertas sebanyak mungkin. Toh, hutan kita sangat lebat. Dulu kita bisa aja berujar untuk tidak terlalu peduli akan pencemaran lingkungan, toh sungai-sungai kita sangat jernih.

Saya tidak menyalahkan satu pihak, tapi seluruh pihak yang merasa dirinya tak harus berubah dan selalu benar. Dan percaya atau tidak hal ini terjadi baik di kalangan muda ataupun tua.

Demikianlah, pandangan serta solusi saya akan kegelisahan terhadap masalah yang seolah tak kunjung usai ini. Semoga banyak pihak yang membaca tidak hanya menggunakan mata, namun dirasakan dengan hati.

“Mungkin orang yang belum membuka hatinya untuk berubah menjadi lebih baik adalah mereka yang belum membuka kedua matanya untuk melihat, bahwa dunia sudah menjadi sangat buruk” -Penulis-