Kebanyakan dari manusia mempunyai siklus dan skala waktu harian. Dia bangun di pagi hari, bersiap-siap untuk berangkat kerja, kemudian pulang di waktu sore; istirahat dengan keluarga, lalu tidur kala malam hari untuk mulai kerja lagi di paginya. Siklus dan skala waktu harian inilah yang mendominasi jenis pekerjaan manusia di dunia yang pada gilirannya membuat sebuah pola pikir umum.

Bahwa seseorang akan dinilai bekerja jika dia berangkat pagi, pulang sore, tidur malam, atau sebaliknya sepanjang dalam siklus dan skala waktu yang sama. Pekerjaan adalah juga tentang keteraturan, dan keteraturan kerja adalah kemonotonan, yang sering dianggap kebanyakan orang sebagai kepastian.

Kebanyakan orang juga sering menyamakan waktu dengan satuan waktu itu sendiri, padahal satuan detik, menit, jam, hari, dan seterusnya hanyalah alat bantu manusia untuk sarana kesepakatan bersama sehingga kepastian bisa didapat. Dan waktu itu sendiri adalah yang sedang berjalan ini, saat ini, tanpa detik, menit, dan jam.

Maka dapat dikatakan bahwa seseorang dikatakan bekerja jika pagi bangun, berangkat kerja, pulang sore, dan tidur kala malam hanyalah konsensus umum yang sudah hadir di alam bawah sadar kebanyakan manusia sehingga yang tidak mempunyai siklus dan skala waktu kerja seperti di atas akan dinilai tidak bekerja.

Ada seorang laki-laki yang hidupnya tidak dalam siklus dan skala waktu seperti di atas. Pertama, dia masuk perguruan tinggi untuk belajar—di sini dia menggunakan siklus dan skala waktu kebanyakan orang. Kemudian dia memutuskan untuk keluar dari kampusnya karena dia pikir hanya mengeruk habis uang orang tuanya saja, juga apa yang dipelajarinya di sana tidak sesuai dengan passion-nya.

Selanjutnya, dia belajar kaligrafi di kampus tersebut kemudian hidup sebagai pertapa di sebuah kuil, tidak melakukan apa pun hanya makan dari sumbangan para pengunjung kuil dan tidur untuk waktu yang tidak sebentar. Lalu dia memikirkan untuk membuat sesuatu dan memutuskan pulang. Bertemulah dia dengan seorang teman, yang pada gilirannya akan menjadi partnernya dalam membangun sebuah produk.

Di rumahnya, dia makin sibuk dengan berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan bagaimana produk ini bisa diterima dengan baik di pasaran. Singkat kata, produknya laku keras dan menjadi brand nomor satu, dia makin berusaha untuk membesarkan perusahaannya sampai tiba kematiannya.

Dalam deskripsi itu, terlihat jelas perubahan drastis siklus dan skala waktu yang dialami orang itu, dan orang yang dimaksud adalah Steve Jobs, sang pendiri perusahaan Apple.

Kita bisa lihat, di masa kuliah, dia bersiklus dan skala waktu harian, kemudian berubaha menjadi siklus dan skala tahunan kala dia menjadi pertapa hingga kematiannya. Kala dia menjadi pertapa, dia hanya makan dan tidur tanpa melakukan pekerjaan apa pun, waktu luangnya begitu banyak namun yang jelas waktu tidurnya sangatlah banyak.

Kemudian dia pulang dan mendirikan Apple, yang tentu saja menguras habis waktu istirahatnya, dia tentu jarang sekali tidur atau setidaknya hanya beberapa jam setiap harinya. Pendek kata, dia kehilangan waktu luang pertapa yang selama bertahun-tahun menjadi siklus dan skala waktunya. Itu siklus dan skala waktu untuk salah satu CEO paling terkenal, sangat dinamis.

Lain halnya dengan yang dialami para pemain saham, siklus dan skala waktunya, bahkan hitungan menit atau detik. Karena di era digital sekarang, sentimen negatif karena bencana atau sentimen positif karena regulasi baru dapat menyebar ke seluruh belahan dunia dengan sangat cepat, dan secepat itulah mereka harus mengambil putusan untuk membeli, mempertahankan, atau menjual saham yang dia miliki.

Dan terkhusus para seniman, mereka tidak menggunakan siklus dan skala waktu. Karena untuk mereka, waktu tidaklah berjalan—dia diam dan sang senimanlah yang berjalan-jalan melintasi waktu untuk merekam dan mengabadikan momen dalam wujud karya.

Baca Juga: Membunuh Waktu

Namun mungkin ada yang mengatakan bukankah tubuh manusia memang dirancang untuk aktif di siang hari dan istirahat di malam hari sehingga memanglah siklus dan skala waktu manusia adalah harian? Itu sama sekali tidak salah, namun itu hanya rancang biologis yang tak berhubungan langsung dengan pola kerja seseorang.

Dengan begini, kita mempunyai perspektif yang lebih terang tentang setiap yang dikerjakan orang-orang. Bahwa benar pagi berangkat sore pulang malam istirahat sangat terlihat bekerja, namun itu hanya salah satu dari jenis-jenis siklus dan skala yang kebetulan menjadi konsensus umum karena itulah yang dilakukan umat manusia pada umumnya.

Setiap manusia adalah warna lain bagi manusia lainnya. Termasuk dalam ini siklus dan skala waktu. Paling tidak, itu menjadi salah satu titik beda manusia dengan makhluk lainnya seperti saudara-saudara kita di spesies mamalia, juga aves, pisces, dan reptil, yang kesemua hewan itu mempunyai irama hidup yang stagnan sehingga dapat diprediksi dan dipastikan.

Dapat diprediksi dan dipastikannya perilaku hewan membuat beberapa dari mereka, seperti ayam dan sapi, dapat didomestifikasikan. Dan, jika manusia mempunyai laku yang dengan mudah dapat diprediksi dan dipastikan, apa ada kesempatan untuk didomestifikasikan pula? Kita melihat yang paling potensial untuk melakukannya adalah makhluk yang bernama Algoritma.