Beberapa tahun lalu saya diberi kesempatan mengunjungi pesantren dan terlibat dalam dialog antar agama, serta mengunjungi Masjid bersejarah. Dalam setiap kunjungan dan keterlibatan dialog antar agama membuahkan refleksi yang berbeda. Dari sikap saya yang memuja pada liberalisme kemudian menjadi kritis pada paham tersebut. 

Apakah mungkin menjadi toleran tanpa menjadi seorang liberal? Pertanyaan itu saya ajukan pada diri sendiri. Jika pertanyaan itu diajukan saat masih studi S1, maka saya akan menjawab "Tidak"! Saya masih mengingat saat terlibat dalam dialog antar agama, saya bertemu dengan perempuan muslim memakai kerudung. Saya bingung mengapa mereka mau memakai kerudung? Mereka datang ke acara dialo antar agama, tetapi memakai kerudung? 

Menurut saya, mereka tidak lagi bebas seturut otonomi/kedaulatan/kehendak bebas. Bagi saya, yang mereka lakukan adalah hanya sekadar mengikuti nilai komunitas tanpa kritis pada nilai tersebut. Mengapa kepala/rambut/tubuh mereka harus ditutup? Mengapa nilai komunitas yang justru menjadi nilai yang mereka peluk? Bagi saya saat itu nilai komunitas tidak begitu saja dapat menentukan kehendak bebas individu, kehendak bebas perempuan. 

Pengalaman kedua, setelah saya lulus dari S1 melakukan kunjungan ke pesantren Cipasung. Saat sesi diskusi, ada seorang perempuan berkerudung memimpin diskusi. Salah satu pertanyaan yang saya ajukan adalah: "Mengapa ibu memakai kerudung?" Saya masih ingat jawaban ibu tersebut: "Saya memakai kerudung sebagai bentuk kebebasan memilih" Saya terhenyak: "Mengapa memakai kerudung justru dimaknai sebagai kehendak bebas memilih?" Bisik saya pada diri sendiri.

Pengalaman ketiga, yaitu saat saya menemani beberapa warga usia muda untuk tinggal bersama di pesantren Buntet-Cirebon. Saya bertemu dengan peserta live in yang datang dari lembaga lain. Ia seorang perempuan dan saya tahu ia bukan seorang muslim. Ia memakai kerudung. 

Saya mengatakan, "Mengapa kamu memakai kerudung? Bukan berarti ketika kita ke tempat ini, maka kita harus mengikuti busana yang tidak kita pakai, kan?" Ketika  mengatakan itu, saya masih belum melihat bahwa ada masalah dengan cara berpikir saya. 

Perubahan cara berpikir saya dimulai ketika beberapa tahun ini melihat di media sosial dipenuhi dengan pertentangan antara "kadrun vs cebong". Dua istilah yang membuat riuh pentas media sosial. Kalangan yang merasa terpelajar, terdidik, kaum beragama rasional menganggap mereka yang mengekspresikan kultur dan agamanya tidak sesuai dengan ekspresi rasionalitas ala pencerahan, akan diberi label "kadrun". 

Sikap mengejek yang tak berkesudahan membuat saya semakin serius melihat bahwa ada masalah dengan cara berpikir yang kurang bahkan tidak menghargai nilai yang dihayati sebuah komunitas. 

Dua tahun lalu, saya seorang diri datang mengunjungi Masjid Agung Banten. Saya datang dengan memakai kain penutup kepala. Saya melihat beberapa orang pezirah datang. Ada yang berdoa, ada yang sedang tidur, ada yang sedang berbincang sambil mengopi dan merokok. 

Saya datang kesadaran penuh ke sebuah komunitas yang menghayati nilai sakral. Karena itu saya tidak mau datang dengan sikap arogan, merasa datang dari dunia pencerahan yang mengklaim tentang keyakinan otonomi individu/kedaulatan/kehendak bebas, tetapi justru menciderai nilai komunitas. 

Pada kesempatan lainnya, saya berkunjung ke Masjid Sunan Ampel. Kedatangan saya ke tempat itu tidaklah direncanakan. Sebelumnya saya hendak datang ke satu destinasi wisata, di Jawa Timur, tetapi gagal karena kondisi kawan seperjalanan yang saat itu tengah sakit. 

Dalam situasi itu, saya memutuskan berjalan-jalan di Kota Surabaya. Dan "aha", saya mau ke Masjid Sunan Ampel. Tapi saya pada waktu itu tidak menggunakan busana yang cukup pantas. Saya pikir nanti akan mendapatkan kain di sekitar area Masjid. 

Sebelum sampai di Masjid Sunan Ampel, saya menyusuri kampung Arab. Ketika saya hendak masuk menyusuri jalan, saya sempat terdiam. Asumsi pikiran "sok tahu" bergerak di kepala saya. Saya mulai mereka-reka tentang orang Arab berdasarkan cerita orang-orang. Saya malu dengan asumsi ini. 

Saya melangkah masuk menyusuri kawasan yang dipenuhi dengan banyak pedagang. Mereka menjual bermacam-macam buku agama, makanan, baju muslim, dan sebagainya. Saya merasa nyaman menyusuri jalan-jalan itu. 

Sampai di dekat kawasan Masjid, saya merasa harus mencari penutup kepala sederhana untuk saya pakai. Saya bertanya pada salah seorang peziarah yang bertepatan seorang ibu, kiranya dapat menunjukkan kain sederhana yang bisa saya pakai. Ibu tersebut dengan sigap meminta tolong kepada seorang penjaga parkir motor. 

Kemudian kain sederhana dipinjamkan kepada saya. Saya merasa sama sekali tidak dihakimi. Saya berjalan masuk bersama dengan banyak peziarah. Mereka khusuk berdoa. Ada begitu banyak peziarah, tidak hanya datang dari kota setempat. Ada juga dari daerah lain. 

Saya memilih tidak terjebak pada sikap arogansi, pada liberalisme tanpa catatan kritis. Sikap toleran tanpa perlu menjadi arogan. Sikap toleran yang tidak berarti harus menjadi seorang liberal.