Penulis
1 tahun lalu · 401 view · 3 menit baca · Filsafat 47398_21888.jpg
karenyakey.com

Sikap Spiritualisme Kritis Kaum Terdidik

Bagaimana mungkin sesuatu yang di luar jangkauan pemikiran dapat mengendap sebagai satu kecenderungan ideologis bagi pemikiran kritis yang aksidensial. Pola keimanan seseorang cenderung mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan suasana hati dan apa yang ia hadapai dalam konstelasi kehidupan.

Memikirkan sesuatu yang tak terpikirkan sebagaimana Tuhan dipahami, memberikan satu gambaran umum tentang betapa akal pikiran kita sangat terbatas. Objek sering kali dipahami pada batas-batas inderawi yang memungkinkan rasio bekerja dalam batas minimumnya. Betapa kita sering luput dalam memahami sesuatu hanya karena akal indrawi sulit menerima pemikiran-pemikiran abstrak di luar kontrol kemampuannya.

Sebagai makhluk spiritual, manusia memiliki keistimewaan dalam mengimajinasikan sesuatu tanpa ia harus keluar dari dimensi fisiknya. Angan-angan sering kali menjembatani bagaimana dunia spiritual bekerja. Meskipun objek meta-empirik nyaris tidak terlihat eksistensinya sebagaimana ia sangat mirip dengan ketiadaan.

Teologi negatif, sebagai sikap kritik atas metafisika ketuhanan, adalah mengejawantahan dari spiritualisme kritis yang tidak mudah percaya terhadap segala sesuatu, meragukan segalanya, demi mencapai ketajaman berpikir dalam menganalisis berbagai hal tanpa rasa takut yang berlebih-lebihan. Dogmatisme adalah musuk bersama bagi spiritualisme kritis orang-orang terdidik.

Bahkan, orang yang tidak bertuhan pun memiliki sikap spritualisme kritis yang tajam, seperti pencarian akan pegangan, kepastian absolut yang coba mereka gugat. Ini semata-mata sifat kritis terhadap apa yang sering disebut sebagai persoalan transpersonalisme bagi nilai transenden yang tak tercapai.

Spritualisme kritis yang hanya dimiliki oleh kaum terdidik nyaris tidak bisa dipahami oleh orang-orang dekaden, karena ini semacam gugatan atas gugatan yang menggungat transendensi kemanusiaan. Sikap kritis, jika ini disebut sebagai titik terdalam dari rasionalisme, menjadikan ukuran-ukuran lebih tampak sebagai penundaan terhadap kebenaran.

Orang sering berpikir bahwa kebohongan dan dosa adalah sifat dari menunda kebenaran. Sikap spiritualisme kritis tampaknya berada di tengah-tengah antara kepalsuan dan kepastian. Inilah kiranya yang membentuk cara pandang skeptis tanpa menunjukkan nihilisme absolut sebagai kepura-puraan mental orang-orang terdidik.

Yang paling penting adalah spiritualisme kritis selalu berada pada keadaan imanen, yakni kesadaran mutlak bagi akal budi yang membentuk kriteria-kriteria kemewaktuan atas keberadaannya. Ia tidak pernah lupa bagaimana cara mengada. Lantas, di sinilah letak premis yang menjadi tumpuan bagi kesimpulan akan kebenaran yang tentu saja bukan sekadar kepastian.

Semangat cara keagamaan yang kaku kadang menjebak pola perilaku yang tidak normal. Seperti pengandaian-pengandaian terhadap nilai objektif dari doktrin yang sebenarnya ia hanya sebatas aksi mental dari logika iman yang begitu beragam. Keyakinan boleh jadi sebagai penghambat sikap kritis bagi tatanan kepastian yang seharusnya ditunda.

Ketika nalar kritis dibatasi hanya pada wilayah rasio, spiritualisme boleh jadi mengalami kemunduran yang pada titik terdalamnya, memisahkan cara bagaimana iman seharusnya tidak diperdebatkan sebagaimana kaum agamawan yang begitu getol membagi-bagi di mana kebenaran semestinya ditempatkan.

Bagaimana kita seharusnya menyikapi sikap kritis, mempertimbangkan bagaimana rasionalitas bergerak pada wilayah metasifika yang bahkan tak tersentuh nilai pengadanya. Mungkinkan ini bisa dilakukan, sebatas ingin memastikan ruang kerja bagi gerak spiritualitas dari aksi mental yang abstrak ini.

Jika kontemplasi adalah laboratorium terbaik bagi spiritualisme, maka sikap kritis menjembatani realitas yang tidak terlalu mistik. Mengapa orang cenderung memilih sikap spiritualisme tanpa kritis, dan mendiamkan dimensi kerohanian pada tatanan yang lebih rendah, karena mereka tidak terlalu tertarik dan sering kali diancam oleh perasaan takut.

Ini bukan sesuatu yang harus dilakukan oleh kaum terdidik. Kecerdasan mereka harus diuji pada batas-batas yang tak bisa ditentukan. Begitulah seharusnya logika iman bekerja tanpa harus secara kaku mempertimbangkan sistem paten yang dianggap final. Selain itu, haruslah dimengerti orang-orang terdidik itu kadang juga terjebak dalam absolutisme laten, yang diam-diam membuatnya menjadi dekaden.

Itu bisa dimengerti karena mereka ingin berada pada titik aman tanpa memikirkan kelayakan hidup melalui uji coba keraguan yang akan menjadi setimpal bagi kehidupannya. Bukankah lebih mudah demikian, namun apakah layak. Spiritualisme kritis memang menantang untuk sekedar mencoba lebih jujur pada kehidupan.

Beriman tanpa rasa takut, berpikir tanpa rasa takut, bersikap kritis tanpa rasa takut adalah mediasi paling maju bagi corak spiritualisme kaum yang sekalipun ia tidak mengalami iman sebagai keyakinan mental. Iman tentu saja sebuah kecenderungan historis tanpa kebenaran, lebih tepatnya tanpa harus mempersoalkan apakah dalam iman mengandung semacam kebenaran.

Spiritualisme mutlak pada akhirnya hanyalah kegagalan dalam mengekspresikan dunia mistik yang lagi-lagi tidak didukung oleh imanensi yang kuat. Seperti halnya kriteria dalam menentukan kebermaknaan atas hidup yang tidak selalu stabil dalam dirinya sendiri. Ini harus dipahami jauh melampaui kepekaan pada fakta-fakta indrawi.

Mungkin kehidupan kita sudah dibatasi dan ditekan oleh simbolisasi-simbolisasi yang tidak penting, betapapun harus dihargai, sementara bahasa sudah mencapai titik terjauhnya pada keterbatasan tentang bagaimana ia mengungkapkan sesuatu. Namun, kita masih punya hati dan pikiran untuk bisa bergerak secara bebas tanpa harus merasa takut akan simbol kepastian yang katanya ada dalam setiap sistem iman yang dipercayai.

Artikel Terkait