“Bukankah aku sudah dewasa, sudah dapat membedakan antara yang salah dan benar?”

Raumanen

Pengertian konservatif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat adalah sikap mempertahankan keadaan, kebiasaan, dan tradisi yang berlaku. Jadi, dapat dikatakan sikap konservatif adalah sikap filsafat politik yang mendukung nilai-nilai tradisional. 

Menurut Dahlan aliran konservatisme tidak terjadi begitu saja tetapi lebih didorong oleh semangat pembaharuan yang berbasis progresifisme yang transformatif.

Perspektif Pentingnya Budaya dalam Masyarakat

Di dalam suatu masyarakat terdapat kebudayaan yang masih diterapkan hingga saat ini. Hal itu merupakan identitas suatu daerah tersebut dan sebuah warisan leluhur. Bukan hanya dalam kehidupan sehari-hari, dalam perkawinan banyak syarat yang diberikan oleh orang-orang yang telah menjalankan kebudayaan setempat untuk memulai pernikahan, bukan hanya terjadi pada zaman dulu tetapi saat ini pun masih diterapkan. 

Perkawinan berbeda budaya memang salah satu faktor yang membuat suatu pernikahan tidak dapat terjadi, sama halnya seperti Raumanen dalam novel ini. Ia yang berasal dari Manado dan mempunyai orang tua yang membebaskan ia untuk dapat melakukan banyak hal, tentunya berteman dengan siapa pun, tidak memandang dari mana ia berasal. 

Manen dan Monang adalah sepasang insan yang menjalin kasih tetapi berbeda suku, orang tua Monang, yang tidak mau anaknya menikah dengan suku lain, tidak merestui hubungan mereka. 

Tapi Monang yang telah diketahui suka berganti perempuan dalam pergaulannya, tetap diterima Raumanen dengan tulus. Sikap Monang yang lama-kelamaan semakin berani kepada Manen, hingga sesuatu hal terjadi, yang membuat dunia Manen hancur dan berada diambang putus asa. 

“Kalalu orangtuamu begitu ingin mempertahankan kemurnian adat,” kata Manen sinis,” Mengapa mereka tak menyimpanmu dalam lemari kaca saja sejak kecil? Mengapa engkau tak ditahan saja di Tarutung sana, tetapi dikirim ke Jakarta ke Bandung, untuk bersekolah? Sebaiknya mereka tetap mengurungmu di bawah tempurung kesukuan….”

Melalui kutipan tersebut Manen memberikan pendapatnya bahwa setiap manusia apabila ingin menikah dengan satu sukunya lebih baik berada di daerahnya saja, jangan ia pergi ke luar daerah. 

Indonesia sangatlah luas, bukan hanya Jakarta atau Bandung, Indonesia kaya akan budaya, kaya akan bahasa, jadi perbedaan dalam negara Indonesia bukanlah hal yang baru. Tetapi kita tidak bisa menyalahkan bagaimana pandangan orangtua yang ingin mempertahankan kemurniaan adatnya. 

Mereka lahir di zaman yang jauh dari kata modernisasi, pandangan mereka masih berputar untuk melestarikan adat setempat tetapi sebagai kaum yang lahir sesudah itu dapat melakukan pembaharuan tanpa menghilangkan adat yang ada. 

Perbedaan memang bukan sesuatu yang mudah, apalagi berbeda adat istiadat, perbedaan dalam merayakan hari-hari besar tentunya berbeda, tetapi kalau dilakukan keduanya boleh jadi menjadi solusi antara Monang dan Raumanen.

Orangtua pada dasarnya berbeda-beda, caranya mendidik anak,caranya mengajarkan anak tentang penting melaksanakan adat istiadat warisan leluhur, semua orangtua ingin yang terbaik untuk yang anak tapi orangtua lupa bahwa yang terbaik menurut pandangannya belum tentu akan baik menurut pandangan anaknya, karena yang menjalani kehidupan pernikahan bukanlah orangtua tetapi sang anak. 

Monang diceritakan telah menikah dengan seorang pilihan ibunya, tetapi Raumanen telah pergi meninggalkan dunia dengan makhluk kecil yang belum lahir ke dunia. Salahkah, Raumanen ingin mendapatkan haknya sebagai seorang perempuan. Hubungannya harus ditentang oleh adat Suku Batak, ia yang sedang hamil harus terpuruk memikirkan kelanjutan hidupnya, tidak ada yang mau mengerti, di manakah hak-hak sebagai manusia. Kebudayaan memang harus dilestarikan tapi kemanusian harus dijalankan. 

Tetapi, pisau itu sudah jatuh ke lantai. Dan Raumanen terkapar di atas ranjang, menutup mukanya dengan kedua belah tangannya. Dan darah yang mengalir dari tangannya, dalam remang-remang cahaya bulan itu tampaknya seperti pita-pita merah yang sangat indah, yang tak pernah dapat disambung lagi.

Dari kutipan tersebut Raumanen telah bunuh diri akibat derita yang ditanggungnya, ia harus menanggung bebannya sendiri, ke mana kah ia harus pergi, bagaimana tanggapan orangtuanya ketika tahu anaknya telah hamil, pikirannya tentang orang tua Monang yang ingin anaknya menikah dengan Suku Batak, tentunya bukan dirinya. Putus asa yang dialami Manen membuat ia celaka. Hidupnya berakhir di tangannya sendiri. Sungguh tragis hidup seorang Manen.

Hidup Monang selepas kepergian Manen menjadi keras kepala, keinginan untuk beristrikan Manen yang tidak bisa terpenuhi, akibatnya berdampak pada pernikahannya. Rumah tangganya berjalan tidak harmonis, begitupun hubungan dengan orangtuanya.

 “Berbahagialah kamu dengan kemurniaanmu. Sombu ma rohang, Inang!

 “Satu-satunya anakku, satu-satunya cucu yang dapat kuberikan kepadamu sudah lama mati!.”

Monang merasakan penyesalan dalam hidupnya, dengan menikahi orang yang satu suku dengan dia belum tentu ia dapat bahagia, tapi itulah keinginan ibunya yang sangat ingin dipenuhi keinginannya. Sungguh malang nasih anak mudah ini. Orangtua menjadi arah kehidupan anaknya, walaupun mungkin itu bukan kebahagian anaknya. 


Mendobrak Sikap Konservatif dalam Novel

Semua kebudayaan penting. Tidak ada yang dianggap rendah, semuanya sama. Marianne Katoppo memperlihatkan bagaimana pernikahan tidak harus selalu dengan asal yang sama. Perbedaan bukanlah masalah besar. Kita tidak harus terpenjara dalam budaya yang menyesatkan, kita boleh melakukan hal apapun asal tidak di luar batas. 

Marianne adalah perempuan yang berani dalam mengungkapkan pendapatnya, ia adalah salah satu perempuan yang menerima penghargaan SEA WRITE Award 1982. ia adalah contoh bagi kaum perempuan masa kini.

Keberanian dalam menuliskan karya-karyanya. Dari novel Raumanen kita dituntut untuk tidak selalu terikat dengan budaya, kebudayaan akan tetap melekat pada diri kita. Tetapi dalam memilih pasangan hidup, tidak harus dengan orang yang berasal dari daerah yang sama. 

 Dalam memandang novel Raumanen ini, tiap orang boleh berpendapat berbeda. Tetapi kita sebagai perempuan dapat belajar dari sosok Manen agar lebih berhati-hati dalam menjalani hubungan percintaan. 

Hanya diri kitalah yang dapat menjaga diri kita sendiri. Raumanen sosok perempuan yang berbeda dengan perempuan lain. Kegigihannya dalam menyelesaikan tugas, dan ketegaran hatinya dalam percintaan.

Pernikahan adalah suatu hal yang sakral di hadapan Tuhan. Satu suku ataupun tidak, hal itu tidak menjamin keharmonisan rumah tangga. Dalam hidup kita menanggung beban masing-masing.


Daftar Pustaka

Dahlan, Ahmad, Artikel: Agenda Tajdid Al-Afkar di Muhammadiyah., 2000. 

Katoppo, Marianne, Raumanen, (Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2018.