Lecturer
4 bulan lalu · 432 view · 5 menit baca · Filsafat 83389_75507.jpg
lh6.googleusercontent.com

Sikap Keilmuan Stephen Hawking dalam The Theory of Everything

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengenang Stephen Hawking yang wafat tanggal 14 Maret 2018. Salah satu film yang cukup representatif dalam penggambaran kisah hidup dan sikap keilmuan Stephen Hawking adalah sebuah film yang berjudul The Theory of Everything

Film ini disutradarai oleh James Marsh, berkisah tentang sepenggal riwayat hidup Fisikawan dan Kosmologis Stephen Hawking. Selain berfokus pada eksplorasi keilmuan Stephen Hawking, film yang dirilis tahun 2014 ini juga bercerita tentang kisah cinta antara Stephen Hawking dan Jane Wilde, yang diperankan oleh aktor dan aktris Inggris, Eddie Redmayne dan Felicity Jones.

Dalam tulisan ini akan lebih disoroti dua persoalan. Pertama, bagaimana cara pandang Stephen Hawking terhadap persoalan nilai dan ilmu, yaitu terkait pertanyaan apakah ilmu bebas nilai atau tidak. Kedua, terkait persoalan sains dan pseudo-sains. Tulisan ini juga berusaha untuk menjawab pertanyaan apakah pandangan kosmologi Stephen Hawking, termasuk ke dalam sains atau pseudo-sains. Berbagai dialog dan adegan dalam film akan dijadikan dasar untuk menarik jawaban dan kesimpulan dari dua persoalan tadi.

Untuk persoalan dalam pertanyaan pertama, sederhananya adalah terdapat dua pandangan ilmuwan terkait eksplorasi keilmuan. Pertama, golongan ilmuwan yang memandang bahwa ilmu harus bebas dari nilai apa pun, yang bisa memengaruhi objektivitas kebenaran ilmiah. Singkatnya, golongan yang pertama ini, orientasinya adalah ilmu untuk ilmu. 

Kedua, golongan ilmuwan yang berpandangan bahwa ilmu tidak bebas nilai, selalu dipengaruhi dan ditentukan oleh berbagai nilai yang ada dalam kehidupan, seperti nilai kemanusiaan, ketuhanan, dan lain-lain.

Terkait persoalan dalam pertanyaan kedua, perbedaan sains dan pseudo-sains secara sederhana adalah terletak pada proses mendapat kebenaran ilmiah dan pengujian kebenaran ilmiah. Kebenaran sains adalah kebenaran yang didapat dari sebuah proses ilmiah, melalui observasi (pengamatan), pengolahan data hasil observasi, hipotesis (kesimpulan awal), pengujian hipotesis, dan kesimpulan akhir, yang merupakan hasil dari keseluruhan proses ilmiah yang dapat dipertanggungjawahkan objektivitasnya.

Kebenaran ilmiah ini juga selalu berkembang, sejalan dengan perkembangan teknologi. Seperti contoh, jika pada masa Yunani kuno, ketika teknologi untuk mengamati benda-benda luar angkasa belum ditemukan, maka teori yang dominan adalah geosentris, atau bumi sebagai pusat tata surya. 

Ketika teleskop untuk mengamati benda-benda luar angkasa ditemukan, maka kebenaran ilmiah harus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi, yaitu geosentris yang terbukti keliru, harus berganti dengan teori heliosentris, atau matahari sebagai pusat tata surya.

Bagaimana dengan pseudo-sains? Proses ilmiah untuk mendapat pengetahuan, seperti yang terdapat pada sains, tidak digunakan dalam pseudo-sains. Kebenaran biasanya bergantung pada otoritas tertentu, entah itu individu atau kelompok tertentu. Kesimpulan akhir, atau kebenaran pengetahuan, tidak berubah mengikuti perkembangan teknologi, kecuali otoritas kebenaran menginginkannya untuk berubah. 

Pada abad pertengahan, seperti inilah kebenaran sebuah pengetahuan ditentukan. Segala hal yang berbeda dengan otoritas gereja, maka akan dianggap bid’ah dan akan dipersekusi bahkan dihukum mati jika tidak mau menyesuaikan diri dengan kebenaran versi gereja tersebut. Para filsuf cum-rohaniwan seperti Bruno dan Copernicus adalah korban dari kekeliruan pseudo-sains ini.

Pandangan Stephen Hawking terkait Ilmu Bebas Nilai atau Tidak

A physicist can't allow his calculations to be muddled by a belief in a supernatural creator.

Dari dialog sederhana tadi sudah jelas bahwa Stephen Hawking menganggap bahwa keyakinan pada Tuhan, atau nilai ketuhanan, adalah salah satu bentuk gangguan terhadap perhitungan matematis, yang seharusnya dihindari oleh seorang fisikawan. Artinya, jika seorang ilmuwan ingin supaya objektivitas kebenaran ilmiah terjaga, maka seharusnya ilmu bebas dari nilai ketuhanan.

Dalam sebuah acara makan malam, dengan John, salah seorang kenalan Jane di gereja, Stephen bertanya pada Stephen, So then you no longer believe in the creation? (Apakah dengan demikian dirimu tak lagi percaya pada penciptaan?)

Jawaban Hawking kemudian menegaskan pandangannya bahwa fisika sama sekali tidak berkaitan dengan keyakinan, What one believes is irrelevant in physics.

Dalam sebuah dialog lain, ketika memberi kuliah umum di sebuah kampus di Amerika Serikat, Stephen berkata, It is clear that we are just an advanced breed of primates on a minor planet orbiting around a very average star, in the outer suburb of one among a hundred billion galaxies. But ever since the dawn of civilization people have craved for an understanding of the underlying order of the world. There ought to be something very special about the boundary conditions of the universe. And what can be more special than that there is no boundary? And there should be no boundary to human endeavor.

Artinya kurang lebih adalah bahwa manusia hanyalah sekumpulan primata yang hidup di planet yang mengorbit pada sebuah bintang yang cukup besar, dalam salah satu galaksi terluar dari ratusan miliar galaksi. Semenjak peradaban dimulai, orang telah mencari pemahaman terhadap tatanan yang mendasari dunia. Seharusnya ada sesuatu yang sangat spesial dari keterbatasan alam semesta. Seharusnya tak ada batasan untuk usaha keras manusia.

Dialog ini juga bisa diartikan bahwa seharusnya setiap usaha manusia terbebas dari berbagai batasan. Juga termasuk usaha manusia untuk memahami alam semesta, yang menghasilkan apa yang disebut sebagai ilmu pengetahuan (sains). Hal ini adalah salah satu bentuk pandangan implisit bahwa ilmu seharusnya bebas dari segala hal (termasuk nilai) yang hanya menjadi penghambat dari usaha keras manusia memahami kehidupan dan alam semesta.

Apakah Pandangan Kosmologi Stephen Hawking adalah Sains atau Pseudo-Sains?

Sebuah dialog sederhana antara John dan Stephen kurang lebih menjelaskan apakah pandangan kosmologi Stephen Hawking adalah sains atau sebaliknya.

"Stephen, Jane was telling me, that you have a beautiful, theorem that proves that the universe, had a beginning. Is that it?" tanya John.

"That was my PhD thesis. My new project disproves it, jawab Stephen."

Dalam sebuah adegan, seorang mahasiswa berkata pada Stephen Hawking, “In 1979, you talked about the possibility of a theory of everything being discovered before the end of the century.”

"I now predict that I was wrong," jawab Stephen dengan singkat.

Arti dari dua adegan dan dialog tersebut adalah Stephen Hawking memiliki sikap jujur dan terbuka terkait kebenaran ilmiah yang telah ditemukannya. Ketika ia menemukan fakta baru yang sama sekali berbeda dengan tesis doktoralnya, maka ia mengakui dengan jujur bahwa kebenaran ilmiah dalam tesis doktoralnya tersebut harus disesuaikan dengan fakta baru yang ditemukan. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa konsep kosmologi yang dikemukakan oleh Stephen Hawking adalah sains.

Hal inilah yang seharusnya menjadi contoh oleh para ilmuwan dari seluruh belahan dunia, khususnya di Indonesia, yaitu supaya menjaga objektivitas kebenaran ilmiah yang dikemukakan. Bagaimana caranya? Yaitu dengan tetap mempertahankan independensi dari pengaruh mana pun dan selalu menyesuaikan pendapat yang dimiliki dan kebenaran ilmiah yang telah dihasilkan dengan fakta-fakta baru yang diperoleh dari perkembangan teknologi.