Seperti hari-hari biasa aku senantiasa menjemput istri pulang kerja, karena tempat ia bekerja satu arah dengan kantorku.

Nampak perangainya berbeda dengan hari sebelumnya, wajahnya merah seolah menyimpan rasa jengkel.

Dalam keheningan mulailah menceritakan apa yang dialaminya tadi pagi di kantor, ia mendapatkan  panggilan video melalui WhatsApp dari nomor telepon yang tidak dikenal.

Istri ragu dengan nomor telepon tersebut, kemudian ia minta tolong kepada teman satu kantor untuk menjawabnya. Namun  kawannya menjelaskan bahwa layar telepon nampak gelap serta tidak nampak wajah seseorang.

Karena penjelasan dari kawannya tersebut maka telepon dimintanya kembali, dan secara tiba-tiba nampak wajah seseorang dalam layar telepon yang sedang melakukan suatu tindakan tidak terpuji.

Ia dan temannya sangat kaget serta tidak menyangka akan terjadi peristiwa yang membuatnya  sangat terpukul.

Atas peristiwa itu istri segera memblokir nomor telepon orang tersebut dengan harapan agar orang itu tidak dapat lagi menghubunginya dan agar tidak mengulangi perbuatannya.  

Namun justru setelah nomor penelepon gelap tersebut diblokir, banyak nomor telepon lain yang tidak dikenalnya mengirimkan pesan singkat dengan menyampaikan kata-kata tidak sopan, berbau porno.

Selama jam kantor ia sibuk memblokir nomor telepon yang tidak dikenalnya, bahkan   jumlahnya hampir empat puluh (40) nomor.

Atas kejadian tersebut, keesokan hari kami dan istri ke kantor layanan telekomunikasi untuk   melaporkan kejadian yang dialaminya sekaligus menanyakan apakah terdapat kebocoran data pelanggan, sehingga nomor teleponnya dapat diketahui oleh orang lain.

Dari informasi yang disampaikan oleh petugas berdasarkan pengecekan yang telah dilakukannya, bahwasannya tidak terdapat kebocoran data pelanggan dan tentu hal ini membuat hati isteri lega.

Lantas dari manakah orang-orang yang tidak dikenal tersebut dapat mengetahui nomor telepon kita dan kenapa mereka dapat menghubungi kita. Peristiwa yang telah dialami oleh istri dan juga peristiwa lain seperti tindakan ancaman, teror, intimidasi, bahkan kampanye hitam dapat menimpa siapa saja. Apabila ada seseorang yang tidak suka dengan orang lain yang karena adanya perbedaan pendapat maka orang tersebut dapat dianggap berseberangan jalan dengannya.

Atas perbedaan pendapat dan perbedaan pandangan tersebut ia mau melakukan suatu tindakan pemaksaan diri dengan cara-cara yang tidak terpuji dan tidak beretika.

Bahkan kadang seseorang mau mengeluarkan sejumlah nilai tertentu yang diberikan kepada orang lain atau sekelompok orang untuk suatu tindakan kekerasan terhadap pihak yang dianggapnya menentang, atau tidak sejalan dengannya.

Tindakan tersebut juga dapat terjadi di lingkungan terdekat kita yaitu keluarga. Perbedaan pendapat, perbedaan dalam bersuara menjadikan sesama keluarga menjadi bermusuhan atau berlawanan.

Anggota keluarga enggan menyelesaikannya secara akal sehat dan bijak dengan bermusyawarah guna mencapai mufakat.

Perlawanan kerap dijadikan jalan pintas dalam menyelesaikan suatu persoalan, perlawanan kerap dijadikan ajang untuk memenangkan suatu perbedaan pendapat.

Sikap-sikap bermusuhan senantiasa dikedepankan dengan mengabaikan rasa menghormati, menghargai dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berpendapat.

Ketika itu ayahku pernah bercerita dalam pewayangan mengenai kisah Pandawa Lima anak dari Pandu. Pandawa Lima memiliki saudara tua yang berjumlah seratus (100) orang yang disebut Kurawa (keturunan Kuru) anak dari Dretarastra.

Sebenarnya Dretarastra yang berhak menjadi Raja di Hastinapura yang terkenal dengan negara yang adil, tenteram serta dikaruniai bumi yang subur dan makmur sedangkan rakyatnya tidak kekurangan sandang maupun pangan.

Namun dikarenakan Dretarastra buta maka oleh orang tuanya (Abiyasa) pemerintahan di Hastinapura harus diserahkan kepada adiknya yaitu Pandu, dengan demikian pewaris tahta Hastinapura yang sah adalah para Pandawa sebagai penerus Pandu.

Setelah Pandu wafat dan dikarenakan para Pandawa masa itu masih kecil, maka untuk sementara Dretarastra menggantikan tahta Pandu sambil menunggu Pandawa beranjak dewasa dan siap untuk memerintah Hastinapura.

Atas hasutan dari istri Dretarastra yaitu Dewi Gandari yang terkenal dengan watak bengis, mementingkan diri sendiri dan juga atas hasutan dari adik Dewi Gandari yaitu Arya Sakuni  dikenal dengan Sangkuni yang memiliki watak sangat licik, penuh tipu muslihat maka Prabu Dretarastra tidak bersedia untuk menyerahkan Kerajaan Hastinapura kepada para Pandawa.

Sangkuni yang pada masa pemerintahan Dretarastra diangkat menjadi Mahapatih (wakilnya), justru senantiasa berupaya memberikan nasehat-nasehat yang menyimpang dari ketatanegaraan dan kebenaran.

Hasutan, tipu muslihat, menghalalkan segala cara, tindakan-tindakan yang jauh dari keutamaan senantiasa dikedepankan Sangkuni demi ambisi untuk mempertahankan kekuasaan di Hastinapura.

Atas hasutan dari Patih Sangkuni, maka Destarastra justru menyerahkan tampuk pemerintahan Hastinapura kepada anak tertua yaitu Duryudana beserta adik-adiknya.

Banyak tipu muslihat kotor yang dilakukan oleh Kurawa atas usaha licik dari pamannya yaitu Sangkuni  kepada Pandawa untuk tetap mempertahankan Hastinapura agar kekuasaan tidak lepas dari genggaman para Kurawa.

Usaha yang dilakukan oleh Kurawa hanya untuk pembenaran diri demi kekuasaan semata. Maka tak ayal Kurawa senantiasa berusaha dan mencari jalan pintas agar senantiasa dapat melenyapkan Pandawa.

Peran Sangkuni sebagai aktor intelektual dalam setiap perbuatan kotor, provokasi, teror, fitnah, yang ditujukan kepada para Pandawa senantiasa menjadi  senjata utama guna  pembenaran diri serta untuk tetap mempertahankan eksistensi pribadi.

Kita sering bertemu dan kitapun tidak tahu siapa yang sedang kita hadapi, sikap dan watak Sangkuni kerap kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari.

Mereka dengan gampang serta mudahnya melakukan suatu perbuatan yang jauh dari moral, nalar dan hanya mementingkan ego pribadi.

Mementingkan diri sendiri untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki tanpa memperhatikan norma etika, adab, dan kesopanan kerap dipertontonkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kepentingan pribadi dan golongan menjadi prioritas yang senantiasa diperjuangkan, dengan mengorbankan orang lain dan yang lemah. Tajam terhadap orang lain tetapi tumpul terhadap diri sendiri dan golongannya.

Sifat dan sikap Sangkuni kerap merasuki diri hanya untuk mengejar tujuan pribadi dengan mengabaikan moral dan bahkan berani mengorbankan eksistensi diri, maka seyogyanya kita harus lebih arif dan bijak dalam menyikapi.