Sebagai makhluk sosial yang tinggal dalam sebuah komunitas, kita tentu pernah punya pengalaman didatangi oleh orang yang meminta sedekah. Baik meminta sedekah dalam jumlah yang sedikit, maupun dalam jumlah yang besar, yang biasanya dalam bentuk proposal. Lantas, bagaimana seharusnya sikap kita saat menghadapi para peminta sedekah ini?

Saya akan mencoba mengulasnya melalui pendekatan agama yang saya anut saja. Yakni agama Islam. Di dalam Alquran telah diterangkan bahwa perkataan yang santun (ma'ruf) dan pemberian maaf itu lebih baik daripada sedekah yang diikuti dengan perihal yang menyakitkan bagi mereka yang menerimanya.

Dalam redaksi ayat aslinya, penjelasan mengenai hal ini dapat dilihat pada QS al-Baqarah ayat 263.

Setelah memahami pesan yang terkandung dalam ayat tersebut, maka kita pun akan mulai memahami bahwa dalam bersedekah sebenarnya tidak cukup dengan sekadar memberikan materi saja. Sebab, ia masih harus diiringi dengan hal lain yang akan melegakan perasaan kedua belah pihak. Yakni pihak pemberi maupun pihak peminta sedekah. 

Kenapa orang yang memberi sedekah juga harus lega hatinya? Apakah hal ini tidak justru akan semakin memperberat aktivitas bersedekah?

Setelah saya renungkan dengan lebih saksama, ternyata pada saat seseorang bersedekah, ada kemungkinan munculnya pihak yang akan merasa tersakiti. Yakni, pihak yang memberi sedekah dan pihak yang menerimanya.

Si pemberi sedekah bisa saja ia akan merasa sakit hati atau kecewa manakala ia mengetahui bahwa orang yang meminta sedekah itu ternyata menjadikan aktivitasnya sebagai mata pencaharian yang hasilnya lumayan. Dan berkat adanya keuntungan yang menggiurkan itu, kemudian para peminta sedekah itu akhirnya bolak-balik mendatangi rumahnya.

Biasanya, jika hal ini terjadi, maka mungkin saja akan menimbulkan perasaan nggrundel, dongkol, dan bahkan tidak ikhlas pada saat seseorang memberikan sedekahnya. Lantaran mereka menyimpulkan bahwa kebaikan budi yang telah mereka berikan, pada kenyataannya justru dimanfaatkan oleh pihak lain.

Perkara yang berpotensi akan menyakitkan diri semacam inilah yang sepatutnya dihindari oleh mereka yang hendak  bersedekah. Caranya yaitu dengan memaafkan mereka yang meminta-minta, dan kalau perlu, mereka juga meminta maaf kepada orang yang meminta sedekah. Loh, kok malah meminta maaf? Apakah ini tidak terbalik?

Begini. Pertama. Dengan memberi maaf kepada mereka yang meminta sedekah, maka setidaknya kita pun tidak akan pernah merasa risih dan tersinggung manakala mereka sering mendatangi rumah kita. Sebab bagaimana pun keadaan mereka, kita telah memaafkan. 

Dan mereka bisa saja, kita menganggap hal ini sebagai keuntungan. Loh, kok malah untung? Iya. Kita bisa untung sebab kita tidak lagi perlu repot-repot untuk mencari orang lain manakala kita sedang ketiban banyak rejeki. Alasannya ya itu tadi, mereka sudah datang sendiri ke rumah kita sewaktu-waktu.

Misalnya, kalau kita tinggal di desa yang biasanya sering menggelar acara hajatan itu, maka akan ada masa dimana orang-orang akan memperoleh banyak berkat, makanan dari hajatan yang jadwalnya hampir bersamaan. Melimpahnya berkat atau makanan ini jika dikonsumsi sendiri jelas tidak mungkin, mengingat terbatasnya kapasitas ruang dalam perut kita. 

Dan kondisinya bisa bertambah runyam manakala kita tidak punya hewan piaraan di rumah, seperti ayam, yang akan membantu menghabiskan makanan ini.

Jika sudah demikian, maka solusi mudahnya, ya, tinggal dibagikan pada orang yang meminta-minta itu tadi. Toh, memberi itu kan tidak harus dalam bentuk uang.

Lantas, bagaimana jika kondisinya kita sedang tidak memiliki sesuatu pun yang bisa kita berikan untuk orang lain? Atau kita punya barang, namun akan dipakai oleh keluarga kita?

Jika memang demikian keadaannya, maka kita bisa memilih opsi yang kedua, yakni dengan cara meminta maaf.

Kita tahu bahwa meminta maaf itu amatlah baik dilakukan oleh siapa saja. Khususnya, dalam bahasan kali ini, bagi mereka yang belum dapat memberikan uang sedekah atau sumbangan.

Permintaan maaf ini hendaknya dapat kita kombinasikan dengan ucapan yang santun. Seperti ungkapan, "Mohon maaf, tidak dulu". "Mohon maaf, saya masih ada perlu". "Mohon maaf, saya masih belum punya rejeki", dan sebagainya.

Untuk memperjelas penolakan permintaan ini, kita juga dapat menambahinya dengan isyarat tangan kita, sebagai tanda bahwa kita menolak secara halus permintaan mereka.

Hal ini saya kira akan lebih bijak manakala dilakukan. Dan selain itu, ia juga berkemungkinan akan direspons dengan baik pula oleh mereka yang meminta sedekah.

Barangkali, setelah mempraktikkan sikap yang bijak ini, si peminta sedekah itu akan paham bahwa mereka dimintai sedekah itu sedang tidak berada dalam keluasan rejeki atau sedang enggan untuk memberi, dan sebagainya.

Sekali lagi, untuk dapat memberikan maaf pada mereka yang meminta sedekah ini, mungkin saja bagi sebagian besar orang akan terasa sulit untuk dilakukan, terutama bagi mereka yang kondisi ekonominya sendiri juga pas-pasan. Sebab, bisa saja terjadi, jika kondisi perekonomian sebuah keluarga sedang runyam dan kondisi emosi mereka sedang tidak stabil, maka yang ada bukanlah permintaan maaf yang keluar dari mulut mereka, akan tetapi umpatan kekesalan.

Namun, jika mereka tidak putus asa untuk mencoba mempraktikkan ucapan yang santun ini, dan ditambah dengan adanya niat mereka untuk memberi manakala mereka mampu, maka hal ini akan sangat mungkin untuk dapat dipraktikkan.

Pemahaman sederhananya adalah jika kita saat ini tidak mampu memberi orang lain dengan materi, maka setidaknya kita masih berkesempatan untuk bersedekah dengan cara yang lain, yakni melalui ucapan yang santun dan dengan pemberian maaf.

Dan sebenarnya, kita pun dapat meneladani sebuah ajaran dari baginda Nabi yang lain, yakni senyuman tulus yang kita tunjukkan pada orang lain itu juga termasuk sedekah. Memasang wajah yang menyenangkan untuk orang lain juga termasuk derma yang dapat kita lakukan pada mereka.

Jika kita menelaah komposisi yang terdapat pada QS Al-Baqarah 263 tersebut, huruf yang digunakan adalah "wa" dan bukan "aw". Kita tahu, bahwa huruf "wa" dalam bahasa Arab berarti "dan", sedangkan "aw" memiliki arti "atau". 

Dengan demikian, melalui ayat ini kita dapat menyimpulkan bahwa perkataan yang baik ini hendaknya sepaket dengan pemberian maaf. Keduanya harus dimiliki oleh seseorang secara bersamaan.

Mereka yang memiliki kedua sikap ini secara sekaligus, maka mereka akan memiliki sikap yang bijak manakala menghadapi orang yang meminta-minta. Dan berbekal sikap bijak itulah, besar kemungkinan mereka tidak akan melukai hati siapa saja. Baik hati mereka sendiri, maupun hati orang lain, yakni pihak yang meminta sedekah.