Saya memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan reflektif: manfaat apakah yang membuat kita harus bertemu dengan orang lain?

Kalau misalnya pertanyaan ini disampaikan kepada seseorang seperti filsuf Rene Descartes, maka ia akan sangat geram dan menjawab seperti ini: berpikir saja maka kau akan menemukan orang lain. 

Saya mencoba membuat jawaban tersebut dari sebuah pemikirannya yang sangat terkenal saat ini, yakni “saya berpikir maka saya ada”.

Ia berasumsi bahwa orang lain (mungkin) akan hanya ditemui lewat produksi pikiran-pikiran kita, bahkan pikiran kita yang meng’ada’kan orang lain tersebut. Sebab memang kenyataannya, dialog dengan orang lain tidak pernah dan tidak akan pernah mudah.

Terlebih lagi saat ini, ketika segala sesuatu berada dalam skala yang begitu rumit. Rasialime, pengultusan terhadap budaya, ras, agama, dan suku yang mengungkung manusia untuk tidak ‘keluar’ dan melihat orang lain sebagai saudaranya.

Dalam sebuah buku berjudul The Other yang ditulis Ryszard Kapuscinski, ia menggambarkan sebuah ketidaktertarikan Levinas pada para filsuf yang membuang-buang waktu dalam menggeluti metafisika dan epistemologi. 

Ia bahkan tidak percaya bahwa “aku berpikir maka aku ada”, melainkan lebih meyakini bahwa 'Aku' (self) hanya mungkin melalui pengenalan terhadap orang lain.

Dalam tulisan ini, saya sungguh menyepakati pemikiran-pemikiran Levinas dan membuat sebuah pemahaman terhadap realitas kampus yang baru saja saya lihat bahkan berkecimpung di dalamnya: menjadi panitia pelaksanaan SIKam tahun 2019 kampus STPMD “APMD” Yogyakarta.

SIKam (Sosialisasi Internal Kampus) adalah sebuah kerja organisasi yang diadakan setiap tahun di kampus Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa Yogyakarta. Di kampus yang lain dinamakan OSPEK. 

Sosialisasi ini bertujuan untuk mengadaptasikan mahasiswa-mahasiwa baru yang mendaftarkan diri sebagai bagian dari kampus. Dalam upaya pengadaptasian itu, beberapa mahasiswa senior dipilih dari lembaga untuk membantu memfasilitasi proses sosialisasi itu. 

Tugas penuh dianugerahkan oleh lembaga untuk mengatur segala bentuk kegiatan-kegiatan tersebut hingga tuntas dalam seminggu sebelum pada akhirnya perkuliahan dimulai di kampus bersama mahasiswa-mahasiswa yang baru bergabung.

Sebelumnya, para mahasiswa yang dipilih untuk menyelenggarakan kegiatan itu akan dibentuk sebuah organisasi kepanitiaan. Mulai dari ketua panitia dan seksi-seksi yang lain.

Saya termasuk salah satu yang terpilih untuk bergabung dalam kepanitiaan itu. Saya menjabat sebagai anggota panitia P3K dan bertugas sebagai yang akan memperhatikan setiap anggota yang mengalami riwayat sakit atau saat mengalami cedera dan harus ditolong secara medis ketika berlangsungnya SIKam.

Sebagai mahasiswa yang sudah beberapa tahun kuliah di kampus STPMD, saya belum pernah mengikuti organisas internal maupun eksternal di kampus. 

Ini bukan semata-mata tidak memiliki keinginan untuk bergabung di dalamnya, tetapi memang ada sebuah ganjalan di dalam kepala saya yang sering mengurung saya di dalam kamar untuk tidak bersosialisasi dengan siapa saja di kampus, kecuali pergi kuliah dan pulang lagi ke kos.

Kehidupan ini saya arungi selama kurang lebih tiga tahun. Nyaris tamat dari kampus tersebut, bukan? Namun juga bukan tanpa alasan. 

Saya sering menganggap orang lain akan mengganggu kesibukan saya untuk membaca buku dan menulis. Bahwa ketegasan saya hasilnya ada, saya memang banyak menulis di beberapa media dan menulis buku sendiri.

Akhirnya, dalam beberapa hari lalu, saya diajak untuk mengikuti organisasi kepanitiaan itu. Dengan berat hati, saya menerima tawaran itu. Di sisi lain, saya mencoba melepas ego untuk menguntit berbagai dinamika yang tercipta di dalam nuansa organisasi yang terselenggara di kampus tersebut.

Momen-momen pertama mengitu pertemuan-pertemuan pasca-SIKam, ada beberapa kendala yang memang benar-benar saya alami: sulit berbicara di forum atau berupaya berkomunikasi dengan teman-teman lain. 

Terkesan ada keterpaksaan saya dalam menghadiri setiap kerumunan itu. Namun, fenomena itu tidak bisa saya hindari lagi setelah memilih untuk terjun ke dalam kerja-kerja organ tersebut.

Sikap saya terhadap realitas-realitas yang kerap dijalani seakan membopong saya ke permukaan awal bagaimana saya akan melakukan komunikasi personal maupun komunikasi massal dengan siapa saja yang saya temui.  

Bahkan harus berpendapat sesuai devisi saya sebagai anggota panitia yang membutuhkan bahan logistik terkait kesehatan dalam acara SIKam tersebut.

Setiap menyelesaikan sebuah tugas bersama, selalu saya mengevaluasi diri sendiri usai pengevaluasian kinerja panitia. Ada utopia yang mengendap di dalam diri. Asumsi-asumsi saya yang berkonotasi negatif terhadap orang lain pelan-pelan sirna. 

Meminjam pendapat Seneca [Letters]: kita menderita lebih di imajinasi kita daripada kenyataan. Memang ada tendensi yang membawa saya untuk menyiksa diri sendiri sedari imajinasi saya ketimbang melerainya lalu melakukan upaya merealisasikannya dalam bentuk tindakan (bertemu dengan orang lain).

Bertemu dengan orang lain tentu sudah biasa dialami oleh siapa pun, namun untuk mempertanggungjawabkannya secara etika (menurut Levinas; Etika Wajah), selalu luput dari situasi itu. 

Ekspresi-ekspresi yang muncul dalam fenomena itu menguakkan sebuah kehidupan baru yang sukar ditakar sendiri.

Sesuai apa yang saya petik dari pemikiran filsuf Prancis Levinas, menurutnya, kita tidak cukup hanya menjumpai, menerima, dan bicara dengan orang lain, tetapi juga harus bertanggung jawab terhadapnya. Pencerahan mengajarkan kita bahwa orang lain adalah sosok pribadi yang sama dengan kita, seorang anggota keluarga yang satu.

Kembali lagi ke SIKam. Tema yang dapat saya terima dan hayati dari SIKam ini menyodorkan sebuah perspektif yang menuntun imajinasi saya untuk mengimplementasikannya dalam kegiatan tersebut; Bersatu dalam Keberagaman Menuju Perubahan.

Sebuah lembaga yang mampu mengerat semua mahasiswa dari seantero nusantara ini, termasuk kampus saya, STPMD “APMD”. 

Dari berbagai daerah para pencari ilmu ini bergabung, ada sebuah kultur yang seakan menyulam kami dalam bentuk persatuan. Setiap orang menyadari perbedaannya dan ada upaya melebur dalam perbedaan-perbedaan itu untuk menerima orang lain sebagi saudaranya.

Dua hari setelah SIKam berakhir, saya malah merindukan pertemuan-pertemuan baru itu dengan semua mereka yang baru saya kenal, termasuk para panitia yang notabene satu angkatan dengan saya. 

Artinya, ada sesuatu yang indah di dalam diri orang lain yang kadang manusia abaikan. Produksi-produksi yang berkecimpung di kepala terkait orang lain, belum cukup menggambarkan sebuah kehidupan dengan sesama. Ia harus cair ke dalam bentuk temu.

Akhirnya, ada inisiatif yang muncul dari kesadaran pribadi saya untuk selalu menemui orang lain dan sampai pada taraf mencintainya. Ada kenikmatan tersendiri di sana. Ada kehidupan baru di sana. 

Seperti Socrates, ia tidak pernah membalas pertanyaan daerah asalnya dengan “saya orang Athena”, atau” saya dari Korintus”, tetapi selalu menjawab, “saya adalah warga dunia.”

Di dalam mengikuti kegiatan SIKam STPMD “APMD”, saya menemukan banyak teman dan kenalan yang merasa saya sangat dekat dan bersahabat dengan mereka.

Ada yang dari Papua, Kalimantan, NTT, Sulawesi, Sumatra, dan masih banyak tempat di Nusantara ini. Kami membuat sebuah yel-yel yang berbunyi: SIKam STPMD; aku, kamu, kita Indonesia.