#1

Kirana

NAFAS Kirana tak beraturan. Lebih dua jam sudah dia merasakan gelisah yang luar biasa. Tubuhnya dibanjiri keringat. Dia nanar, menarik ujung rambutnya, menggaruk-garuk pundak yang tak gatal. Kukunya mulai berdarah, pun pundaknya. Dia berlari lagi ke kamarnya di lantai dua. Lari yang tak sempurna, beberapa kali tersandung anak tangga.

Bapak dan ibu Kirana heran melihat tingkah anaknya itu. Hari, si Bapak, sudah minta bantuan adiknya Izal untuk memanggil orang pintar. Sementara Hesti, si ibu, dalam diamnya memanjatkan doa.

Tetangga berdatangan, sebab Kirana mulai berteriak. Ia menyebut satu nama, mengulang-ulang dalam teriaknya. "Maaannnnn... maafkan akuuuu. .." Ruang tamu yang sudah ramai orang jadi riuh. Saling pandang, seakan mencari jawaban yang sama: siapa Man? Adakah seseorang yang bernama Man di antara mereka? Sementara di lantai atas, Hari dan Hesti berdiri di depan kamar Kirana. Mereka baru saja mengurung anak gadis itu di dalam. Dan di sudut ruang tamu, dekat foto keluarga berukuran besar, Arman menatap ke atas. Di bibirnya tersungging senyum tipis. Senyum kemenangan.** 


..............................

#2

Hari

HARI berjalan hilir-mudik di depan pintu kamar Kirana. Di dalam, anak gadisnya itu sedang menjalani pengobatan oleh dukun yang dipanggil dari kampung seberang. Ini dukun atau orang pintar yang keempat, tapi kondisi Kirana malah semakin menggila. Menyakiti dirinya sendiri. Sesekali menggigit tangannya, lain waktu menghempaskan badannya ke lantai atau membenturkan kepalanya ke dinding. Selain berteriak memanggil nama Man, Kirana juga menjerit kepalanya teramat sakit.

Dari berbincang dengan Izal, dugaan paling kuat Kirana kena sijundai. Namun Hari tak habis pikir, siapa yang mengganggu anaknya itu. Siapa Man, yang dipanggil-panggil Kirana.

Hari kemudian masuk ke kamar. Ia melihat Hesti menangis menatap Kirana yang sedang menghempas-hempas  tubuh di kasur. Sementara sang dukun sibuk dengan pekerjaannya di bagian kaki dipan. Tercium keras aroma kemenyan. Kirana tiba-tiba berdiri sambil berteriak. Melompat turun dari kasur dan berlari ke arah pintu. Hari berhasil menangkap dan menahan tubuh kurus Kirana yang terasa berat. Ia berteriak memanggil adiknya. "Jaallllll... ambil kayu dan rantai. Kirana harus dipasung. ..." **


...............................

#3

Arman

RAUT muka Arman datar saja saat melewati rumah Kirana. Tidak ada keramaian petang ini, hari ketiga anak gadis pasangan Hari dan Hesti itu kena sijundai. Tadi siang Arman menelepon Tuk Kono untuk meredakan sedikit putaran gasing tengkorak. Ia jatuh iba juga pada Kirana.

Sepekan lalu Arman memberanikan diri ke kampung Longau menemui Tuk Kono. Nama orang sakti itu didapat dari Torai, kawan sekolahnya dulu. Rumah Tuk Kono agak jauh dari permukiman, tapi bukan rumah kumuh dan jauh dari kesan angker. Rumah itu malah terlihat paling bagus di kampung Longau.

Tak payah bercerita, Tuk Kono mengaku sudah tahu maksud kedatangan Arman. Ah, Arman mengira itu hanya ada dalam cerita dan film saja sebelum dia mengalami sendiri. Dan lelaki yang terlihat masih muda itu menyanggupi keinginan Arman untuk memutar gasing tengkorak kepada  Kirana. Dia bahkan sudah menyiapkan tengkorak dari dahi mayat perempuan yang meninggal saat melahirkan, di kampung seberang, beberapa hari sebelumnya. "Pulanglah. Kau lihat sendiri malam nanti anak gadis itu akan menggila padamu," kata Tuk Kono. Arman pulang setelah meninggalkan amplop uang puluhan juga di tempat dia duduk. Terbayang, sakit hatinya pada Hari segera terbalas. **

 

.................... 

 #4

Hesti

SUDAH lima hari aku tak lagi mengurus rumah. Tak tergerak untuk sekadar menyapu kamar dan ruang lain. Tak terpikir untuk ke dapur sekadar membuat kopi atau teh apalagi masak lauk. Semua energiku tersedot kondisi Kirana. Putri kesayanganku itu belum pulih dan masih dipasung di kamarnya. Sesekali masih mengamuk tak tentu arah. Kata suamiku, sijundainya bangkit karena dukun yang mengirim sihir itu memutar gasing tengkorak.

Sebagai anak dari keluarga yang cukup taat beragama, aku agak sulit mempercayai itu. Betul, aku tahu sihir dan jin itu ada. Tapi, mengirim penyakit seperti ini?

Kulihat Hari duduk sendiri di ruang depan. Wajahnya kusam, kelelahannya tak bisa disamarkan. Beban pikirannya mungkin lebih berat dari aku. Kuhampiri sambil memeluk dari belakang, mencoba berbagi energi yang sama-sama terkuras. Ia menatapku, memaksa tersenyum. "Hes, aku yakin ini bukan tentang Kirana, tapi tentang aku," katanya. Hari kemudian bercerita, dia menolak secara kasar seorang pemuda, dua pekan lalu. Pemuda itu datang dengan niat melamar Kirana. Padahal Hari sangat ingin anaknya itu berjodoh dengan anak Rustam, toke getah di kampung seberang.**


........................

#5

Tuk Kono

SEBAGAI dukun atau orang pintar atau paranormal kata orang sekarang, Tuk Kono sudah bisa membaca keinginan pemuda yang datang padanya itu. Anak muda yang mengenalkan diri bernama Arman menyampaikan maksud agar dia mengguna-gunai seorang gadis di desa seberang. Dia tidak kenal gadis itu, pun orang tuanya. Dia tak perlu tahu, karena urusannya dengan Arman. Dia juga tak perlu tahu ada dendam apa Arman dengan anak gadis yang fotonya sekarang ada di tangannya. Cantik, pikirnya. Sayang sekali kalau dibuat gila.

Setelah memerintahkan Arman duduk, dia beranjak ke belakang tirai hitam. Perlengkapannya ada di situ, dalam peti kayu tergembok. Termasuk tengkorak kening bayi yang akan dipakainya untuk pekerjaan kali ini.

Kembali ke ruang tadi, dia duduk bersila. Tuk Kono merapal mantra. Tidak terlalu jelas apa yang diucapkannya, yang agak terang hanya satu dua kata. Seperti bahasa Arab, tapi juga mirip bahasa kampung situ. Sesekali dia meniup ke kiri dan kebelakang. Sambil tangannya ligat merangkai potongan tengkorak bayi dengan tali dari semacam akar. Dia membuat gasing tengkorak. Gasing sudah jadi dan mulai dimainkan dengan menarik tali ke dalam-ke luar hingga potongan tengkorak mengeluarkan suara bising. Dan tiba-tiba dia berteriak sambil menyembur gasing yang berputar. "Sudah. Kau lihatlah anak gadis itu sekarang," kata Tuk Kono kepada Arman, sambil menyeka keringat di dahinya sendiri.**