Karyawan
3 bulan lalu · 169 view · 4 min baca · Politik 95158_54083.jpg
ilustrasi.int

Sihir Uang Kertas, Bentuk Penjajahan Baru

Dulu, emas dan perak merupakan mata uang resmi. Berdasarkan sebuah video yang terbagi dalam beberapa bagian dan sempat viral pada akhir 2018 lalu, Dinar dan Dirham bahkan sempat beredar luas di Nusantara. Kemudian fungsi Dinar dan Dirham digantikan oleh logam dan uang kertas.

Dalam video tersebut dijelaskan bahwa 1 Dinar mengandung emas 22 karat seberat 4,25 gram, sementara Dirham adalah perak murni seberat 2,975 gram. Jika dihubungkan dengan bahan makanan pokok, keduanya sangat stabil bahkan tidak terjadi inflasi sejak awal sejarah hadirnya agama Islam.

Sebagai contoh betapa stabilnya Dinar dan Dirham, D-Knight 101 (Channel Youtube pengunggah video Sihir Uang Kertas) memberi contoh jika 14 abad yang lalu harga seekor ayam adalah 1 Dirham, hingga saat ini harga seekor ayam masih tetap 1 Dirham.

Berbeda dengan sistem uang kertas yang diberlakukan oleh elite global kini. Pada acara Untukmu Indonesia yang tayang di TVRI tahun 2011, Zaim Saidi selaku pimpinan Baitul Mal Nusantara Amir Amirat Indonesia menyebutkan bahwa manusia disihir, seolah uang kertas mempunyai nilai, sementara emas dan perak itu sendiri disimpan oleh mereka yang mencetak uang kertas.


Jadi, mungkin maksudnya uang kertas yang beredar saat ini tidak benar-benar memiliki nilai seperti Dinar dan Dirham, itu hanyalah kertas dengan nominal yang dibuat dan diedarkan.

Seperti yang kita ketahui uang kertas yang berlaku secara internasional adalah Dollar Amerika atau USD. Hanya satu lembaga di dunia yang memiliki hak monopoli mencetak uang Dollar tersebut, yaitu Bank Sentral Amerika Serikat atau The FED.

The FED merupakan bank sentral swasta dan independen tanpa campur tangan Pemerintah, sehingga tidak heran beberapa tahun lalu ketika Jerman ingin melihat emas milik mereka sendiri dipersulit oleh Pemerintah Amerika Serikat.

“Ini seperti sihirnya Fir’aun yang menjadikan tali sebagai ular,” ujar Zaim Saidi pada seminar Kembalikan Dinar dan Dirham tahun 2014 di Universitas Khairun, Ternate, Maluku Utara.

Dalam seminar tersebut Zaim memaparkan bagaimana cara kerja sihir uang kertas itu terjadi, dimana sebuah byte komputer dapat menggantikan emas dan perak yang semula memiliki nilai. Ia menjelaskan kalau kertas yang semula hanya sebuah kertas dapat bernilai tukar berbeda-beda dengan byte komputer di dalamnya, dan mampu membeli kekayaan alam di Indonesia.

Banking is crime, and Banker as the criminal, dengan sihir (uang kertas) ini,” Jelasnya pada kesempatan yang sama.

Kebanyakan orang memiliki uang kertas, menyimpannya di bank dalam bentuk tabungan, giro, maupun deposit. Sangat sedikit orang memiliki emas saat ini. Uang-uang kertas ini memang rentan inflasi serta terbakar jika disimpan begitu saja apabila tidak di simpan dengan benar

Saat Indonesia akan merdeka, elite global memberi syarat agar Indonesia membuat Bank Sentral dan memakai uang kertas. Uang kertas di Indonesia itu sendiri muncul bersamaan dengan konsep negara nasional ditambah hutang warisan Hindia Belanda yang harus ditanggung.

Jika dahulu Belanda mengambil kekayaan alam Indonesia dengan cara menjajah dan membawa koloni sebagai bentuk penjajahan, dengan munculnya sistem uang kertas, mereka dapat mengambil kekayaan kala itu dengan ditukar uang kertas.


Saat ini apabila seseorang memiliki uang kertas dan membelikan sesuatu seperti ayam 2 ekor dengan uang kertas Rp 100.000,- maka ayam tersebut memiliki nilai sementara uang yang digunakan untuk membeli ayam tersebut sesungguhnya tidak bernilai apa-apa, jika dibagi menjadi 2 bagian tidak dapat membeli masing-masing seekor ayam, itulah yang dimaksud Zaim sebagai sihir uang kertas.

Kebohongan lain yang diciptakan sistem uang kertas menurut Zaim adalah Redenominasi atau penyederhanaan nilai mata uang. Redenominasi dilakukan ketika uang yang ada mulai dirasa tidak cukup nilainya, sehingga dilakukan untuk menutupi inflasi, bukan mengatasi inflasi yang terjadi.

Dari pemaparan materi Zaim Saidi, dapat diambil kesimpulan jika sistem perbankan mengadopsi ketidak adilan dan pembodohan dengan beredarnya uang kertas di seluruh dunia, dan menyimpulkan nilai berbeda-beda berdasarkan nilai tukar yang berlaku. 

Berbeda dengan emas dan perak, harga kedua benda tersebut sama, adil dan tidak ada perbedaan berdasarkan asal negara maupun cara mendapatkannya. Keduanya dibedakan dengan kadar dan berat massa emas dan perak itu sendiri.

Syaikh Imran Hosein, Ulama Trinidad Tobago, India juga mengatakan ketika Indonesia merdeka, Soekarno (disebut Ahmad Soekarno) memanggil semua ulama dan menanyakan tentang uang kertas. Kemudian para ulama menjawab apabila ingin menghalalkan kertas itu (uang), maka seharusnya bisa ditukarkan dengan emas, dalam artian uang kertasnya ditukar ke emas dengan harga yang tetap, atau uang kertas berfungsi sebagai cek saja.

Usai pertemuan dengan para Ulama, Soekarno memutuskan jika Rupiah dapat ditukar emas dengan nilai yang sama. Namun, para elite global menentang hal tersebut dalam perjanjian International Monetery Fund (IMF) melalui Soeharto guna menyingkirkan Soekarno.

Ketidak setujuan elite global tersebut tentu muncul karena satu dan lain hal yang menguntungkan bagi mereka, dalam hal ini merugikan jika sistem yang dicanangkan Soekarno terealisasi.

Saat ini kita dapat merasakan bagaimana semakin tahun nilai uang yang kita miliki semakin menurun, dan ide redenominasi semakin gencar dibicarakan. Hanya masalah waktu sampai sistem uang kertas dan apa yang ada sekarang menimbulkan masalah global, bahkan masyarakat di Eropa mulai menyadari kesulitan yang mereka hadapi bukan berasal dari Pemerintah atau Perusahaan-perusahaan besar, melainkan kaum elite global penguasa peredaran uang dan ekonomi.

Kertas memang mengubah banyak hal dalam sejarah kehidupan manusia, pergeseran nilai mata uang yang terpapar di atas salah satunya. Hampir semua orang mencintai uang kertas, mengejarnya hingga mempertaruhkan nyawa dan harga diri. 


Begitu dahsyat kertas mengubah perilaku dan melewati batas-batas, hingga sebagian dari kita lupa bahwa uang-uang kertas tersebut hanya kertas-kertas dengan sistem penjajahan baru yang disisipkan secara lembut di dalamnya.

Lalu lahir pertanyaan, apakah kita bisa terbebas dari sihir uang itu begitu saja? Bukankah hal yang sulit serta merta menghidupkan kembali Dinar dan Dirham dalam kehidupan bermasyarakat yang sangat beragam ini?

Artikel Terkait