Di era kini, mampukah kita tidak mengimani berita-berita sensasi? Saat sebuah barisan kisah-kisah memasuki persoalan yang sama, di sinilah sebuah fenomena terbidani. Atas nama ketuntasan, fenomena tersebut dikuliti, sisi lain dari sebuah fenomena terus dibiakkan, misterinya pun coba disisipkan.

Kecerdasan menjadi sandaran lewat tutur sang pakar. Lengkap, maka "happening"-lah sebuah fenomena. Jagat pewartaan begitu riuh dengan LGBT.

Perilaku banal ini telah menjadi fenomena, curhat visual serta kolektif dan seperti biasa media adalah lakmus bagi sebuah fenomena. Media televisi dengan cadar moral serta topeng demi anak bangsa paling lantang teriakkan jerit kengerian dari fenomena LGBT meski secara rating dan iklan adalah erangan kenikmatan.

Tokoh mitologi Yunani, Orpheus dalam cerita Eurydice mengisahkan, ketika seluruh dewa-dewa menangis melihat penderitaan Eurydice, dengan cintanya Orpheus tetap melantunkan syair-syair indah dengan kecapinya. Apa yg tampak bukanlah wajah asli yg dirasakan.

Dia berujar, "Terkadang sajian kenyataan mampu mengubur nalar dan jiwa." Demikian pula fenomena LGBT. Ya tidak semua persoalan harus menjadi sesuatu yang perlu diributkan. Ketika tidak diramaikan, secara otomatis kisah, peristiwa atau insiden kehilangan sensasi.

Pendiaman pada fenomena justru meredam daya provokasinya. Tanpa sensasi, tanpa provokasi, LGBT hanyalah teritorial tanpa massa. Kelak laku menyimpang akan menggeliat sendiri dan mati dalam sepi.