Jagat dunia psikologi senantiasa berkembang seiring perkembangan manusia itu sendiri. 

Psikologi konvensional sejatinya memiliki problem tersendiri. Dalam sejarahnya, tiga mazhab dalam psikologi – psikoanalisis, behaviorisme, humanisme – bukanlah suatu teori tanpa cela. Beberapa ahli psikologi dari kalangan Barat sendiri pun telah beberapa kali mengkritisi. Anehnya, kajian psikologi mainstream yang diperoleh dan dipakai Barat dipaksakan untuk relevan dalam semua tempat dan waktu, termasuk di Indonesia.

Psikoanalisis merupakan salah satu dari tiga mazhab psikologi yang cukup menarik untuk dikaji. Konstruk sejarah dalam aliran psikoanalisis yang didirikan oleh Sigmund Freud ini memunculkan banyak keanehan dan ironi. 

Beberapa data dalam literatur yang menceritakan sosok Freud telah mengalami distorsi. Ernest Jones salah satunya. Penulis biografi pertama Freud ini telah meminimalkan bahkan menghilangkan beberapa informasi penting yang seharusnya diketahui oleh masyarakat.

Dalam tulisannya tersirat bagaimana Sigmund Freud telah menggunakan “kokain” dalam beberapa kali eksperimennya dalam hipnosis. Bahkan “kokain” yang digunakan oleh Freud dalam praktiknya menggambarkan penggunaan yang melebihi dosis. Dari hasil eksperimennya tersebutlah Freud merumuskan teorinya yang kemudian diamini oleh para pengkaji ilmu jiwa.

Teori Freud selalu berbau seksualitas yang tak masuk akal. Pada sekitar tahun 1905, teori seksualitas dari Freud tidak diterima baik oleh masyarakat. Bahkan teori tersebut dianggap sebagai karya yang tercela dan tak bermoral. Kisah populer tentang “Little Hans” yang digunakan sebagai objek penelitian Freud banyak menuai kontroversi.

Penjelasan teori Freud tentang studi “Little Hans” sangat bernuansa sensualitas, aneh, dan terlalu mengada-ada. Freud menganggap bahwa Hans merasa senang saat ayahnya, Max Graf, pergi untuk tugas pekerjaan pada saat liburan musim panas. Bahkan Freud menafsirkan bahwa Hans sangat senang dan sangat berharap bahwa ayahnya pergi untuk selamanya, artinya meninggal.

Kemudian kejadian yang dianggap Freud memengaruhi perkembangan psikoseksual Hans adalah kelahiran adik perempuannya, Hannah. Ketika itu, usia Hans menginjak 3,5 tahun. 

Menurut Freud, Hans merasa mengalami kecemasan atas kelahiran adiknya yang kemudian Hans memanifestasikan rasa cemasnya dengan takut mandi. "Karena Hans khawatir bahwa ia akan ditenggelamkan oleh ibunya saat mandi," imbuh Freud dalam menafsirkan sebab perilaku “takut mandi” Hans. Lebih lanjut, Hans berharap akan kematian adiknya meski tidak sebesar harapan Hans untuk kematian ayahnya.

Pada suatu hari, Hans mengalami serangan kecemasan yang teramat sangat, maka situasi tersebut dianggap Freud sebagai penyebab Hans yang jatuh sakit. Motifnya tak lain adalah agar Hans dapat tinggal di rumah dan tidur berpelukan bersama ibunya. 

Hans juga takut (fobia) terhadap kuda. Ketakutannya terhadap kuda adalah sebagai ekspresi pelarian atas ketakutan atau bahkan kebencian terhadap ayahnya. Jadi Hans memindahkan ketakutan pada ayahnya kepada kuda.

Namun pada akhirnya Hans telah mengatasi perasaan takut pada ayahnya. Hal tersebut menurut Freud berawal dari kejadian saat Hans melihat kuda yang terjatuh dan kaki kuda tersebut menendang-nendang. Hans berpikir kejadian tersebut mengakibatkan kematian pada kuda yang ia lihat. Karena kematian kuda tersebutlah Hans menjadi tidak takut dengan ayahnya.

Esensi dari penjelasan Freud akan beberapa kejadian tersebut dengan segala intepretasi subjektifnya menyiratkan bahwa anak-anak tidaklah “aseksual” sampai remaja. Freud percaya bahwa studi kasus akan “Little Hans” mendukung teorinya tentang perkembangan seksual manusia. Dan tahap “falik”-lah yang sedang dialami oleh Hans, yaitu dari umur 3-5 tahun.

Dari segala perilaku Hans itu pula Freud membenarkan akan konsep tentang Oedipus Complex dan Electra Complex, yaitu keinginan seorang anak untuk memiliki orang tuanya yang berlawanan jenis secara seksual dan berusaha menyingkirkan atau berharap kematian akan orang tua yang satunya lagi. Kedengaran aneh dan tak masuk akal memang, namun Freud seolah memaksakan teorinya dengan mengintepretasi perilaku Hans tersebut.

Freud akhirnya percaya bahwa “ketidaksadaran” adalah bagian dari pikiran yang tidak didasari dan berisi sejumlah “konflik” tak teratasi, seperti dalam Oedipus Complex. Konflik-konflik yang terepresi tersebut memengaruhi perilaku manusia, seperti fobia, dan terungkap dalam fantasi atau mimpi. 

Para pengkritik Freud mengungkapkan, sejarah psikoanalisis adalah sebuah “Dongeng Ilmiah” dan sama sekali tidak efektif sebagai terapi selain hanya sebagai efek plasebo. Psikoanalisis telah diangap sebagai sebuah pemujaan di mana Freud sebagai pendeta tingginya. 

Berbagai artikel tentang pemikiran Freud juga telah berusaha “mengubur” konsep-konsep Freud yang telah dicela sebagai pembohong dan seksis.

Freud juga dianggap sebagai orang yang bertangung jawab atas kemalangan yang dialami orang tua yang keliru sikap aniaya terhadap anak-anaknya. Sehingga banyak yang bertanya-tanya bagaimana mungkin sebuah “teori pikiran” yang memiliki banyak kelemahan dapat memberikan pengaruh pada dunia psikologi dan masyarakat secara umum lebih dari 50 tahun.

Bagaimana ide-ide Freud yang seolah-olah benar tanpa ada bukti-bukti secara empirik – karena Freud hanya memaksakan pembenaran subjektif atas konsepnya terhadap sebuah ekspresi perilaku – yang meyakinkan dianggap sebagai peristiwa luar biasa sejarah pemikiran intelektual akademis abad ke-20.[1]

Interpretasi psikoanalitik yang dilakukan oleh Freud memang tampak aneh dan berlebihan. Pendekatannya sejatinya tidak lolos uji dengan metode-metode yang diaplikasikan saat ini. Sehingga para pengkritik Freud menyarankan untuk tidak terlalu membesar-besarkan akan ide-ide Freud.

Freud adalah produk zamanya dan seharusnya tidak selayaknya terpesona untuk menyesuaikan berbagai kejadian berdasarkan teori Freud yang cacat. Lantas bagaimana dunia psikologi menyikapi hal tersebut?

[1] Geoff Rolls. Classic Case Studies in Psychology. Terjemah. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), h.264-279