Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), syair berarti puisi-puisi lama yang tiap-tiap bait terdiri atas empat larik (baris) yang berakhir dengan bunyi yang sama, berisi cerita atau pesan. Mengandung unsur mitos, sejarah, agama, filsafat, dan berbagai pesan bermakna.

Beberapa ulama bahkan Walisongo menggunakan syair sebagai media dalam menyampaikan dakwahnya, biasanya berisi nasihat-nasihat keagamaan. Walisongo yang memakai tembang atau syair dalam dakwahnya adalah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menciptakan sebuah syair yang berjudul lir ilir untuk mengingatkan umat muslim supaya lebih dekat dengan Sang Pencipta.

Sedangkan dari kalangan ulama yang menciptakan syair antara lain, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan Syiir Tanpo Waton dan K.H. Ahmad Umar Abdul Mannan dengan syair yang berjudul Sholawat Wasiat. 

Syair “Sifate Murid Ingkang Bagus” adalah sebuah syair karya KH. Rois Yahya Dahlan Pengasuh PP. Miftahul Ulum Yahyawiyah Pati yang mengambil liriknya dari kitab “Busyrol Karim” karangan Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’ali Ba’isyn ad-Da’uni al-Hadhromi as-Syafi’i. 

Syair tersebut ditulis dalam Bahasa Jawa yang berisikan nasihat tentang bagaimana sifat murid yang bagus. Isi syair tersebut adalah sebagai berikut:

Sifate murid ingkang bagus
Iku limo di ngamal terus
Kangdihin iku husnudhone
Marang guru tingkah lakune
Kangdihin iku husnudhone
Marang guru tingkah lakune

Kapindo ngelakoni perintah
Sangking gurune ikhlash manah
Kapindo ngelakoni perintah
Sangking gurune ikhlash manah
Selagine ora maksiat
Iku anut ing hukum syariat
Selagine ora maksiat
Iku anut ing hukum syariat

Kaping telu tinggal cegahan
Sangking guru aweh pituturan
Kaping telu tinggal cegahan
Sangking guru aweh pituturan
Kaping papat hormat gurune
pinglimo ndongaaken kebagusane
Kaping papat hormat gurune
pinglimo ndongaaken kebagusane

Supoyo murid hasil berkah
Ilmu ne manfaat kanggo ibadah
Supoyo murid hasil berkah
Ilmu ne manfaat kanggo ibadah
Ojo murid iku suul adab
Supoyo dadi ulul albab
Ojo murid iku suul adab
Supoyo dadi ulul albab

Jika diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia, syair tersebut bermakna bahwa sifat murid yang bagus itu ada 5 yang perlu diamalkan (dilakukan) secara terus-menerus. Pertama, selalu husnudzon atau berprasangka baik dengan perbuatan guru. Tidak diperkenankan seorang murid memiliki prasangka yang buruk terhadap gurunya.

Kedua, menjalankan perintah dari guru dengan hati ikhlas, selagi perintah tersebut bukan perintah untuk melakukan maksiat dan masih mengikuti hukum syariat. Ketiga, meninggalkan mencegah guru memberikan nasihat. Saat guru memberikan nasihat, sebagai murid kita harus mendengarkan nasihat tersebut dengan takdzim dan berusaha menjalankannya semampu kita.    

“Sendiko dawuh” adalah istilah yang sangat terkenal oleh kalangan santri di lingkungan pesantren. Sebuah kalimat dari Bahasa Jawa Krama Inggil yang kurang lebih artinya saya patuh kepada perkataan guru. Istilah yang digunakan santri saat  mendapat perintah maupun nasihat dari gurunya. 

Sendiko dawuh” mengajarkan kita untuk senantiasa rendah hati, tidak merasa mampu dan lebih baik dibandingkan dengan orang lain. Seperti murid yang tidak merasa lebih baik dari guru, sekalipun guru  ada kekurangan layaknya manusia. Semua manusia itu belajar, belajar tentang ilmu kehidupan.

Keempat, hormat terhadap guru. Guru memiliki kedudukan yang mulia yang wajib kita hormati. Guru adalah orangtua kita di sekolah, kita wajib menghormati guru selayaknya menghormati kedua orangtua kita. Dengan perantara guru, kita bisa mengetahui mana yang baik dan yang buruk.

 Terakhir, mendoakan guru dalam kebaikan. Dalam hadist yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Umar r.a, Rasulullah saw bersabda,

“Dan barangsiapa berbuat baik kepada kalian maka balaslah kebaikannya. Jika kamu tidak mampu (membalas kebaikannya) maka berdoalah kebaikan untuknya hingga ia mengetahui bahwa kalian telah membalasnya.” (H.R. Al-Bukhori dalam Al-Adabul Mufrod no.216)

Diantara orang-orang yang paling berjasa dalam hidup kita, guru termasuk di dalamnya. Kita tidak akan bisa membalas apa yang telah guru berikan kepada kita. Sekalipun itu segunung emas tidak akan mampu membayar jasa guru yang telah mengajarkan kita ilmu tentang apapun, terutama dalam hal agama.  

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “dan bagi seorang belajar hendaknya ia mengetahui kehormatan ustadznya dan berterima kasihatas kebaikannya kepada dirinya. Karena sesungguhnya orang yang tidak berterima kasih kepada manusia hakekatnya ia tidak bersyukur kepada Allah, dan (hendaknya) ia tidak mengabaikan haknya dan tidak mengingkari kebaikannya.” (Maju’ Fatawa 28/17)

Oleh karena itu, marilah kita beerterima kasih kepada guru kita dengan membalas kebaikan mereka, atau setidaknya mendo’akan kebaikan untuk mereka. Semoga Allah menjadikan ilmu yang telah mereka ajarkan kepada kita menjadi amal shalih yang terus mengalir pahalanya, dan semoga mereka diberi keistiqomahan hingga bertemu dengan Allah Azza wa Jalla, aamiin.

Dalam syair tersebut, KH. Rois Yahya Dahlan menjelaskan bahwa lima sifat murid yang bagus itu supaya murid mendapat berkah dalam menuntut ilmu dan juga mendapat ilmu yang bermanfaat untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT.

KH. Rois juga menjelaskan bahwa sebagai murid tidak boleh su’ul adab (beradab buruk) terhadap guru supaya bisa menjadi ‘ulul albab.