3 minggu lalu · 522 view · 3 min baca menit baca · Hukum 23074_43257.jpg
Foto: Berita Satu

Sidang MK Berasa Kuliah Massal

Tak bisa menampik bahwa dampak sidang secara live disiarkan oleh Mahkamah Konstitusi begitu signifkan dan berdampak bagi kita warga Indonesia. Kita selama ini disuguhkan dengan banyak hal atau konten-konten yang kurang berkualitas, bahkan dengan banjirnya hoaks atau kabar bohong hingga ujaran-ujaran kebencian.

Tapi akhirnya, dengan satu tayangan yang ditampilkan oleh MK di hadapan publik tentang sengketa Pilpres 2019, hal-hal yang berbau hoaks ataupun kebencian seakan menjadi kerdil. Pasalnya, dengan menyaksikan dengan utuh, apalagi saat-saat pembuktian persidangan dari para ahli yang hadir dalam persidangan kemarin, bisa membuat kita makin melek akan hukum.

Makin sadar bahwa porsi hukum dan keadilan yang dihadirkan oleh MK dalam persidangan tersebut menjadi satu hal yang mutlak yang harus kita terima. Tidak lagi begitu gampang dan mudah untuk saling mengejek, apalagi saling menghakimi antara satu dengan yang lain. Sebab ada porsi tertinggi yang bisa dan bahkan sanggup memutuskan dengan adil suatu proses hukum, yakni peradilan.

Apalagi saat-saat persidangan juga ditampilkan seperti yang disuguhkan oleh berbagai pihak yang ada di dalamnya, seperti pihak pemohon (tim kuasa hukum BPN Prabowo-Sandi), pihak terkait (tim kuasa hukum TKN Jokowi-Maruf), maupun pihak termohon (tim kuasa hukum KPU). 

Mereka boleh saling menyerang, saling berargumen, saling menunjukkan bukti-bukti yang ditampilkan di persidangan, saling mengejar atau mempertanyakan keabsahan saksi-saksi kunci yang dihadirkan. Tapi usai dari persidangan tersebut, yakni di luar persidangan, mereka masihlah bersahabat. Masih saling bersaudara, masih saling berteman. 

Romansa-romansa dulu juga ditunjukkan di tengah-tengah persidangan. Bahwa mereka pernah satu alumni, satu kantor atau saling berhadapan kantornya, satu kos antara satu dengan yang lainnya. Ingin menunjukkan kepada publik bahwa hal-hal dulu itu pernah membuat mereka dekat satu dengan yang lain.


Bahkan hal-hal mengejutkan terjadi di akhir masa persidangan. Ketua MK Anwar Usman sempat mengajukan protes keberatan kepada Prof. Eddy yang seakan melupakan dirinya dan Wakil Ketua MK, Aswanto. Tapi bukan karena tentang kesaksian ahli yang Eddy berikan, melainkan karena lupa memasukkan namanya ada dalam barisan alumni UGM.

Meskipun awalnya yang membuka tentang wacana itu adalah Prof. Saldi yang menyebutkan bahwa pertarungan antara dua kubu hari ini adalah pertarungan para alumni UGM, yakni antara kuasa hukum pemohon Prabowo-Sandi, yaitu Iwan Satriawan dan Lutfi Yazid dan pihak terkait (Eddy Hiariej dan Heru Widodo). Dan yang tampil sebagai pemutus sidang sengketa juga merupakan para alumni UGM juga, yakni hakim konstitusi Enny Nurbaningsih yang merupakan jebolan UGM.

Prof. Anwar Usman seakan sedih dan langsung protes karena tidak dimasukkan dalam barisan alumni UGM. Meskipun protes Ketua MK sendiri akhirnya malah bernada bercanda di tengah-tengah persidangan. 

Tentu hal ini baik supaya ketegangan di dalam masa-masa persidangan tidak begitu kaku dan berakhir dengan begitu baik. Dan akhirnya prof Eddy pun langsung menyatukan kedua tangannya yang menunjukkan rasa minta maaf kepada prof Usman.

Perselisihan di persidangan, pertentangan di persidangan, tidak membuat hal-hal itu justru mengurangi atau menafikan bahwa mereka dulu pernah dekat satu dengan yang lainnya. Apalagi diungkapkan ke publik dan bisa kita saksikan dan bisa kita dengarkan bersama-sama.

Tentu hal itu menjadi suatu kehangatan yang sedang ditunjukkan oleh Mahkamah Konstitusi kita di tengah-tengah bangsa kita yang mudah terpecah dan masih terpecah oleh dua kubu.

Di samping itu, literasi tentang hukum ataupun pengetahuan tentang hukum bagi kita juga tentu makin bertambah. Dengan sajian-sajian yang ditampilkan, dengan argumen-argumen hukum yang bisa kita dengarkan, dengan bukti-bukti dan contoh-contoh peristiwa hukum bahkan keputusan hukum, dengan istilah-istilah yang kita dengarkan, tentu hal itu makin menambah wawasan kita di dalam berbangsa dan bertanah air.


Bahwa benar hukum adalah panglima yang mengatur seluruh sendi-sendi pergaulan dan hubungan kita antara penyelenggara negara dengan warga negara, antara sesama warga negara, dan posisi kita di tengah-tengah masyarakat global dunia.

Sehingga sangat mengapresiasi. Dan tampilan-tampilan inilah yang kita harapkan lebih banyak muncul di tengah-tengah media kita. Dan bukan hanya tampilan media-media sosial yang berisi kebohongan.

Dan jika kita simpulkan tiga bidang itu, yakni pertama, kita makin sadar bahwa penegakan dan keadilan hukum adalah hal yang penting dan yang paling utama di dalam proses kita berbangsa dan bertanah air. Kedua, meskipun kita boleh saling bersaing dan saling adu gagasan dan buktikan dalil di dalam sebuah persidangan, tapi kekeluargaan dan persahabatan ataupun pertemanan tetap menjadi unsur yang tidak bisa diabaikan.

Ketiga, tentu dengan tayangnya persidangan MK secara live, bahkan disiarkan oleh berbagai media televisi kita, maka porsi berita-berita hoaks bisa kian berkurang. Di samping itu, otak atau kecerdasan maupun kekritisan kita jauh lebih terasa saat para profesor tampil secara live di depan kita. Berasa seakan kuliah massal.

Artikel Terkait