Pelajar
2 bulan lalu · 105 view · 3 min baca menit baca · Agama 11383_43058.jpg
http://www.nu.or.id/

Sibuknya Kami Ketika Beribadah

Ketika 'Ibadah' Diartikan Secara Sempit

Sewaktu saya tinggal di asrama ketika SMA, beberapa teman yang beragama Nasrani bertanya kepada kami yang beragama Islam, "Berapa lama waktu yang kalian habiskan dalam sehari untuk beribadah?". Kemudian kami mulai menghitungnya.

Saat asrama dulu, kami melaksanakan salat berjamaah setiap Subuh, Duhur, Asar, dan Magrib. Sedangkan untuk salat Isya, kami melaksanakannya di kamar masing masing. Setiap salat jamaah paling tidak memakan waktu lima belas menit dan untuk salat munfarid (sendiri) bisa memakan waktu paling lama sepuluh menit. Tapi kebanyakan dari kami berpendapat bahwa lima menit pun sudah cukup untuk salat dan berdoa.

Akhirnya kami sepakat menjawab bahwa dalam sehari, kami menghabiskan waktu kurang lebih selama empat puluh lima menit atau paling lama satu jam.  Satu jam waktu untuk beribadah menghadap Tuhan dari dua puluh empat jam yang ada dalam sehari. Namun itu belum termasuk salat Jumat bagi pria muslim setiap minggunya. Juga belum termasuk perhitungan ibadah yang hukumnya sunnah.

Kemudian, teman Nasrani kami memberi tanggapan, "Jika dalam sehari kalian beribadah selama satu jam, maka dalam seminggu kalian beribadah selama tujuh jam. Ditambah durasi salat Jumat yang paling tidak sekitar setengah jam lebih lama dari salat duhur, berarti total waktu yang diluangkan para muslim untuk beribadah adalah sekitar tujuh setengah jam perminggu. Wah, lumayan juga ya."

Sebagai pemeluk agama Kristen, teman teman Nasrani kami berbagi cerita bahwa setiap gereja memiliki durasi dan waktu yang berbeda-beda dalam menjalankan rutinitas mingguan untuk beribadah.

Misalnya, di gereja Protestan tempat salah satu teman kami beribadah hanya butuh durasi dua jam. Sedangkan di gereja lain, ada yang hanya membutuhkan durasi satu setengah jam, atau bahkan ada yang sampai tiga jam kata mereka. Ada juga yang waktunya di pagi hari, ada juga yang baru ibadah di sore hari.

Selain beribadah di setiap hari minggu, teman-teman Nasrani kami juga berkumpul untuk berbagi cerita dan menyanyikan lagu-lagu kebaktian, biasanya mereka menghabiskan waktu dua jam dalam seminggu atau bahkan bisa lama dan lebih sering dari itu.

Teman-teman Nasrani juga bilang bahwa ada pula ritual ibadah yang personal, istilahnya adalah 'Saat Teduh'. Biasanya, Saat Teduh dilakukan sebelum  tidur dan saat bangun tidur, di setiap pagi dan malam hari. Durasinya relatif, yang penting kualitas doanya kata mereka.

"Jadi, berapa total waktu yang kalian luangkan untuk beribadah tiap minggunya?", celetukku.

"Ya bisa jadi hampir sama sih seperti kalian. Mungkin paling tidak lima jam dalam seminggu atau bisa lebih dari itu.", jawab seorang teman Nasrani.

Sesungguhnya, semua tergantung pribadi masing-masing. Tentang berapa lama dan berapa sering kita bercerita dan berkeluh kesah kepada Tuhan tentang kebutuhan batin kita sendiri, karena sebentar dan lama tidak ada takaran yang universal. Hal tersebut sangatlah relatif.


Jadi benar dengan apa yang dikatakan salah seorang teman Nasrani kami, sebenarnya beribadah bukan tentang lama dan sebentar atau sering dan jarang, tapi tentang seberapa berkualitasnya percakapan kita dengan Tuhan.

Lama-sebentar dan sering-jarangnya kita berkomunikasi dengan Tuhan bukanlah satu-satunya hal yang dapat merepresentasikan tingkat keimanan seseorang. Bagi kami, tingkat keimanan seorang muslim, atau seorang nasrani, atau pemeluk agama dan keyakinan lainnya tidak hanya bisa diukur dari betapa sibuknya kita ketika berkomunikasi dengan Tuhan kita masing-masing.

Dari percakapan sebelumnya, saat itu kami kemudian terdiam sejenak. Terdiam dan menyadari bahwa yang kami artikan sebagai ibadah  adalah bentuk komunikasi dan mendekatkan diri terhadap Tuhan saja. Tidak lebih.

Namun, sesungguhnya beribadah bukan hanya soal melakukan ritual mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan Tuhan. Tetapi juga tentang bagaimana kita berperilaku sebagai manusia di bumi ini. Tentang bagaimana kita menjalankan hidup sebagai seorang manusia sosial yang kebetulan dibekali ilmu, khususnya ilmu agama.


Setiap agama selalu mengajarkan kebaikkan dan melarang pemeluknya untuk melakukan perbuatan buruk. Maka dari itu, tingkat keimanan juga bisa dihitung dari bagaimana kita melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Ibadah adalah bagian dari melaksanakan perintah dan anjuran agama. Ibadah juga bentuk dari bagaimana kita tidak melanggar larangan-Nya. Namun, ibadah sering disempitkan artinya menjadi sebuah ritual berkomunikasi dan mendekatkan diri dengan Tuhan dalam waktu dan kondisi tertentu.

Jika ibadah diartikan sebagai bentuk berkomunikasi dengan Tuhan saja, maka seharusnya kita tidak hanya menyibukkan diri sendiri ketika beribadah. Masih banyak contoh dari beribadah seperti melakukan kebaikan, termasuk berbagi dengan sesama, saling menghargai dan memanusiakan manusia.


Beribadah adalah bentuk tunduk seorang umat terhadap Tuhannya. Maka sibukkanlah diri kita dengan beribadah kepada Tuhan dalam keadaan ketika kita sedang benar-benar sendiri dan ingin berlutut kepada Tuhan karena kita butuh berkomunikasi dengan Tuhan secara intim.

Dan sibukkanlah diri kita dengan beribadah kepada Tuhan dalam keadaan dan kesadaran bahwa kita adalah manusia sosial yang hidup berdampingan dengan penuh kecintaan dan kasih.

Artikel Terkait