Tetap Dinas di Hari Libur

Clarence Parade Pier adalah kawasan wisata yang melegenda di United Kingdom. Letaknya hanya sekitar 200 meter saja dari Southsea, sebuah pantai yang menjadi daya tarik Portsmouth, Inggris, kota pelabuhan yang dikenal karena pantai yang indah, juga sejarah perjuangan para marinirnya selama D-Day World War II.

Setiap libur paskah, yang atmosfernya mirip dengan lebaran di Indonesia, banyak sekali turis yang berkunjung ke sekitar Clarence Parade Pier ini. Ada yang datang dengan berjalan kaki, ada yang datang dengan menggunakan kendaraan, bahkan ada yang membawa karavan untuk menginap sambil barbecue, pada area terbuka yang disediakan pemerintah kota.

Puncak perayaan paskah di Inggris tahun lalu, jatuh pada hari minggu, 21 April 2019. Bagi masyarakat kota Portsmouth yang merayakannya, tentu ini waktunya bersenang-senang bersama gebetan atau keluarga, menikmati aneka kuliner, barbecue, berenang dan main game di amusement sekitar Clarence Parade Pier.

Bagi saya, libur Paskah ini menjadi berkah juga, karena berkesempatan untuk mengambil shift kerja dengan bayaran dobel. Pada hari minggu puncak perayaan paskah itu, ketika yang lain berlibur, saya memilih untuk bekerja sebagai caregiver (pelayan lansia), di sebuah panti jompo yang letaknya hanya 200 meter saja, dari bibir pantai tempat euforia liburan terjadi.

Ada sebersit rasa iri melihat orang-orang liburan. Namun untuk menjaga dapur di rumah tetap ngebul, bukan malah kepala ini yang ngebul, saya mengaffirmasi diri agar tetap semangat untuk bekerja.

Di Inggris, panti jompo yang dikelola swasta, seringkali melakukan upaya penghematan, dengan hanya menugaskan beberapa nurse (perawat) dan caregiver (pelayan), sepanjang liburan paskah.

Mempekerjakan nurse dan caregiver dalam jumlah banyak di musim liburan paskah merupakan, sesuatu yang berat di ongkos bagi panti jompo milik swasta. Butuh biaya besar sekali untuk membayar petugas, apalagi kalau petugas itu diambil dari agensi perawat sebagaimana tempat saya bekerja.

Mendengar info yang disampaikan senior itu, tadinya saya tidak akan mengambil shift di panti yang dikelola swasta. Selain takut kurang personil, saya juga merasa masih belum enjoy bekerja sebagai caregiver, mengingat skill yang terbatas, kemampuan bahasa Inggris yang cekak, yang berdampak pada pengalaman-pengalaman buruk di panti-panti jompo swasta sebelumnya.

Jauh lebih mudah berbicara dihadapan ratusan orang, sebagaimana profesi pendidik atau penyuluh yang pernah saya tekuni di tanah air, daripada menyuapi oma yang sudah pikun, atau mengganti popok opa yang sudah berkali-kali diserang stroke.

Dengan pertimbangan-pertimbangan itulah, saya lebih memilih bekerja di panti jompo yang dikelola pemerintah. Karena jumlah personil yang seimbang dengan penghuni, akan membuat saya lebih mudah bekerja.

Sayang, yang berpikir demikian ternyata bukan saya saja. Ketika saya meminta kepada agensi untuk dipekerjakan pada sebuah panti yang dikelola pemerintah kota pada saat liburan Paskah, semua shift sudah terisi oleh caregiver lain yang sudah bertahun-tahun kerja.

Jadilah, saya yang baru dua bulan bekerja sebagai caregiver, ditempatkan di panti jompo milik swasta.  

Kesibukan di Panti Jompo

Ternyata, memang edan dan hectic, bekerja di panti jompo, pada 'hari lebaran'-nya warga Inggris ini. Yang bertugas hanya 4 orang saja, untuk melayani 40 residen panti jompo. Terdiri dari 2 orang caregiver dari agensi perawat, yaitu saya dan Aang (mahasiswi yang bekerja part-time asal Burma), bersama satu orang koordinator dan satu orang perawat.

Tidak mudah dan cukup stres, ketika harus merawat oma dan opa dengan kondisi mengidap alzheimer, dementia, stroke dan berbagai penyakit khas lansia lainnya, dengan hanya ditangani empat orang. Dari mulai MCK, menyuapi, mentransfer sampai menenangkan menjadi proses yang berat, ketika ditangani hanya oleh beberapa petugas saja.

Selain berkeliling mengawasi para penghuni yang terbaring di kamar masing-masing, 4 orang petugas yang bertugas di hari itu harus bergiliran menjaga dan melayani kebutuhan para Lansia yang berkumpul di ruang utama, tempat oma dan opa mengobrol, bercengkerama, minum teh, menonton TV, atau kadang-kadang bertengkar.

Padatnya kegiatan hari itu membuat lelah fisik kami berempat. Menjelang sore, saya sendiri sudah kehilangan konsentrasi. Kata-kata “deaf”, sempat muncul dari nurse, dan wajah kecewa kerap ditampakkan koordinator, ketika saya yang kurang faham kalimat mereka, jadi salah atau terlambat menerjemahkan instruksi.

Kata-kata kurang enak biasanya berhamburan, kalau saya tidak buru-buru datang membantu ke salah satu ruangan. Dari handy talkie kata-kata itu kerap terdengar, ketika saya sebagai caregiver dianggap terlambat, membersihkan bekas-bekas buang air besar di toilet panti.

Untunglah, di tanah air, saya sempat belajar teknik affirmasi. Saya tidak sampai kesal atau down, semata-mata karena sebelum bekerja saya sudah menentukan target hari itu.

Kebetulan saja, kalimat yang saya affirmasikan bagi diri pada hari paskah yang indah bagi orang lain dan hectic bagi saya itu adalah, “aku tidak akan marah seharian”. Mantra itu yang terus bergema sepanjang saya bekerja.

Akhir Shift yang Melegakan

Affirmasi itu berhasil ketika shift saya berakhir pada pukul 8 malam. Alhamdulillah, momen berat itu akhirnya lewat juga, dan saya “tidak marah”. Urat-urat di dahi saja kalau disentuh agak mengencang.

Saat menandatangani time sheet (sejenis formulir absensi) pada nurse, yang saat menggerutu di handy talkie tadi suaranya mirip vokal lady rocker lawas, Euis Darliah, di nada tinggi, dia memohon maaf jika banyak kata-kata tak enak yang keluar dari mulutnya selama bertugas.

“Well, I am so sorry mylovely, if i was rude today,” katanya penuh sesal.

Saya tersenyum, dan senyumpun makin lebar ketika saya membaca pada kertas time sheet, dia menghadiahi saya 1 jam honor overtime, sebagai hadiah atas kerja keras saya dan Aang, caregiver cewek asal Burma yang nyaris menangis, di waktu break yang pendek pas jam makan siang.

Dengan terharu, saya peluk nurse itu sambil mengucapkan,”It's fine, Madam, thanks and i am sorry if i still hard to learn and not good today.

Pukul 8 lebih sedikit kamipun melangkah keluar dengan lega dari pintu panti jompo. Saya dan Aang berjalan kaki menuju halte bis, sambil sama-sama curhat tentang bagaimana perasaan kami di hari itu.

Jelang sampai di halte bis, kami sama-sama mencium bau tak enak. Kami sama-sama segan untuk bertanya darimana sumbernya. Sampai kemudian Aang berkata,”Eddy, look, i think you need wipe tissue for that...”sambil menunjuk bagian perut jaket saya.

Ya ampun, di situ ada tekstur mirip bumbu sate, yang kemungkinan merupakan asal dari aroma tak sedap yang kami hirup sejak tadi. Entah kepunyaan oma atau opa, curiganya benda tak asing itu berasal dari celemek plastik nurse, yang pindah menempel ke jaket saya ketika kami berpelukan tadi.

Saya dan Aang saling memandang kemudian tertawa terbahak-bahak ketika menyadari, jaket kami sama-sama terkontaminasi.

What people from your country call it...  ?” tanya Aang dengan wajah jahil, sambil menunjuk noda di jaket saya itu.

"They call it, telek...," jawab saya sambil tertawa.

Saya memutuskan untuk pulang berjalan kaki ke rumah. Karena segan juga naik bis bersama aroma seperti ini. Biarlah jalan kaki 30 menit, daripada malu sebab bau yang bakal mengganggu seluruh penumpang bis. Sementara Aang, yang rumahnya lebih jauh memutuskan untuk  cari toilet umum terdekat, supaya bisa membilas kotoran yang melekat di jaketnya sebelum naik bis.

Di tengah perjalanan, saya singgah sejenak di sebuah rimbun bunga-bungaan dan dedaunan yang wangi. Saya pikir kalau dicampur air mineral yang saya bawa, beberapa helai daun ini bisa membersihkan sekaligus mewangikan jaket ini. Setelah dirasa lumayan wangi, saya pun segera melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di rumah, anak saya bertanya,

“Papa bau apaan sih ?”

“Kenapa, wangi parfum nenek-nenek ya...”

"Bukan, so sorry ya, Pah, bau pepaya busuk," katanya berlalu sambil menutup hidung.

Portsmouth, Southsea, April 2019