Mengenal Otomatisasi

Selaras dengan tujuan Indonesia dalam merealisasikan Revolusi Industri 4.0 dan disrupsi dalam berbagai sektor, implementasi sistem otomatisasi dapat menjadi langkah awal yang mampu mendorong terintegrasinya aspek digital dalam sektor perekonomian.

Namun, untuk merealisasikannya, terdapat berbagai konsiderasi yang perlu dianalisis guna menjamin kesiapannya. Hal ini menyebabkan munculnya tantangan dilematis dalam pasar yang harus dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat.

Teknik otomatisasi adalah penggunaan mesin, sistem kontrol, dan teknologi informasi untuk optimisasi produksi barang dan jasa. Otomatisasi dilakukan untuk memberikan hasil yang lebih cepat, lebih baik secara kuantitas dan/atau kualitas dibandingkan dengan penggunaan tenaga kerja manusia.

Dalam dunia industri, otomatisasi merupakan lanjutan dari mekanisasi, di mana mekanisasi masih membutuhkan operator manusia selama mesin beroperasi atau membutuhkan bantuan tenaga otot manusia agar mampu bekerja. Kemudian, hadirnya otomatisasi ini ialah untuk mengurangi peran manusia dalam hal tersebut.


Bagaimana Keadaan Indonesia Saat Ini

Sistem otomatisasi yang diintegrasikan dalam proses produksi merupakan langkah awal yang mampu mendorong inovasi sektor perekonomian. Secara empirik, sistem otomatisasi telah diadopsi di beberapa wilayah di Indonesia. Salah satunya dalam pembuatan UKM peti ulir paku di Madura, dengan desain TTG dan aplikasi manajemen pemasaran yang terotomatisasi.

Dalam proses pengimplementasiannya, inovasi dalam proses produksi UKM mengalami peningkatan produktivitas sebanyak tiga kali lipat—135 unit per hari—dengan percepatan proses produksi yang lebih berkualitas, output produk yang lebih berkualitas, dan beban kerja yang lebih ringan karena sebagian tenaga kerja manusia digantikan oleh mesin [1]. Eksistensi mesin otomatisasi tentunya mendorong pekerja dan perusahaan untuk berinovasi dan meningkatkan kapasitas IPTEK yang dimilikinya.

Terlepas dari keuntungan yang dapat diperoleh melalui sistem otomatisasi dalam proses produksi, kesiapan massa harus menjadi unit analisis fundamental yang sifatnya determinan dalam menentukan efektivitas program otomatisasi nantinya. Bukan hanya bagi kelompok marjinal yang tidak terpapar pengetahuan IPTEK, bahkan banyak kelompok pemuda yang tidak siap beradaptasi dan berpotensi memperbesar angka pengangguran Indonesia kedepannya.

Permasalahan ini terutama dikarenakan kesenjangan informasi dan rendahnya tingkat literasi pendidikan teknologi dari pemuda Indonesia. Wawasan yang dimiliki oleh mayoritas pemuda kita belum dapat mengakomodasi kebutuhan kemampuan lapangan kerja yang dibutuhkan sekarang.

Dalam konteks otomatisasi, dapat diketahui juga rendahnya pengetahuan massa terhadap penguasaan IPTEK mengakibatkan inkompatibilitas tenaga kerja sehingga akan membutuhkan waktu yang lama untuk mendorong inovasi dalam proses produksi bahkan beresiko terhadap penyempitan lapangan pekerjaan jika segera diterapkan.  


Pro Kontra Penerapan Otomatisasi

Tantangan penyempitan lapangan pekerjaan bukan hanya dialami Indonesia yang merupakan negara berkembang, tantangan penyempitan lapangan pekerjaan bagi kelompok marjinal—yang tidak terpapar IPTEK—juga dihadapi oleh Amerika Serikat dan Inggris sebagai negara maju.

Laporan-laporan menunjukkan 47% pekerja Amerika Serikat juga berisiko termarjinalisasi ketika sistem otomatisasi diadopsi sepenuhnya dalam proses produksi. Di inggris, 35% menghadapi ancaman yang serupa. Bahkan, di negara berkembang seperti Indonesia, ⅔ lapangan kerja juga menghadapi risiko penyempitan lapangan pekerjaan akibat otomatisasi [2].

Risiko penyempitan lapangan kerja bukan hanya menjadi permasalahan yang harus dihadapi oleh pekerja kasar, melainkan juga pekerja formal di kantor karena sistem otomatisasi secara prerekuisit membutuhkan ahli dengan keterampilan spesifik dalam pekerjaan-pekerjaan baru sehingga jaminan perpindahan kerja bagi kelompok yang tidak memiliki kompetensi spesifik harus dikonsiderasikan sebelum mengadopsi sistem otomatisasi dalam proses produksi.

Padahal, sistem perekonomian Indonesia menjamin perlindungan ekonomi bagi pekerjanya, bahkan diregulasi melalui UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dan UUD 1945 Pasal 27 ayat 2 disebutkan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.”

Sistem otomatisasi memang dapat meningkatkan efisiensi produksi yang mendorong peningkatan nilai kompetitivitas daya saing dari komoditas yang diproduksi oleh suatu perusahaan. Kekuatan daya saing industri harus didorong oleh inovasi dan teknologi dari litbang suatu perusahaan supaya muncul kemandirian industri nasional yang lebih bersifat fundamental.

Sistem otomatisasi—yang diproduksi oleh litbang suatu perusahaan sebagai bentuk inovasi teknologi—dalam proses produksi di Indonesia akan mengembangkan efisiensi produksi sehingga komoditas yang diproduksi memiliki daya saing yang lebih kuat.

Eksistensi sistem otomatisasi juga membuka kesempatan kerja yang lebih berkualitas bagi masyarakat sehingga kelompok prekariat dalam sistem ekonomi dapat terakomodasi kebutuhan ekonominya karena muncul dorongan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Revolusi Industri 4.0 yang mendorong kerangka kerja secara terotomatisasi mendukung revolusi mental pelaku pasar yang mengubah cara berpikir, keyakinan, dan perilakunya sehingga potensi komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, kreatif, dan inovatif dapat dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas.

Untuk menjaga efisiensi ekonomi, memang diperlukan revisi UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan supaya bisa mengakomodasi otomatisasi dan digitalisasi yang berkelanjutan bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih efisien dengan tetap menjamin hak dan perlindungan bagi pekerja sektor konvensional.

Benar adanya bahwa sistem otomatisasi berpotensi meningkatkan daya saing dari komoditas domestik. Namun, titik keberangkatan yang dimiliki oleh Indonesia sebagai negara berkembang jauh tertinggal dibandingkan negara maju yang telah mengimplementasikan sistem otomatisasi. Bahkan, produk hortikultura Indonesia mengalami pelemahan daya saing karena gagal berkompetisi dengan produk impor, terlebih SDM-nya tidak memiliki kapasitas untuk mengutilisasi inovasi teknologi pendorong produksi hortikultura.

Oleh karena itu, sebaiknya sistem otomatisasi tidak diimplementasikan sepenuhnya dalam proses produksi di Indonesia, mengonsiderasikan ketidaksiapan massa, potensi penyempitan lapangan pekerjaan, serta pelemahan daya saing karena titik keberangkatannya tertinggal jauh.








Referensi

[1] Siswadi, S., Widiastuti, Y., & Sandhy, P. R. (2020). Penerapan Mesin Cetak Otomatis Untuk Meningkatkan Kapasitas Produksi Paku Sekerup Peti Mati Pada UKM Di Surabaya. Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR), 3, 250-253. https://doi.org/10.37695/pkmcsr.v3i0.1037

[2] Gray, R. (2017). Bagaimana otomatisasi akan mempengaruhi Anda?. Retrieved from: https://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-40271855.

[3] Djufry, F., Pasandaran, E., Irawan, B., & Ariani, M. (2019). Manajemen Sumber Daya Alam dan Produksi Mendukung Pertanian Modern. Bogor:  Penerbit IPB Press.

[4] Suharman, S., Nugroho, M., Muq'Asha, M. W., & Murti, H. W. (2018, December). Inovasi, Teknologi dan Peningkatan Daya Saing Industri. In Prosiding Seminar Nasional Hasil Litbangyasa Industri II, 1(1), pp. 137-148.

[5] Suwardana, H. (2018). Revolusi Industri 4. 0 Berbasis Revolusi Mental. JATI UNIK: Jurnal Ilmiah Teknik Dan Manajemen Industri, 1(2), 109-118.