Plato, tentunya tidak asing lagi bagi pegiat literasi filsafat maupun politik. Ia merupakan murid dari Socrates dan guru dari Aristoteles. Hidup dalam rentang waktu 424-328 SM, dikenal sebagai filsuf yang paling berpengaruh dalam dunia filsafat dan karya-karyanya masih eksis dibaca hingga hari ini.

       Republik, Phaedo, Simposium, Laws, Apology, dan Phaedur buah pemikiran filosofis dari Plato. Salah satu karya dari sesepuh filsafat ini adalah The Sophist yang akan diulas secara ringkas dalam tulisan ini, yang mana dalam buku ini Plato dengan cerdik membedah perbedaan antara sofis, negarawan, dan filsuf.

       The Sophist karya Plato terbitan YouHui Culture Publishing Company, 1991. Karya Plato ini diterjemahkan oleh Nisa Khoiriyah ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Sofis yang diterbitkan oleh basabasi, pada Januari, 2019.

       Isi buku ini berbentuk dialog yang disebut metode Socratik antara Theodorus, Theaetetus, Socrates dan orang asing dari Elea. Dalam tulisan ini secara khusus membahas tentang sofis. Siapa sofis?.

       Orang sofis hidup semasa dengan Socrates dan orang ini juga yang membuat Gadfly of Athens ini dihukum mati dengan meminum racun. Sofis telah menuduh Socrates meracuni pikiran-pikiran anak muda ketika itu.

       Nah, siapa sofis? Mari kita bedah secara singkat siapa sofis sebenarnya yang dijelaskan oleh Plato dalam buku ini.

       Sofis adalah hidup pada masa abad kelima dan keempat Sebelum Masehi, sebagian besar dari orang-orang sofis ini lincah dalam berfilsafat dan beretorika. Bagi Plato, orang sofis adalah orang yang dianggap serbatahu padahal tidak mungkin ada manusia yang serbatahu.

       Berawal dari pertanyaan Socrates, yang diajukannya kepada orang asing dari Elea, bagaimana orang-orang Italia membicarakan tentang filsuf, dan kepada siapa sebutan-sebutan itu diberikan. Theodorus menimpali pertanyaan Socrates, sebutan apa? Sofis, negarawan, dan filsuf kata Socrates.

       Ada apa dengan sebutan itu kata Theodorus. Socrates menjawab, aku ingin tahu apakah orang-orang senegaranya mengartikan sebutan itu sama atau memiliki makna yang berbeda, dan masing-masing sebutan berbeda dengan yang lain?.

       Orang asing dan Theaetetus bercakap-cakap tentang pola dalam menemukan apa itu sofis dan berakhir pada kesimpulan bahwa,

       “Seni yang dimiliki manusia jenis ini mungkin bisa dicatat sebagai sebuah cabang dari kelompok yang apropriatif dan akuisitif yang memburu hewan-hewan darat yang jinak; yang memburu manusia pribadi agar dibayar, mengambil uang sebagai hasil perburuan, memiliki sesuatu yang mirip pengetahuan.

       Hal di atas disebut Sofistri, dan merupakan perburuan memangsa orang-orang muda dan terhormat. Karena sofis berasal dari kelompok Eristik yang akuisitif, suka berdebat, yang menghasilkan uang, karena argumennya sudah terbukti.

       Orang asing dari Elea melanjutkan bahwa ia merasa melihat satu jenis ketidaktahuan yang sangat besar dan buruk yang cukup khas, dan bisa ditimbang di atas neraca yang dibandingkan dengan semua jenis ketidaktahuan lainnya yang diletakkan bersamaan.

       Theaetus menjawab, apakah itu? Orang asing tersebut menjelaskan “Ketika seseorang mengira bahwa dirinya tahu, padahal tidak tahu; ini tampak menjadi sumber besar kekeliruan kecerdasan, dan ini merupakan jenis ketidaktahuan yang secara khusus menyandang gelar kebodohan.

       Dari penjelasan singkat di atas, sebuah nasihat dan pelajaran bermakna bagi manusia yang merasa serbatahu segalanya. Kalau melihat perkembangan dunia media sosial (medsos) hari ini, begitu banyak manusia yang serbatahu, semua isu dilahap; mulai dari isu tanah hingga isu langit.

       Cerewet dan merasa serbatahu, padahal tingkat literasinya hanya berada di tahap judul atau berada di kata pengantar sementara isi dan permasalahan tidak tahu sama sekali. Seperti kasus ketika ada isu agama yang membahas tentang isi kandungan Alquran, maka beramai-ramai menjadi mufassir dadakan.

       Nah, dari itu kita dituntut untuk terus belajar dan belajar serta mencari tahu, tidak malas agar terhindar dari orang-orang yang sok tahu dan merasa paling tahu segalanya padahal tidak tahu apa-apa. Sebuah nasihat klasik dari Socrates, semoga menjadi obat bagi kita semua "Aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa.”

       Buku Indonesia Mencari Demokrasi Mochtar Buchori mengatakan bahwa “Jadilah manusia yang pinter, tetapi jangan sekali-kali berlaku keminter dan waspadalah agar tidak keblinger.

       Pinter berarti pandai atau cerdas, terpelajar atau arif dan bijaksana. Keminter orang yang berlagak pandai dan pinter keblinger, keliru atau tersesat oleh karena merasa pandai.

       Sofis orangnya pintar dan tahu segalanya serta dengan kelincahan retorikanya ia menggunakan kepintarannya melakukan kejahatan. Sementara manusia hari ini berlagak keminter, pura-pura pintar atau berlagak pintar di media sosial, seolah-olah tahu segalanya padahal tidak tahu sehingga terjadi kekacauan.

       Dari pertanyaan di atas, apakah sudah terjawab, siapa Sofis? Sebuah jawaban dari Socrates bahwa “Aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa.”

       The Sophist, sebuah nasihat klasik dari Plato untuk manusia modern hari ini.

Info Buku:

Judul Asli          : The Sophist

Judul                : Sofis

Penerjemah      : Nisa Khoiriyah

Penerbit            : Basabasi

Tempat : Yogyakarta

Tahun               : 2019

Jumlah Hlm       : 136