3 bulan lalu · 697 view · 2 min baca · Politik 78753_31650.jpg
Foto: Inverse

Siapakah Daenerys Targaryen-nya Indonesia?

Adalah Prabowo. Iya, Prabowo Subianto!

Penyikapannya atas hasil Pilpres 2019 mengingatkan saya pada penampilan brutal seorang Daenerys Targaryen di sesi “The Bells” Game of Thrones. Keduanya saya nilai sebagai sosok yang tidak punya mental pemimpin. Dan mungkin karena itulah kenapa mereka kemudian menjadi calon pemimpin yang gagal.

Sudah sebatas calon, eh gagal pula. Sungguh betapa sialnya mereka ini.

Ya, keduanya sama-sama gagal. Prabowo, untuk kesekian kalinya, lagi-lagi gagal menduduki Kursi RI-1. Sementara Daenerys, meski sempat berhasil merebut, harus berakhir tragis di tangan sang kekasih sebelum dilantik. Nahas betul.

Memang, kalau kita mau ikuti makna “pemimpin” seturut Ki Hadjar Dewantara, maka kita akan dapati bahwa Prabowo sebenarnya tidaklah termasuk. Alih-alih berdiri di depan sebagai panutan, menyemangati di tengah kerumunan massa pendukungnya pun hampir tidak.


Mendorongnya dari belakang? Sangat bisa jadi. Tetapi bukan mendorong dalam arti tut wuri handayani-nya Bapak Pendidikan kita. Yang ada malah kesan pengambinghitaman pengikut sendiri di akhir kisah.

Pada ranah ini, agaknya Daenerys sedikit lebih baik. Tak sekadar menyerukan “Dracarys” sebagai pemicu serangan, tetapi ia mampu memberi teladan tentang bagaimana pola mematikan yang pihaknya harus gencarkan ke King’s Landing.

Lihatlah bagaimana Mother of Dragons menyulap wilayah kekuasaan Cersei Lannister jadi lautan api. Justru saat menyadari kondisi kemenangannya tanpa perlawanan, ia tetap kukuh membakar habis rumah-rumah batu beserta penghuninya. Semua ia lakukan tanpa rasa ampun; sedikit pun.

Nilai plusnya, Dany—sapaan sayang Jon Snow untuk Daenerys—memimpin langsung amukan Unsullied dan Dothraki. Ia berani menanggung risiko dengan pasukannya. Susah-senang ditanggung bersama. Pemimpin dan pasukan sama-sama turun berperang. Tidak ada yang berpangku tangan.

Sementara Prabowo, meski tampak tidak mau kalah padahal kenyataannya sudah kalah telak; ikut-ikutan bikin rusuh; dibuatnya Ibu Kota jadi berdarah; tetapi membiarkan massa pendukungnya mengamuk lepas tanpa kehadiran dirinya di tengah pertempuran.

“People power,” katanya, tetapi terkesan, sekali lagi, mengambinghitamkan pengikut sendiri. Ibarat kata, Prabowo lempar kampret sembunyi tangan. Ini tampak jelas melalui ungkapan BPN Prabowo yang merasa tidak bertanggung jawab atas aksi berujung ricuh di Bawaslu.

Memang tidak ada bukti konkret yang menunjukkan bahwa Prabowo-lah dalang kerusuhan itu. Tetapi melihat misi yang mereka tembakkan, yakni menolak hasil perhitungan suara karena “curang”, mengindikasikan bahwa kubu Prabowo-lah yang paling diuntungkan. Lah, siapa lagi yang menolak hasil Pilpres 2019 kalau bukan pihak yang kalah?

Penampakan buruk Prabowo seperti inilah yang memantik warganet pasang tagar #PrabowoBukanPemimpin. Tentu bukan tanpa alasan. Mereka sudah melihat jelas bagaimana kealpaan sikap legawa dan menerima kekalahan di diri seorang Prabowo. Sebaliknya, justru ketidakdewasaan—manja seperti anak kecil—lah yang ia tampilkan ke hadapan publik.

Hingga tak cuma akun abal-abal, para selebtwit pun turut menghakiminya. Mereka ramaikan dengan nada penyesalan. Mereka tampak marah melihat Prabowo yang tak mampu mengondusifkan suasana, terutama setelah KPU menetapkan Jokowi-Ma’ruf sebagai pemeroleh suara terbanyak di Pilpres 2019.


“Melihat kekacauan malam ini (22 Mei), kita wajib bersyukur, Indonesia tidak pernah sudi memilih Prabowo sebagai Presiden. Allah menyayangi negeri ini,” kicau Eko Kuntadhi.

Denny Siregar juga ikut menimpali. Ia ingatkan Prabowo bahwa tuhan sayang Indonesia. Makanya ia tidak akan pernah menjadi pemimpin di negeri ini.

“Kebayang jika sekali saja bapak diberi kesempatan, negeri ini akan berada pada masa kegelapan. Radikalis akan jadi pasukan. Preman akan jadi senjata. Semua itu hanya demi kekuasaan.”

Benar juga, terlebih melihat respons Prabowo atas hasil Pilpres 2019 yang sudah terlalu memuakkan. Inilah yang mengingatkan saya pada tindakan brutal Daenerys Targaryen di Ibu Kota Westeros, King’s Landing, sampai harus menyebut Prabowo adalah penjelmaan darinya di Indonesia.

Artikel Terkait