Mahasiswa
4 minggu lalu · 1046 view · 4 menit baca · Budaya 20484_85011.jpg

Siapa yang Sesungguhnya Terkena Azab?

Rahasia Ilahi, Hidayah, Azab, dan judul-judul sinetron religi teranyar lainnya kerap kita tonton ketika tak sengaja memijat-mijat tombol remot televisi. Kadang kala pula kita secara kebetulan melihat cuplikan adegan-adegan miris dari tayangan tersebut yang dibingkai secara apik dan jenaka dalam format meme.

Pelbagai akhir tragis dari tokoh supra-antagonis dalam serial berbau religi itu tersaji tiap kali kita menatap layar kaca, diiringi lagu bertema religi yang penyentuh sanubari namun menyayat hati.

Dari mulai jenazah masuk pengaduk semen, tersambar petir, tertimpa pohon, dikejar kerbau, tertimpa meteor, tergencet panggung dangdut, dicabik hewan buas, terbelit akar pohon, terjepit tanah kuburan, ditabrak bemo, dikejar tabung gas elpiji, digoreng dadakan bersama tahu bulat, dan pelbagai tema-tema seram lainnya yang membuat bulu roma meremang.

Namun, apabila kita telisik lebih jauh, kita amati layar kaca kita dengan saksama, sesungguhnya jasad malang yang menjadi bahan permainan takdir itu tentu tidak lagi bernyawa. Darahnya tak lagi mengalir, jantungnya tak lagi berdegup, dan kaki tak sanggup lagi untuk melangkah. 

Maka tentu jasad itu, secara medis, tak akan mampu merasakan fenomena dahsyat yang sedang mempermainkan dirinya laksana sekeping biji pipih di atas papan karambol. Siapa yang menanggung derita atas takdir yang menanti jenazah? Justru para pengiring, pelayat, dan mereka yang bertugas menguburkan jenazah.

Merekalah yang bermandi peluh, berkotor ria, dan merasa sesak di dada akibat sulitnya memakamkan jenazah. Azab yang silih berganti dan tak kunjungnya menemukan liang lahat yang dapat menampung almarhum/almarhumah agar dapat beristirahat dengan tenang, membuat mereka tak hanya jemu, bahkan mungkin mengalami Kristalisasi Kegeraman. 

Andai kata bukan karena kewajiban agama atau sosial, dan kalau saja tak ada belas kasih serta empati di hati mereka kepada keluarga yang ditinggalkan, mungkin mereka akan lebih senang melempar saja jenazah laknat itu ke lubang menganga bersama sampah-sampah domestik. Lalu mereka dapat pulang ke rumah, guna bersantai serta bersenda gurau dengan orang-orang terkasih.

Baca Juga: Azab Kubur

Tapi mengapa? Asumsikan saja Allah ada, hadir, dan eksis (bagi yang tak mempercayaiNYA). Bukankah hanya almarhum/almarhumah yang semasa hidupnya selalu bertindak keji, congkak, manipulatif, serakah, dan gemar menebar angkara murka serta menginjeksikan penderitaan kepada khalayak banyak?

Mungkin ada baiknya kita menilik hadis berikut ini:

Tidaklah suatu kaum yang di tengah-tengah mereka dilakukan kemaksiatan, sedang mereka mampu mencegahnya, tetapi tidak mau mencegahnya, melainkan Allah akan menimpakan azab secara merata kepada mereka.” (HR. Abu Dawud)

Seyogianya kita berkaca, apa usaha maksimal yang sudah kita upayakan guna mencegah manusia durjana itu muncul ke permukaan. Wabil khusus sebagai orang tua dan handai taulan, sudahkah kita mendidik anak kita dengan baik?

Kadang, sebagai orang tua, kita terlampau egois, hanya memikirkan apa yang menurut kita benar; jarang kita mau memikirkan dari sudut pandang anak kita. Boleh jadi kita juga abai terhadap kesehatan mental buah hati kita sendiri. 

Begitu juga sanak famili, sering kali kita bertandang ke rumah kerabat hanya untuk menikmati suguhan nikmat dan bersenda gurau. Kita abai bahwa ada anak yang menyendiri dalam bayang-bayang kelam di sudut ruangan. Sampai semua terlambat, ular yang melubangi hati darah daging kita kini telah bermetamorfosis menjadi naga bernafas api mendidih.

Masyarakat pun juga menanggung kesalahan serupa. Sering kali kita teralu cepat terpelatuk dan tersulut amarah. Daya upaya yang kita miliki, alih-alih dimanfaatkan untuk mereparasi, malah untuk menghakimi. 'Dia sudah tak bisa dinasihati', 'Dia Psikopat', "Jauh-jauhi dia, agar kita tak menjadi korban', 'Usir dia dari kampung kita, membawa sial', dan kalimat-kalimat bernada sumbang lainnya.

Adapun Pak Ustaz atau Mbah Yai yang selalu memimpin prosesi pemakaman sesungguhnya juga patut merasa sedikit menyesal. Kadang kala kewajiban mengajar mengaji dan memimpin komunitas keagamaan sangat menyita waktu dan perhatian. 

Tak disadari, di luar tembok masjid, ada bibit kejahatan yang tumbuh tanpa kita sadari.
Maka kegelapan yang bersarang di hati manusia itu makin pekat. Keputusaan yang menggelayuti jiwanya membuatnya makin tenggelam dalam pekatnya dosa. Hingga seiring berlalunya waktu, hanya nafsu dan kejahatan yang terpancar dari eksistensinya.

Penulis pribadi pernah ada dalam dua posisi serupa. Menghardik mereka yang jahat dan mengisolasi mereka dari pergaulan sosial. Mensyukuri nasib yang mereka terima sebagai bayaran atas penyimpangan moral yang mereka perbuat. 

Sampai penulis mendapat diri penulis terdampar pada posisi serupa, dibenci, tanpa sahabat, dan dirundung rasa sesal. Pintu pengampunan makin meluncur jauh menuju cakrawala. Penulis baru merasa, akhir yang memilukan seperti dalam tayangan religi itu tampak pantas penulis terima. 

Justru dalam titik nadir itulah penulis sadar, setiap kesalahan adalah pula kesalahan kolektif masyarakat; setiap dosa saling bertautan satu sama lain. 

Penulis bukan anggota masyarakat yang sempurna. Penulis kerap apatis dan acuh tak acuh ketika penulis mampu bertindak lebih. Maka, penulis pun melihat cahaya hidayah ketika penulis diberikan kesempatan oleh Ilahi Robbi untuk merasakan pahit getirnya sebagai orang yang dihakimi.


Maka, kendati judul dan jalan cerita dalam sinetron-sinetron religi tersebut terkesan hiperbolik, di luar nalar, menabrak Hukum Fisika, serta berpotensi menjadi lelucon jenaka, terdapat pesan moral yang sangat berharga yang dapat kita petik guna dijadikan elan vital untuk mendekonstruksi hati dan jiwa kita agar menjadi lebih baik dan positif.

Hendaknya, kita sebagai manusia harus memperhatikan manusia lain, asah kepekaan, anggap yang sepele bagi kita dapat berpengaruh besar bagi orang lain, ulurkan tangan bagi siapa pun, dan jangan cepat mengikuti panasnya kepala kita lalu lantas menyerah terhadap kesalahan orang lain sebagaimana Christian Griepenkerl, Direktur Sekolah Seni di Vienna, yang menyerah terhadap inkompetensi Adolf Hitler dalam membuat lukisan yang hangat dan penuh jiwa. Akhirnya, Hitler mengubah panorama Benua Biru menjadi semerah darah segar.

Semua yang penulis katakan ini, selain ditujukan untuk seluruh pembaca, juga terutama untuk diri penulis sendiri yang masih penuh dengan kekurangan serta kesalahan. Selamat menunaikan Ibadah Puasa. Semoga kita terus dibimbing olehNYA hingga hari kemenangan tiba.

Disclaimer: Tulisan ini adalah artikel pertama yang berhasil penulis buat sejak terkena Writer Block di tahun 2017.

Artikel Terkait