"Mantap, kak, terima kasih sudah mengapresiasi kerja kami sebagai penjaga warisan dan telah membantu menyosialisasikan pentingnya melestarikan warisan budaya seperti makam raja-raja kuno."

Begitu chat dari Ana, seorang sahabat yang sudah menjadi dosen Arkeologi Unhas, ketika aku membagikan tulisanku. Tulisan tentang "Sehari Manjadi Arkeolog" yang publish di Qureta, kemarin, 16 Juli 2020.

Walau di tulisan itu aku salah. Aku salah menuliskan wilayah kerja bapak Yusuf Naim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Barat yang mencakup Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara (yang terakhir kutulis Utara). 

Namun, Ana tetap mengapresiasi tulisan itu dengan kata-kata di atas; terima kasih sudah mengapresiasi kerja kami (arkeolog) sebagai penjaga warisan dan membantu menyosialisasikan warisan budaya seperti makam kuno.

Rasanya aku ingin menangis; siapa (lagi) yang mau menjaga warisan budaya bangsa ini? Apakah itu hanya tugas para arkeolog? Dan orang-orang yang bekerja di balai pelestarian cagar budaya, atau mereka yang bekerja di museum yang menjaga barang-barang, peninggalan leluhur? Lalu kita apa, cuma bisa cuek dan diam saja?

Makam Imanang

Kemarin, aku dan Ana bertemu lagi di Majene, Sulawesi Barat. Kali ini, ia mengambil lagi sampel lumut yang tumbuh di makam Raja-raja Hadat Banggae Mandar, Ondongan.

Kemudian, ia juga akan mengambil dokumentasi makam Imanang, di Teppo, Majene. Sebelum kami akan pergi menemui narasumber untuk wawancara tentang Majapahit, "Manjopai".

Dari makam Ondongan ke Imanang hanya berjarak kurang lebih tiga kilo meter (3km). Kami ke sana ditemani pak Idham, Koordinator juru pelihara Kompleks Makam Raja-raja Hadat Banggae Mandar di Ondongan.

Makam Imanang terletak di atas bukit. Makam ini terlihat lebih kuno dengan batu-batu nisan yang terlihat lebih besar dari makam tua pada umumnya. Ada yang setinggi manusia, padahal bukan makam yang memiliki undakan-undakan, yang bersusun seperti tanga-tangga. 

Namun, sangat disayangkan. Jumlah makamnya banyak tapi terlihat tidak rapi dan teratur. Mungkin karena hujan, atau longsor (erosi tanah) banyak batu-batu pelengkap makam seperti mahkota dan keris khas makam orang Mandar yang hilang, dan bergeser dari tempatnya.

Kemudian, Ana bercerita; ada suatu kompleks makam. Makam itu juga mengalami masalah "perpindahan ragam hias" di areanya.

Biasanya penjaga makam, atau juru pelihara terkadang mencocoklogikan aksesoris makam yang bukan pasangannya dan tempatnya. Seperti mahkota dan keris pada tempat yang berbeda dari konsep awalnya. Padahal itu semua ada aturannya. 

Kata Ana (lagi), di makam Imanang ini terlihat "perpindahan" ragam hias dan makam itu sendiri. Ini bisa jadi terjadi karena zaman dulu, ada pembuatan jalanan. Sehingga, mungkin pelengkap-pelengkap makam ini tidak pada tempatnya. 

Kami memang melihat jika makam ditandai dengan kompleks makam yang terbagi dua, terbelah, ada yang di atas bukit dan ada yang di bawah bukit. Ditengah-tengahnya ada jalanan beraspal. 

Ketika kutanya, apa arti Imanang? Karena makam kuno ini bernama Imanang. Ana menjawab, jika di Mandar ada istilah Tamanang, yang maknanya; tidak punya anak, keturunan. Diceritakan, jika dulu salah seorang bangsawan yang tidak memiliki keturunan dimakamkan di tempat ini. 

Dari makam Imanang di atas ketinggian bukit, kami melihat turun ke bawah. Ada aktifitas orang-orang yang membuat parang, pisau khas Sulawesi  secara tradisional. 

Kampung ini memang terkenal dengan masyarakatnya yang turun-temurun membuat alat-alat semacam pisau, keris, dan lain sebagainya.  

Rumah Baca dan Museum Naskah I Manggewilu

Kami kemudian ke Rumah Baca dan Museum Naskah I Manggewilu. Namun, pemilik museum lagi tidak di tempat. Padahal, kami sedang mencari data. Kami pun bergeser. Kami  ingin ke desa Pambusuang, Polewali Mandar menemui pegiat literasi tetapi ia juga sedang pergi melayat. 

Sebenarnya, kami juga menunggu telpon dari seorang tokoh budaya di Mandar. Tapi, sepertinya, belum bisa ditemui karena ada kegiatan hari itu. 

Akhirnya, kami lebih cepat pulang dari kota Majene menuju Polewali Mandar. Ana dan suami pun singgah di makam dan rumah kakekku. Sebelum ia pulang ke kota Polewali. 

Malamnya, ketika senggang kusempatkan diri mengunggah foto-foto ketika bersama teman arkeolog ini di Instagram (IG). Foto-foto ketika berziarah di makam Imanang, melihat pembuatan parang, dan ke museum naskah.

Ada Apa di Adolang?

Besoknya, aku melihat di Ig beberapa teman menyukai unggahanku dan ada sebuah pesan yang mengajakku jalan-jalan ke Adolang. Katanya, di Adolang, Majene, ada situs makam kuno.

Pesan itu dari Didi, teman dari asrama Majene di jogjakarta yang kini bermukim di Kalimantan dengan istrinya. Ah, lamanya kami tidak pernah bertemu sejak selesai kuliah di Jogja. Kini bertemu hanya di media sosial (medsos). 

Aku jadi "double suprice", pertama, karena kami baru bertemu di medsos lagi, dan kedua, ia mengajakku ke Adolang. Ketika mendengar kata Adolang, atau banua Adolang (diartikan sebagai kampung atau negara Adolang) adalah suatu kampung yang unik yang berada diatas gunung. 

Apalagi ada situs makam kunonya. Aku yang bukan arkeolog sangat tertarik. Aku sangat excited. Aku senang sekali. Sampai-sampai kakaknya Didi, Ocha menelponku. 

Ocha membahas banyak hal tentang Adolang padaku. Aku sangat tertarik. Namun, Ana, sang arkeolog yang kuhubungi sedang rapat daring dan belum menjawab pesanku di WA. Semoga saja ia meresponnya dengan segera. 

Adolang, aku ingin segera ke sana melihatmu, menjaga warisan leluhurmu. Walaupun aku bukan arkeolog, aku ingin menjaga warisan bangsa Indonesia.