Semalam, seorang senior di grup WhatsApp mengunggah berita tentang jubir baru Covid-19. Judulnya, "Ditunjuk jadi Jubir Covid-19, Ini Profil Reisa Broto Asmoro". Kemudian ditambahkan dengan kalimat dengan redaksi yang kurang lebih seperti ini;

Diakui atau tidak, asumsi bahwa jenis-jenis pekerjaan tertentu mensyaratkan, penampilan menarik. Ini sebetulnya sangat dikriminatif! Tampaknya masih lazim di tengah kita. Karena asumsi itu, kompetensi kerap jadi nomor dua. Tak heran, pramugari, presenter TV, dan teller bank kita banyak yang berpenampilan menarik, tapi kadang kompetensinya kelas dua.

Tugas jubir covid-19 adalah mengedukasi dan mengomunikasikan masalah wabah yang kompleks supaya bisa dimengerti dengan mudah oleh publik. Keahlian (Expertise) menjadi keharusan. Ketika mendengar jubir Covid-19 yang baru, saya tak habis pikir, ke mana para pakar kompeten dan bisa melakukan komunikasi efektif?

Lalu, unggahan tadi dikomentari oleh anggota lain di grup;

… juru bicara yang baru itu lebih berani daripada pak Yuri. Dia berani bicara di depan publik mewakili semua orang yang merasa bertanggung jawab mengurusi korona, tanpa mengenakan masker! Berangkali dia punya keyakinan bahwa korona tak akan tega menyakiti orang yang cantik jelita.

Dan ada komentar lainnya; judulnya, ketika kerupawanan menjadi berkah.

Namun, ujung-ujungnya si senior yang mengunggah berita tadi berujar; kalau orang cantik tak bisa salah, yang kelewatan yang menunjuk.

Lho? Ini apa maksudnya? Kenapa “nuansanya” sangat patriarki sekali? Dan memang dari namanya yang mengomentari ini, sepengetahuan saya, terlihat semuanya adalah makhluk laki-laki. Mengapa jika seorang dokter perempuan dan cantik yang menjadi jubir Covid-19? Penempatan dokter jadi jubir sudah tepat kok, dr. Reisa bukan dokter yang ecek-ecek juga.

Wacana mereka "sangat misogini", tidak mencerminkan kaum intelektual, padahal grup ini merupakan grup dari kampus terkenal di Yogyakarta, dan kami di grup ini berasal dari jurusan kampus yang tidak main-main.

Lagi pula jurusan kami ini mempunyai mata kuliah “Religion and Gender”, apa mereka yang mengomentari tadi tidak mengambil mata kuliah ini ya? Atau mereka mempelajari mata kuliah ini tapi tidak meresapi makna “gender” itu sendiri? Seingatku, dulu ketika aku mengambil mata kuliah pilihan ini, memang hanya ada dosen perempuan dari Amerika dan mahasiswi saja yang mengambilnya.

Kembali ke unggahan tadi. Aku baru saja membaca unggahan tentang juru bicara (jubir) ini baik-baik tadi pagi. Karena sudah banyak unggahan selain ini. 

Apa yang salah dr. Reisa Broto Asmoro yang cantik, pintar, dan ditugasi menjadi juru bicara Tim Komunikasi Gugus Tugas Penanganan Covid-19? Apa karena dia cantik? Bukan karena dia pintar dan mengerti tugasnya?

Perempuan Bisa!

Sebelumnya, mari kita melihat profil Reisa si jubir Covid-19 ini terlebih dahulu. Reisa Broto Asmoro lahir dengan nama Reisa Kartikasari di Malang, 28 Desember 1985. Ia merupakan dokter sekaligus juga Puteri Indonesia Lingkungan dan Puteri Indonesia 2010.

Saat itu, ia merupakan Puteri Indonesia perwakilan dari Yogyakarta. Ia pun mewakili Indonesia di kontes Miss Internasional 2011. Dalam ajang ini, ia mengusung isu tentang perdamaian dunia serta kebudayaan Indonesia.

Ia menempuh pendidikan kedokterannya di Universitas Pelita Harapan dan Universitas Indonesia. Sebelumnya, ia memulai karier di dunia hiburan sejak masih di bangku SMA. Ia adalah peserta Gadis Sampul, model di Look Models Agency, serta membintangi iklan di Indonesia dan Asia.

Setelah lulus kuliah, ia bekerja di RS. Polri Raden Said Soekanto Kramat jati, ia banyak berkecimpung di dunia forensik. Bahkan menjadi salah satu anggota DVI (Dissaster Victim Identification) yang salah satunya terlibat dalam proses investigasi korban Sukhoi dan beberapa bom terorisme di Jakarta (Bisnis.com).

Wah, keren sekali dr. Reisa ini. Ia sudah cantik, pintar, dan multitalenta, menginspirasi sekali. Ia punya banyak kualitas-kualitas yang tidak perlu diragukan lagi. Aku ingat, aku pernah melihatnya ketika mengikuti pemilihan Puteri Indonesia di televisi, dan ketika menjadi host di acara Dr. Oz di salah satu stasiun televisi swasta.

Mengapa Reisa bisa jadi jubir Covid-19? Menurut Pak Achmad Yurianto, jubir Covid-19 mengatakan bahwa Reisa selama ini aktif terlibat dalam pencegahan COVID-19, sekaligus bagian dari tim komunikasi publik anggota gugus tugas Nasional penanganan COVID-19. 

Tak salah dia ditunjuk sebagai jubir COVID-19. Atau salah kalau dia cantik? Pekerjaannya adalah dokter sekaligus artis, model, dan Puteri Indonesia 2010?

Saya sampai menulis status di WA, dengan kalimat seperti berikut; 

"Mereka lagi ramai membicarakan dr. Reisa yang “cantik” jadi jubir Covid-19. Loh, apa yang salah? Dia cantik, pintar, dan mengerti tugasnya."

Ais, temanku yang menanggapi posting itu bilang; mereka terjebak pada wilayah komodifikasi tubuh perempuan oleh media massa. Entahlah, kalau dari media massa, mereka adalah orang-orang hebat, akademisi. Dan Queen temanku bilang, Ah, mungkin tidak ada lelaki feminis sempurna kecuali beliau, Faqih (Dr. Mansour Faqih).

Lalu ada pertanyaan dari "mereka", "Masalahnya, kenapa tidak memakai masker?” karena dr. Reisa melepas maskernya ketika berbicara.

Jawabku; dia harus melepas memakai masker, agar suaranya jelas.

Padahal, apa yang salah juga ketika Reisa melepas maskernya ketika berbicara? Dia pasti tahu guna, manfaat, dan pentingnya memakai masker. Bukan karena dia mau memperlihatkan wajah cantiknya, kenapa juga kalau dia memperlihatkannya.

Terakhir, saya setuju dengan Ellen Pao, seorang investor Tehnologi, Diversity Advocate. Ia pernah menggugat atasannya di Silicon Valley atas diskriminasi gender. Ia membawa perlakuan bidang tehnologi terhadap perempuan ke pengadilan (namun) juri tak sependapat. Kini, ia menjalankan Project Include, organisasi nirlaba yang mendorong penyertaan dan keragaman. 

Ketika ia ditanya tantangan terpenting apa yang dihadapi oleh perempuan masa kini? Jawabnya; “Diperlakukan secara adil, berdasarkan kemampuan untuk berkontribusi, berdasarkan keterampilan. Diterima secara setara.”

Yah, tantangan perempuan untuk diterima secara setara sejak dulu, hingga kini, dan mungkin juga nanti merupakan suatu kerja yang amat sangat keras sekali banget.